
Maura membawa kunci mobil yang tergeletak di atas nakas, kemudian ia melajukan mobil yang dibelikan Dave untuknya. Dave sedang mencari supir pribadi untuk Maura, namun Dave belum merasa cocok dengan para pelamar. Ia ingin memperkerjakan supir yang jujur dan dapat melindungi Maura.
Kebetulan sekali stok makanan di kulkas sedang menipis, Maura memilih untuk pergi ke supermarket hari ini. Ia sengaja tidak meminta antar Dave, karena Dave sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali untuk menangani proyek bandara yang akan segera dibangun. Maura juga tidak menyuruh pelayan yang ada di rumahnya karena untuk hal makanan, Maura ingin menghandle semuanya sendiri.
Sekitar 20 menit, Maura sampai di supermarket terbesar di kota Paris. Maura segera mengambil troli dan Mulai berkeliling mencari barang yang ia butuhkan.
"Susu, keju, roti," Maura berbicara sendiri seraya mendorong troli miliknya.
Andai saja Dave menemaninya belanja, mungkin akan lebih menyenangkan. Tapi Maura harus mengerti bahwa suaminya adalah orang yang super sibuk.
Maura segera mengantri di area kassa saat barang yang ia cari sudah lengkap masuk ke troli belanjaannya. Antrian tidak terlalu panjang, karena hari ini adalah jam makan siang. Tentunya pengunjung lebih mementingkan mengisi perut mereka terlebih dahulu, dari pada mencari barang yang mereka inginkan di supermarket ini.
Maura melihat seorang perempuan yang mengantri di depannya, dari postur tubuhnya Maura seperti mengenali perempuan itu. Tapi apakah benar itu dia ?
Perempuan yang Maura lihat segera menyimpan barang belanjaannya di meja kassa, saat kasir sudah menghitung semua total produk, perempuan itu memberikan kartu debitnya. Namun saat kasir mencoba menggesek kartu itu, kartunya tidak bisa digunakan karena saldo tidak mencukupi.
"Maaf, Nona! Kartunya tidak bisa dipakai," ucap kasir itu dengan ramah.
"Benarkah? Sebelumnya bisa kok," jawab perempuan itu, dari suaranya Maura sudah bisa mengenali bahwa perempuan yang ada di depannya adalah Rebecca.
Becca seperti kebingungan dan tampak malu, karena antrian tersendat karenanya.
"Becca?" Panggil Maura, Becca menoleh ke arah Maura. Ia merasa terkejut melihat Maura ada di belakangnya. Harga dirinya seperti jatuh dari atas ketinggian dan hancur berkeping.
"Nona, bagaimana? Apa anda mempunyai kartu lain?" Tanya kasir itu kemudian.
__ADS_1
Rebecca tampak kebingungan, ia membuka dompetnya dan sibuk memilah-milah kartu. Maura segera mendekati Becca dan memberikan kartu debetnya ke arah kasir tanpa banyak bicara. Ia segera menuliskan pin di mesin pembayaran otomatis itu. Setelah semua selesai, Maura menyimpan barang belanjaannya di area kassa dan segera membayarnya.
"Nona Maura, terima kasih," ucap Becca yang menunggunya dengan senyum yang dipaksakan karena malu.
"Tidak apa-apa. Ayo kita minum cokelat hangat dulu!" Ajak Maura lembut.
Becca menggelengkan kepalanya, ia merasa sungkan dengan Maura terlebih karena Maura adalah istri dari Dave. Mantan kekasihnya dulu.
"Ayolah ikut aku!" Maura menarik tangan Rebecca menuju cafe yang terkenal dengan cokelatnya. Mereka segera mendudukan tubuh mereka di atas kursi dan memesan dua minuman cokelat Belgia hangat saat sudah sampai di cafe.
"Nona Maura, terima kasih kau sudah membantuku. Aku berjanji akan mengganti uangmu. Maafkanlah sikapku selama ini padamu!" Rebceca membuka percakapan antara dirinya dan Maura. Ia merasa canggung saat duduk berhadapan dengan Maura.
Maura tersenyum tipis, ia memandang Becca dengan ramah "tidak perlu, Nona. Lupakan saja!"
"Nona apa anda masih bekerja menjadi seorang aktris?" Tanya Maura dengan hati-hati, ia takut menyinggung gadis yang ada di depannya.
Becca menggelengkan kepalanya lemah, ia menutup matanya sebentar dan menghembuskan nafasnya ke udara. "Aku sudah ditendang dari dunia entertainment, bahkan sekarang aku pengangguran," Becca tersenyum getir.
"Sejak aku berhenti menjadi artis, keluarga dan temanku menjauhiku," lanjutnya lagi dengan senyum yang dipaksakan.
"Lalu dari mana anda mendapatkan penghasilan?" Jiwa keingintahuan Maura keluar dalam dirinya, ia sungguh ingin tahu tentang mantan kekasih suaminya itu.
"Selama ini Dave yang memberiku uang, asal aku mau menjadi kekasih pura-puranya di hadapanmu. Maafkan aku, Nona!" Becca memandang Maura dengan tidak enak hati.
Maura merasa terkejut dengan pengakuan Becca, Dave memang selalu menolong sesama walaupun dengan menolong Becca ada syarat yang harus Becca lakukan. "Apa kau masih mencintai Dave?"
__ADS_1
Becca tersenyum tipis, ia kemudian menyedekapkan tangannya di atas meja. "Saat aku menjadi aktris, aku sama sekali tidak membutuhkan Dave. Aku memang mencintainya, namun saat itu aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri tanpa embel-embel nama Abellard yang mensponsori ku. Aku memilih karierku saat itu. Namun saat semuanya berubah, aku begitu membutuhkan uang dan menerima tawaran suamimu," Becca menahan suaranya yang tercekat.
"Aku kira dia hanya akan mempermainkan dan menyakitimu, Nona. Aku kira hatinya masih mencintaiku, namun semua sudah berbeda. Tepatnya cinta akan menemukan pelabuhan baru jika kita menyia-nyiakannya dan semuanya terjadi padaku. Setelah aku mengantarkan kue ulang tahun untuk Dave, aku melihat Dave yang memperlakukanmu dengan istimewa. Dan setelah peristiwa itu aku memutuskan untuk mundur dan tidak menghubunginya lagi. Aku berusaha untuk mandiri lagi. Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri," lanjut Becca lagi, ia menceritakan kondisi hatinya dan nasibnya kini.
Maura memegang lengan Becca, bermaksud untuk menguatkan. Ia begitu iba dengan nasib Rebecca, namun Maura merasa kagum karena kemandirian yang Becca punya. "Kau tidak perlu meminta maaf, karena semua sudah berlalu, Nona. Semoga kau menemukan pendamping yang lebih baik dari Dave!"
"Bagaimana aku bisa mendapatkan yang lebih baik dari Dave, Nona? Sementara hanya dia pria yang sempurna," batin Becca sendu. Ia menggelengkan kepalanya, ia harus bisa melupakan Dave sepenuh hatinya.
"Aku akan berbicara pada Dave untuk kembali mensponsorimu sebagai aktris lagi," hibur Maura.
Mata Becca membola karena terkejut, ia tidak menyangka Maura akan membantunya. Mengingat sifatnya yang selalu menyebalkan di hadapan Maura membuat Rebecca malu.
"Benarkah kau akan membantuku?" Becca tampak meminta kejelasan dari ucapan Maura.
Maura menganggukan kepalanya "aku akan membantumu, Nona. Aku akan berbicara pada suamiku."
Becca segera bangkit dari duduknya, ia kemudian memeluk Maura. "Terima kasih, Nona. Aku tidak menyangka kau berhati baik."
"Sama-sama. Panggil saja aku Maura! Kita sudah berteman sekarang."
"Dave, sepertinya kau tidak salah memilih seorang istri," batin Becca dengan senyum cantiknya.
Saat Maura berdiri dari duduknya, tiba-tiba kepalanya merasa pusing. Ia berpegangan pada meja, Becca yang melihatnya segera menggandeng lengannya. "Nona, anda tidak apa-apa?"
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1