
Hari ini adalah hari yang ditunggu Maura. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari kelulusannya. Maura akan mengikuti wisuda Universitas Paris Di derot. Maura sedang berdandan dengan make-up Flawless. Setelah selesai berdandan, Maura segera mengambil tasnya untuk berangkat.
"Maura kau mau ke mana?" Tanya Dave yang baru keluar dari dapur.
"Hari ini adalah hari wisudaku, kau akan mengantarkanku kan?" Maura bertanya dengan antusias.
Dave melirik jam tangannya, "Aku tidak bisa, hari ini aku ada meeting dengan clien. Kau mendadak memberitahuku."
Senyum Maura tampak memudar, hatinya begitu kecewa saat Dave tidak akan menghadiri wisudanya. Sebenarnya Dave sudah tahu dari minggu lalu, karena Valerie memberitahunya. Rencananya Dave akan menghadiri wisuda Valerie dan memberikannya banyak hadiah, agar Maura melihatnya. Tentu saja tujuannya adalah membuat Maura bersedih.
Tiba-tiba ponsel Maura berbunyi, ia segera mengangkat panggilan dari ayahnya.
"Hallo Daddy? Apa? Grandpa kecelakaan? Lalu bagaimana kondisi Grandpa? Tidak apa-apa. Daddy dan Mommy menjaga Grandpa ya jangan memikirkan Maura! Maura ada Dave kok yang mendampingi," Maura tersenyum dengan getir.
Setelah pembicaraan yang sangat panjang, Maura menutup ponselnya. Maura begitu sedih saat mendengar kabar Richard, kakeknya mengalami kecelakaan. Beruntung kecelakaannya tidak fatal. Tadi Maura berkata jika ia akan menyusul orang tuanya ke Kota Annecy tapi Jaksa Leo mencegahnya. Bagaimanpun hari ini adalah hari wisuda putrinya. Jaksa Leo dan Sophie merasa sedih saat tidak bisa menghadiri wisuda putri semata wayangnya. Namun, mereka juga merasa lega saat mendengar wisuda Maura ditemani oleh Dave.
"Grandpa kenapa?" Tanya Dave yang dari tadi mendengarkan percakapan istrinya via Telfon.
"Grandpa kecelakaan," gumam Maura dengan sendu.
"Lalu bagaimana kondisinya?"
"Lumayan parah, tapi tidak fatal kok. Yasudah aku berangkat dulu!" Pamit Maura dengan berjalan lesu.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Dave, Maura berjalan meninggalkan apartemen. Dave melihat punggung Maura dengan sedikit iba. Namun hatinya tidak boleh luluh saja dengan Maura, ia tidak boleh terkecoh ke dua kalinya dengan keluguan gadis itu.
Maura berangkat dengan menggunakan taksi, setelah 30 menit akhirnya ia sampai di Universitas Paris. Maura mendudukan dirinya di kursi khusus wisudawan wisudawati yang telah disediakan di Aula universitas. Semua teman-temannya tampak digandeng oleh ke dua orang tuanya, Maura melihat mereka dengan tatapan sedih. Ia merasa begitu asing.
"Kau jangan cengeng Maura, Kau harus terbiasa seperti ini!" Maura menguatkan dirinya sendiri.
"Maura?" Panggil seseorang dengan suara yang sangat cempreng. Maura menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Valerie yang baru saja datang didampingi oleh orang tuanya, Elline dan Albert.
"Val?" Maura segera menghampiri mereka, dan memeluk sahabatnya itu.
"Paman dan bibi ke mana Maura?" Tanya Valerie, matanya mencari keberadaan Sophie dan Leo
Maura tersenyum tipis "Mommy dan Daddy tidak bisa hadir. Grandpa kecelakaan."
"Lalu, bagaimana kondisinya?" Elline ikut menyahuti ketika mendengar percakapan menantu dan putrinya.
Albert memandang Maura dengan tatapan tak ramah, ia ingat betul siapa yang menjebloskan anaknya ke penjara. Ia juga tak pernah lupa bagaimana besannya menjadi Jaksa Penuntut di persidangan Dave.
"Di mana Dave?" Albert menatap Maura dengan wajah tanpa ekspresi.
"Dave tidak bisa hadir. Katanya ada Meeting dengan client penting" Maura tersenyum ke arah Albert.
Valerie dan Elline mengernyitkan dahinya, mereka begitu tahu maksud Dave tidak hadir di wisuda Maura, karena semalam pun Dave menelfon Elline bahwa ia akan hadir di wisuda Valerie. Saat Elline membahas Maura, Dave mematikan telfonnya begitu saja. Elline dan Albert saling berpandangan, mereka merasa iba melihat Maura yang merasa asing dengan sekitarnya.
__ADS_1
"Kau duduk di dekat Valerie saja! Sesudah acara pemindahan tali toga kau bersama kami untuk berfoto," Elline menggandeng tangan menantunya menuju kursi yang sudah disediakan oleh pihak Universitas.
Valerie pun menggandeng Maura agar bisa duduk bersama, sedangkan Elline dan Albert duduk di kursi khusus pengantar yang disediakan oleh universitas.
Wisuda berjalan dengan lancar, tampak mahasiswa-mahasiswi menunggu giliran untuk maju ke depan. Maura dipanggil ke depan karena menjadi salah satu wisudawan yang mendapatkan IPK tertinggi di jurusan dan universitasnya. Maura mendapatkan hadiah dari rektor berupa selempang dengan tulisan "Cumlaude". Akan tetapi, kebahagiaannya terasa hambar, orang tua maupun suaminya tidak menyaksikan momen membanggakan itu.
Setelah selesai inti acara, mereka membubarkan diri untuk berfoto bersama keluarga di luar Aula. Tampak banyak sekali karangan bunga yang membanjiri halaman Aula universitas. Maura begitu sedih saat melihat semua mahasiswa di berikan bunga dan selempang oleh anggota keluarganya. Ia hanya berdiri sendirian ditengah Euforia itu. Tadi Maura duduk di dekat Valerie namun mereka berpisah saat Maura memberikan sedikit ucapan sebagai wisudawan terbaik.
Maura melihat Dave datang membawa bucket bunga yang begitu banyak, ia tersenyum sangat senang. Pasti Dave akan memberikannya kejutan, begitu pikirnya. Dave berjalan ke arah Maura, Maura tersenyum senang tangannya hendak menggapai bucket bunga itu, namun Dave melewatinya begitu saja. Maura menoleh ke belakang, ia melihat Dave memberikan semua bucket bunga itu kepada adiknya Valerie.
"Kak terima kasih," seru Valerie dengan girang.
"Ayo kita berikan bunga dan berfoto dengan Maura!" Ajak Valerie dengan sangat antusias, Valerie berjalan menuju Maura yang sedang berdiri seorang diri
Dave menahan tangan Valerie dengan sangat kuat, "Biarkan saja dia!"
"Kau jangan seperti itu, dia istrimu!" Albert memperingati. Walaupun hatinya merasa kecewa dengan Maura, namun Albert begitu iba pada gadis itu.
"Kak, Maura itu istrimu!" Valerie meninggikan suaranya dengan emosi.
"Biarkan saja dia!" Jawab Dave dingin dan tidak bersahabat.
Valerie menatap Maura dengan iba, sesaat gadis itu menatap Dave namun Maura membuang wajahnya. Hatinya merasa begitu terluka saat Dave memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
"Dave tidak ada celahkah dihatimu untukku lagi? Batin Maura dengan sendu.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...