
Rebecca datang ke toko bunga, ia tampak membeli buket bunga mawar merah.
"Tolong kirimkan pada alamat ini!" Becca memberikan alamat rumah Maura dan Dave.
"Aku turut senang untuk kelahiran bayi kalian. Aku sangat yakin kalian adalah orang tua yang sempurna. Aku berharap kalian selalu bahagia," pesan Becca yang diselipkan pada buket mawar itu.
Setelah membayar, Becca pun meninggalkan toko bunga. Sedangkan bunga yang ia pesan akan dikirimkan oleh kurir toko.
"Bagaimana? Sudah?" Tanya Roberto yang melihat Becca keluar dari toko bunga. Becca memang diantarkan oleh Roberto untuk membeli bunga.
"Ayo masuk!" Roberto membukakan pintu mobilnya.
"Apa bungaku akan mereka buang?" Rebecca menoleh ke arah Roberto yang duduk di sampingnya.
"Tidak. Aku yakin mereka bukan orang seperti itu. Mengapa kau tidak datang langsung?"
"Tidak. Aku tidak punya keberanian untuk itu. Lagi pula aku tidak ingin bersinggungan lagi dengan kehidupan Dave. Aku kira, akan lebih baik Maura tidak berteman denganku. Bagaimana pun aku adalah mantan kekasih suaminya," jelas Becca.
"Apa kau sudah melupakan Dave?" Tanya Roberto penuh keingintahuan.
"Aku rasa begitu. Aku tidak perlu memikirkan suami orang lain," Becca berkata dengan mantap.
"Baguslah. Mari kita mulai dari awal!" Senyum di wajah Roberto mengembang sempurna.
"Mulai dari awal? Maksudmu?" Pipi Rebecca merona merah.
"Tidak. Maksudku itu cafe tujuan kita sudah terlihat," jawab Roberto dengan gugup.
"Oh iya," Becca ikut grogi.
"Bukankah lebih baik membuka hatiku untuk orang yang baru?" Batin Becca sembari menatap Roberto yang melepas safety belt di tubuhnya. Mereka pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam cafe.
*****
3 bulan kemudian...
"Sayang, baju ini cocok tidak?" Maura memakai gaun berwarna dusty di depan suaminya yang sedang menggendong kedua anak kembar di tangannya.
"Bagus, sayang. Cepatlah, bantu aku! Tanganku pegal," keluh Dave yang sedang memangku kedua buah hati di tangan kiri dan kanannya.
"Sayang, sabar sebentar! Aku tidak ingin mempermalukanmu nanti di pernikahan Valerie. Ini tidak cocok," Maura membuka kembali lemari baju miliknya dan mengacak-ngacak lagi gaun miliknya.
"Huh," Dave menghembuskan nafasnya pelan. Sudah 5 kali Maura berganti gaun.
"Sayang, cepatlah! Tanganku kesemutan," pinta Dave tidak sabar.
"Ini bagus kan, sayang?" Maura memakai gaun berwarna peach.
__ADS_1
"Bagus, sayang!" Dave mengangguk dengan lemah.
"Baiklah, sayang. Aku pakai baju ini," Maura pun mendudukan dirinya di depan meja riasnya. Ia memoles wajahnya dengan make up flawless.
"Sayang, kau tidak di rias oleh MUA pilihan Daddy dan Mommy?" Tanya Dave dengan heran.
"Tidak, sayang. Nanti siapa yang memegang si kembar jika aku di rias di sana. Lebih baik di sini saja," Maura memakaikan lipstik pada bibirnya yang sudah berwarna pink alami.
"Sayang, giliranmu untuk berganti baju. Berikan Amanda padaku!" Maura mendekat dan mengambil Amanda dari lengan suaminya.
"Lalu, Audreen?" Dave menatap bayi laki-lakinya.
"Berikan pasa suster Ana," suruh Maura. Suster Ana adalah baby sitter di rumah Maura yang membantu Maura mengurus si kembar.
"Baiklah," Dave berjalan ke luar kamar.
"Sus, titip sebentar. Setelah aku bersiap, aku akan mengambil Audreen," Dave memberikan Audreen pada suster Ana.
"Baik, tuan."
Dave pun bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya dan berganti baju.
"Sayang, mengapa kau lama sekali?" Maura memanggil Dave.
"Sayang, ini baru 2 menit. Mengapa kau mengeluh? Tadi aku menunggumu lama sekali, aku bisa pergi dulu S3 atau travelling ke Afrika Selatan," guyon Dave yang membuat Maura langsung mencebikan bibirnya.
"Maafkan aku tadi lama membuatmu menunggu!" Mata Maura berkaca-kaca.
"Tidak, sayang. Tadi hanya sebentar. Tanganku sampai kesemutan," balas Dave lagi.
"Syukurlah, sayang. Kalau begitu cepatlah bersiap lagi. Nanti kita akan masuk ke dalam rombongan keluarga," ucap Maura dengan polos.
"Iya, sayang."
Setelab bersiap, Maura dan Dave pun berangkat ke kediaman keluarga Abellard. Di sana mereka berkumpul bersama keluarga lainnya.
"Cucu oma!" Eline mengambil Amanda dari pangkuan Maura.
"Audreen!!" Seru Sophie yang sudah ada di kediaman Abelard. Ia mengambil cucu laki-lakinya itu.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Albert yang sedang duduk di samping Leo.
"Iya. Valerie sudah berangkat lebih dulu karena pengantin wanita harus di rias di sana. Kita meminta supaya di rias di rumah," timpal Eline.
Mereka pun berangkat bersama ke hotel tempat di selenggarakannya pesta pernikahan Valerie dan juga Razel. Tampak ballroom hotel sudah di rias dengan sangat mewah dan estetik. Ini karena Valerie adalah putri bungsu dari Abelard.
Upacara pernikahan pun digelar, Razel dan Valerie sudah resmi menjadi suami istri. Khalayak yang hadir pun tampak ikut berbahagia melihat sepasang suami istri baru itu.
__ADS_1
"Terima kasih karena telah menemaniku dalam keadaan duka. Mari kita lalui hari kita dengan keadaan suka cita dan bahagia," ucap Razel. Ia pun mencium bibir wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Aku akan menemanimu dalam keadaan apapun. Vahkan dalam keadaan terberatmu," jawab Valerie saat Razel melepaskan ciumannya.
"Lihatlah mereka sangat serasi!" Maura tersenyum melihat adik iparnya bersama Razel yang tengah berdansa.
"Tapi lebih serasi kita," Dave mengambil tangan Maura dan menciumnya. Maura pun hanya tertawa melihat kelakuan suaminya.
Setelah resepsi pernikahan berlangsung, seluruh tamu pun membubarkan dirinya. Sementara pihak keluarga menginap di hotel tempat di selenggarakannya pesta.
Abelard memang membooking semua hotel untuk pernikahan putri bungsunya.
"Dave, Amanda dan Audreen sudah disusui?" Eline dan Sophie masuk ke dalam kamar Maura dan Dave.
"Sudah, Mom."
"Kami ambil ya?" Sophie dan Eline pun mengambil Amanda dan Audreen dan keluar dari kamar Dave.
"Sayang, jika mereka haus bagaimana?" Maura menatap pintu yang telah di tutup.
"Biar saja. Malam ini aku ingin berdua denganmu," Dave mengunci pintu dan memeluk Maura dari belakang.
"Ayo kita berdansa!" Dave melepaskan pelukannya. Ia pun menadahkan tangannya dan langsung disambut oleh Maura.
Maura melingkarkan tangannya di leher Dave sedangkan Dave menyentuh pinggang Maura dengan lembut.
"Sayang?" Lirih Dave seraya menatap wajah Maura dengan penuh cinta.
"Iya?"
"Kau bahagia menikah bersamaku?" Tanya Dave ingin tahu.
"Tentu saja. Aku sangat bahagia," Maura balas menatap suaminya dengan penuh kasih.
"Aku mencintaimu. Aku berjanji, akan selalu membahagiakanmu dan anak kita," Dave menyelipkan tambut Maura yang tergerai ke belakang telinganya.
"Aku juga mencintaimu, Dave," Maura memajukan wajahnya dan mencium lembut bibir suaminya.
"Kau mulai nakal ya?" Dave tersenyum.
"Aku belajar darimu wlee," Maura menjulurkan lidahnya hingga membuat Dave tambah gemas.
"Selamanya kita akan selalu begini. Mari kita besarkan anak kita dan menua bersama-sama!" bisik Dave.
Dave pun memangku tubuh Maura dan menghempaskan istri kecilnya itu ke atas kasur. Dave memajukan wajahnya dan Maura pun memejamkan kedua matanya. Mereka menikmati malam yang romantis ini dengan penuh kebahagiaan.
Dari author : Terima kasih kepada readers yang sudah membaca novel ini dari bab awal sampai akhir. Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan like, komentar, hadiah dan juga vote, tak lupa bintang 5 nya. Maaf bila novel ini banyak typo karena awalnya novel ini adalah novel dengan setting tempat Korea Selatan. Karena sulit untuk mengajukan kontrak, akhirnya author merombak besar-besaran novel ini. Setelah mengalami revisi besar-besaran, akhirnya hari ini novel Dave dan Maura sampai pada episode akhir. Author berharap dapat menghibur kalian dengan tulisan author. Sampai bertemu lagi setelah lebaran dengan judul novel baru. Minal Aidzin wal Fa Idzin ya. Mohon maaf apabila ada tulisan author yang kurang berkenan di hati kalian. Tanpa kalian, semua novel author bukanlah apa-apa. Salam hangat dari author untuk readers dan keluarga 🤗😘😘
__ADS_1