Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Efek Menonton Film


__ADS_3

Setelah dari pasar malam tadi, Dave dan Maura segera pulang ke apartemen mereka. Mereka memasuki kamar masing-masing dan mengganti pakaian mereka dengan piyama.


Malam ini Maura menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Ia masih teringat dengan Film horor tadi. Maura memandang jendela yang masih terbuka, Maura bergidik ngeri dan segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Maura?" Panggil Dave sambil membuka pintu kamar istrinya.


Maura tidak menyahut, ia masih merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.


"Kau selalu saja tidak pernah menyahut jika aku memanggilmu!" Dave tampak mengomel.


Melihat Maura yang tak bergeming, ia segera mendekati gadis itu dan membuka selimut yang membungkus tubuh istrinya.


"Hey Wanita, kau tidak apa-apa?" Dave mencoba memancing Maura untuk berbicara, namun dari nada bicaranya ia tampak khawatir.


"Tidak ada. Kau pergilah, Dave! Aku ingin tidur," jawab Maura dingin, ia kemudian menutupi tubuhnya lagi dengan selimut itu.


Dave menghela nafas, di saat sepert ini mengapa ego gadis itu sangat tinggi sekali? Dave tidak tahu jika Maura sedang ketakutan karena Film tadi. Kemudian Dave segera merebahkan tubuhnya dan tertidur di ranjang Maura.


"Dave, kau mau apa?" Maura segera mengambil posisi waspada, ia takut Dave berbuat yang tidak-tidak lagi padanya.


"Mulai malam ini aku akan tidur bersamamu!"


"Enak sekali kau! Setelah kau berhasil tidur bersama Rebecca, sekarang kau mengincarku. Dasar buaya!!" Seru Maura mencoba memancing Dave, ia sungguh ingin tahu apakah Dave benar pernah tidur dengan Rebecca kala itu.


"Mengapa kau sangat menyebalkan sekali? Padahal semua perempuan berharap tidur bersamaku!!"


Maura memutar kedua matanya, ia segera memunggungi Dave, "kau pergilah! Au tidak mau tidur dengan pria barang bekas."


Dave menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia segera keluar dari kamar Maura dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya merasa sakit saat Maura menolak kehadirannya, tanpa ia sadari Maura merasa kecewa dengan jawaban Dave. Apa itu artinya iya?


Dave merebahkan tubuhnya di kasur miliknya, ia berguling-guling mencari posisi tidur yang nyaman, namun matanya tak kunjung terpejam juga. Wajah Maura terus membayangi pikirannya. Ketika putus dengan Becca, Dave memang sempat hancur, akan tetapi selanjutnya Dave bisa melupakan Becca dengan mudah. Tapi dengan Maura? Mengapa rasanya berbeda sekali?

__ADS_1


Pikirannya berlarian ke sana-ke mari, ia mengingat dengan sangat jelas bagaimana ia menyibak handuk yang menutupi tubuh Maura sehingga Dave melihat dengan jelas tubuh polos gadis mungil itu. Mengapa dia menjadi deg-degan seperti ini?


"Kau gila Dave! Ingatlah dia menjebak dan mempermainkanmu!" Sanggah Dave dalam hatinya.


Dave mengambil bantal dan menutupi kepalanya dengan bantal itu. Namun pikirannya tidak bisa diajak kerja sama, ia terus memikirkan gadis itu.


Sementara itu Maura masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut, ia tidak tahan saat mengingat wajah hantu Hannah Grace, Maura segera berteriak-teriak memanggil suaminya.


Dave yang mendengar teriakan Maura segera bangkit dari tidurannya, ia berjalan menuju kamar Maura.


"Ada apa? Kau berubah pikiran ya untuk tidur denganku?" Tanya Dave dengan aura kemenangan di wajahnya.


"Tidak, temani dulu aku sampai tidur ya? Aku teringat film tadi."


Dave segera mendekati ranjang Maura, ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu dan membelakangi Maura. Dave mencoba memejamkan matanya.


"Dave, apa kau masih bangun?" Tangan Maura mencolek-colek bahu pria kekar itu.


"Jangan dulu tidur aku takut! Berbaliklah ke sini" Maura merengek dan menarik-narik tangan kiri Dave.


Dave memutarkan tubuhnya, hingga mereka saling berhadapan. Tatapan mereka bertaut, kesunyian menghinggapi keduanya. Hingga Maura memecah kesunyian itu. "Dave aku mau pipis, antarkan aku!"


"Kau seperti anak kecil saja. Aku tidak mau," Dave menyelimuti tubuhnya, namun Maura menarik-narik tangan suaminya. Dave pun terpaksa mengikuti Maura menuju kamar mandi.


"Ini semua gara-gara kau! Jika kita tadi tidak menonton Film itu. aku tidak akan parno begini," oceh Maura seraya berjalan menuju kamar mandinya.


"Kau saja yang terlalu penakut!!" Dave membela diri


Maura memasuki kamar mandi, ia kemudian menarik tangan Dave untuk ikut memasuki kamar mandi juga.


"Dave kau berbaliklah! Menghadap sana!"

__ADS_1


"Kenapa? padahal aku sudah melihat semuanya."


Maura merasa malu, ia segera melakukan ritualnya untuk buang air. setelah selesai mereka kembali ke tempat tidur, namun saat akan merebahkan tubuhnya, semua lampu mendadak mati.


"Dave!!!" Maura berteriak


"Kau diamlah di sini! Aku akan memeriksanya dulu. Siapa tahu ada konsleting," ucap Dave, ia kemudian menyalakan senter yang ada di Ponselnya.


Maura menarik tangan Dave, dan menggenggamnya dengan kuat. "Jangan, Dave! Mungkin mati lampu. Ayo kita tidur saja!"


Dave mengalah, ia pun membaringkan tubuhnya di samping Maura. "Ayo cepat tidurlah!"


Dave membelai rambut Maura, entah mengapa Maura merasa bahagia, jantungnya seperti menari-nari. Kini ia menyadari jika ia sudah mulai mencintai suaminya.


"Dave peluk aku!!" Titah Maura manja


"Kau cerewet sekali, tidurlah" Dave melingkarkan tangannya di perut Maura, maura segera menggeser tubuhnya agar semakin dekat dengan suaminya hingga tubuh mereka saling menempel. Dave merasa salah tingkah, kemudian ia tersenyum kecil.


Maura sudah terlihat tenang, sepertinya ia sudah tertidur. setengah jam kemudian lampu kembali menyala. Dave melihat wajah istrinya yang polos tanpa make-up sedang tertidur dengan damai, Dave mengelus pipi gadis mungil itu, ia begitu penasaran siapa laki-laki yang ada dalam hatinya kini.


"Mengapa dia cantik sekali jika tertidur?" Batin Dave seraya menatap dalam wajah istrinya.


Maura tampak menggeliat pelan, tangannya memeluk pinggang dave. Hati Davd merasa hangat saat Maura memeluknya, ia pun memeluk Maura dengan erat. Pikirannya mengatakan tidak boleh, namun ia ingin egois. Dave ingin mengingkari fikirannya dan mendengarkan isi hatinya.


Dave tampak nyaman saat Maura berada dalam pelukannya, gundah yang dirasakannya mendadak sirna tak berbekas.


"Apa pelukanmu tempat nyamanku Maura?" Gumam Dave.


Dave terus saja memperhatikan istrinya yang tertidur dengan damai, Matanya merasa berat hingga tanpa sadar ia pun sudah ikut ke alam mimpi.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2