
“Kenapa ha? Kenapa??” Fabian menatap Nesya dengan tatapan yang susah diartikan, jelas dia kecewa saat mengetahui jika sahabatnya hamil yang ia pikir masih lajang. Harapannya untuk menjadi pasangan Nesya seketika sirna.
“A-aku..” Nesya tak mampu melanjutkan ucapannya, gadis itu masih terus menangis. Dia bingung antara harus senang atau sedih.
“Ceritakan semuanya, bukankah kita sahabat?” pemuda itu mulai bisa mengendalikan egonya, besar rasa kecewanya namun tak bisa mengalahkan rasa cinta yang sudah tertanam rapi di hatinya pada gadis cantik itu, Fabian merengkuh tubuh mungil yang sedang rapuh tersebut, mendekapnya dalam kenyamanan, membiarkan calon ibu muda itu menumpahkan kesedihannya.
Dengan berderai air mata, Nesya menceritakan semuanya, sebuah untaian kalimat yang di dalamnya mengandung makna yang mendalam, menggambarkan betapa tertekannya Nesya selama ini. Isak tangis yang terdengar memilukan, bagaikan ribuan panah yang menghujam tubuhnya, rasanya sudah tak mampu lagi menjalani hari kedepannya.
“Dimana salahku? Katakan, Bian!!” teriak Nesya, masih sesenggukan bahkan sampai kesulitan bernafas, gadis itu mengguncang bahu Fabian.
Sementara lelaki itu, dia masih terpaku karena cerita Nesya, rupanya dia salah menduga, gadis pujaan hatinya ternyata telah terikat dengan seorang laki-laki dalam sebuah pernikahan, lebih tepatnya pernikahan paksa. Sesaat kemudian, dia tersadar saat Nesya sudah tidak berada di sana.
Berjalan tak tentu arah, sesekali mengelus perutnya yang terasa lapar, langkah kakinya membawa pada sebuah rumah bercat putih dengan luas tak terkira, Nesya tersenyum getir, matanya memicing melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya. Saat hendak memasuki rumah megah itu, lagi-lagi dia harus menelan pil pahit melihat suaminya memeluk seorang perempuan yang Nesya tahu pernah menjalin asmara dengan Fariz.
__ADS_1
Dadanya bergemuruh, ingin rasanya dia protes dengan takdir yang seakan tak pernah bosan mempermainkannya, menganggap bahwa hari ini adalah hari sial. Berbagai macam peristiwa tak terduga telah terjadi hanya dalam waktu satu hari. Kini Nesya benar-benar kehilangan harapan, makin besarlah kebencian yang tertuju pada Fariz. Rupanya sekelumit rasa cintanya tak mampu menumpas kebencian serta dendam yang sudah menggelora.
Tak ingin ketahuan, Nesya pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan berkecamuk. Berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, gadis itu tidak mau kepergiannya diketahui oleh Fariz. Kali ini dia tidak main-main, sudah cukup baginya memberi Fariz kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi nyatanya itu sia-sia. Kesabaran Nesya pun sudah habis, dia manusia biasa, memang tak sempurna tapi tidak sepatutnya diperlakukan semena-mena.
“Aku lapar, tapi aku tidak membawa uang sepeser pun..” gadis itu menekuk wajahnya, dia memilih berteduh di bawah pohon besar lantaran merasa letih karena berjalan cukup jauh.
“Makanlah..” sebuah tangan tampak menyodorkan makanan pada Nesya.
Nesya mendongak, netranya melotot tak percaya, melihat anak buah suaminya dengan wajah menyebalkannya itu menatapnya dongkol.
“Kamu itu apa sih, kok ada di mana-mana!”
“Manusia,” jawab Radit dengan singkat, padat, dan jelas.
__ADS_1
“Huwaaa..” entah kena angin apa, Nesya menangis kencang membuat mereka menjadi pusat perhatian. Dirinya kesal karena harus berjalan sejauh mungkin, tapi lelaki jomblo sejati itu dengan gampangnya menemukannya.
Tidak ingin memicu hal-hal yang tak diinginkan, Radit mengangkat istri dari Alfarizki tersebut. Membawanya ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya, namun seketika dia mengerem mendadak saat Nesya meminta sesuatu yang mustahil jika dia melakukannya.
Like
Komen
__ADS_1