
Malam ini Maura tampak tidak tenang, ia berguling di kasur empuknya. Pikirannya tampak berlarian memikirkan Dave dan Valerie yang jauh di Paris sana.
"Valerie aku merindukanmu!" Gumam Maura, ia kemudian menatap langit-langit kamar.
Tiba-tiba terlintas wajah Dave yang sedang menahan amarah ketika di Danau Annecy. Ingin rasanya saat itu Maura menghambur memeluk Dave, namun ia urungkan saat melihat ekspresi kebencian dari sorot mata pria itu.
Maura bangkit dari tidurnya, ia kemudian duduk memeluk lututnya. Kemudian tangannya beralih meraba kalung yang menghiasi lehernya itu. Ia kemudian melepas kalung itu, jemarinya mengelus liontin itu dengan tatapan sendu.
"Katakanlah Dave apa yang harus aku lakukan agar kau melepaskan ku. Apapun akan kulakukan asal bukan menikah," gumam Maura seraya tangannya menggerak-gerakan kalung itu. Satu bulan lagi Maura akan menggelar wisudanya, tentunya bukan pernikahan yang ia harapkan di waktu dekat ini. Ia berharap bisa mewujudkan cita-citanya. Menjadi seorang pebisnis yang sukses, dan menjadi wanita karier. Memutuskan darah orang tuanya sebagai orang hukum.
Suara ketukan pintu membuat Maura terperanjat, ia melihat ibunya, Sophie membuka pintu. Tangannya membawa segelas susu hangat.
"Mom, kau mengagetkanku!" Maura memegang dadanya.
"Maaf mengagetkanmu, sayang. Mommy membawakan susu hangat untukmu," Sophie duduk di tepi ranjang dan menyimpan segelas susu di atas nakas.
"Mom, apa Mommy sudah tahu kantor Daddy kebakaran?" Tanya Maura, ia mendudukkan dirinya di samping ibunya.
"Iya, Nak. Mommy sudah tahu. Kata Daddy mu itu akibat korsleting listrik. Mommy juga punya kabar buruk lagi."
Maura segera memandang wajah ibunya dengan ekspresi bertanya-tanya, ia begitu takut saat mendengarkan kabar buruk itu. "Kabar buruk apa, Mom?"
Sophie menghela nafas, tatapannya sendu "Tuan Albert berhenti membiayai perawatan Razel."
"Bagaimana bisa begitu, Mom? Mereka kan harus bertanggung jawab, Mom," ucap Maura tidak terima, ia merasa emosi saat mendengar kabar buruk ini.
__ADS_1
"Entahlah, Nak. Sepertinya Keluarga Abellard marah sekali padamu. Paman Eric dan Bibi Esme begitu bingung dari mana biaya perawatan Razel, sedangkan untuk operasi donor mata saja membutuhkan biaya yang sangat besar."
Maura mengepalkan tangannya geram, ia teringat dengan ancaman Dave. Apakah Dave benar-benar membuktikan semua ancamannya?
"Apa ini berhubungan dengan ancaman Dave?" Maura bertanya kepada dirinya sendiri.
Sophie memperhatikan anaknya, keningnya berkerut heran "Ancaman? Ancaman apa, Nak?"
"Dua hari yang lalu Dave menemui Maura, Mom. Dia memaksa Maura untuk menikah dengannya. Jika Maura tidak mau, Dave akan menghancurkan orang terdekat Maura," suara Maura begitu bergetar, ia menangis di hadapan ibunya.
"Maura rasa dia benar-benar membuktikan ancamannya, Mom. Mobil Grandfa rusak parah, ada orang yang memecahkan kaca mobil di semua bagian. Lalu, kantor pribadi Daddy kebakaran dan sekarang Razel. Maura takut, Mom!" Maura terisak, Sophie segera memeluk Putri kesayangannya itu. Kekhawatirannya makin menjadi. Tapi Sophie pun bingung harus melakukan apa. Jika dia bercerita pada suaminya, Jaksa Leo, tentu Jaksa Leo akan memperpanjang kasus ini dan tentu saja semuanya akan bertambah rumit.
"Apa kau mencintai Dave, Nak?" Sophie membelai rambut Maura dengan penuh kasih sayang.
"Maura tidak tahu, Mom, yang jelas Maura takut dengan Dave yang sekarang. Dia berbeda dengan Dave yang Maura kenal sebelumnya."
Maura semakin mengencangkan tangisnya, ia begitu menyesali semuanya. Apalagi saat mendengar berita buruk mengenai Razel.
"Benar kata Mommy, aku harus menemui Dave."
****
Maura tampak menunggu Dave di sekitar Danau Annecy. Semalam Maura memutuskan mengirimkan pesan singkat kepada pria itu, Maura mengajaknya untuk bertemu siang ini. Dave pun segera membatalkan semua janji meeting dengan kliennya, ia segera membeli tiket pesawat untuk terbang ke Perancis bagian tenggara itu.
"Ada apa kau mau bertemu denganku?" Dave yang baru saja datang langsung menghampiri Maura dan bertanya dengan nada yang ketus.
__ADS_1
Maura memperhatikan wajah Dave, wajahnya dingin dan tanpa ekspresi. Tidak ada senyuman sedikit pun yang ia tunjukan dihadapan Maura. "Aku ingin berbicara denganmu, duduklah!"
Dave segera mendudukkan dirinya di kursi, tepat menghadap Maura. "Apa kau sudah setuju untuk menikah denganku?"
"Dave tolong maafkan aku! Aku memang salah. Tapi di hatiku tidak ada niat untuk mempermainkanmu," ucap Maura dengan sendu.
"Cih!! Tidak ada niat? Tapi kau sudah mempermainkanku. Dan aku sudah terjebak dengan permainanmu."
Maura memegang tangan Dave, Dave segera melepaskan genggaman tangan Maura. Ia menjauhkan tangannya dari jangkauan gadis itu. Entah mengapa hati Maura merasa begitu terluka saat Dave memperlakukannya seperti ini.
"Aku akan melakukan semua permintaanmu, kecuali menikah. Aku belum ingin menikah, Dave," kata Maura, suaranya terdengar bergetar tapi sekuat tenaga Maura menahan tangisnya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Dave.
"Kau hanya mempunyai dua pilihan. Kau menikah denganku atau ku hancurkan semua orang terdekatmu!!"
Maura terisak, ia begitu tidak mengenali pria yang ada di hadapannya. Dave merasa tidak tega melihat pemandangan yang menyakiti matanya, ia melihat Maura menangis. Ingin tangannya menghapus air mata itu, namun sebagian hatinya yang lain menolak. Ia harus tidak peduli lagi dengan Maura.
Dave segera bangkit dari duduknya, ia berjalan menjauhi Maura.
"Dave!!!" Seru Maura di sela tangisnya.
"Aku mau menikah denganmu, tapi kau tidak boleh mengganggu Razel dan keluargaku."
Dave memutar tubuhnya, ia menghampiri Maura. Tangannya mengelus pipi Maura yang kemerah-merahan.
"Good girl!!" Sahutnya diiringi senyumnya yang tampak menakutkan.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...