Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Penawaran Untuk Rebecca


__ADS_3

Rebecca sedang terduduk lemas di apartemen miliknya, hari ini ia menerima banyak tagihan mulai dari kartu kredit, biaya listrik, dan biaya pelunasan apartemen yang belum dilunasinya. Ia begitu bingung harus mencari uang ke mana lagi, karena dirinya sudah tidak lagi syuting tentunya tidak ada penghasilan yang masuk ke kantong pribadinya.


"Dave, aku harus menemui Dave," batin Becca.


Secercah harapan muncul saat ia mengingat Dave, Becca segera mengambil tas miliknya dan segera berangkat untuk menemui mantan kekasihnya itu.


Dua puluh menit kemudian, ia sudah sampai di tempat parkir perusahaan Abellard Company. Beruntung sekali hari ini untuk Becca, ia melihat mobil Dave baru saja memasuki area parkir.


Terlihat Dave turun dari mobilnya, penampilan Dave selalu saja sempurna. Jas yang rapih, kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, dan rambutnya yang selalu di tata rapi seolah menambah kewibawaannya selaku pimpinan Abellard Company.


"Dave?" Panggil Becca.


"Becca, mau apa kau ke sini?" tanya Dave dengan dingin.


Becca menelan salivanya, ia melihat ekspresi Dave. Tak ada tatapan cinta dalam manik matanya itu, tatapannya berbeda sekali saat mereka masih berpacaran. Rebecca memberanikan dirinya untuk meminta pertolongan Dave, baginya saat ini hanya Dave satu-satunya harapan untuknya. "aku ingin berbicara Dave, penting."


"Baiklah, ikuti aku!" Dave berjalan terlebih dahulu mendahului langkah Becca, sedangkan Becca mengekorinya dari belakang.


Mereka memasuki lobi kantor, dan menaiki lift lantai 9 tempat ruang kerja Dave. Saat Dave berjalan menuju ruang kerjanya, tampak semua karyawan memandang mereka dan berbisik-bisik. Banyak sekali karyawan perempuan yang menaruh hati pada Dave, termasuk Sekretaris cadangannya Carissa. Ia memperhatikan Becca, tentunya ia tahu bahwa Becca adalah artis terkenal di Perancis.


"Duduklah!!" Perintah Dave saat mereka memasuki ruang kerja miliknya.


Mereka duduk berhadapan, hening beberapa saat, Becca tampak sedang merangkai kata. Kemudian ia mengumpulkan keberanian di dalam dirinya.


'Dave, aku ingin meminta bantuanmu."


Dave memandang Becca dengan dingin "Katakanlah!!"


"Aku ingin meminjam uang, aku sudah tidak ada penghasilan lagi Dave," sahut Becca. Sebenarnya ia sangat malu, namun ia berusaha mengesampingkan rasa malunya.

__ADS_1


"Baiklah. Nanti aku transfer ke rekening pribadimu," Dave menyetujui.


Becca tampak senang sekali saat mendengar jawaban Dave, ia segera menggenggam tangan pria itu. "Terimakasih, Dave. Aku janji akan membayarnya nanti."


Dave tampak menimbang-nimbang dan berfikir. Kemudian sebuah ide terlintas di pikirannya. "Tidak usah dibayar. Aku akan menjamin semua keuanganmu. Tapi aku minta bantuanmu."


"Bantuan apa, Dave?" Becca mengernyitkan dahinya heran.


"Aku ingin kau berpura-pura menjadi kekasihku saat aku menikah nanti."


Becca membulatkan kedua matanya, saat mendengar pria yang masih ia cintai akan menikah. Perlahan dadanya merasa sesak. "Menikah? Dengan siapa kau akan menikah?


"Bukan urusanmu. Lakukan saja apa yang aku mau! Jadilah kekasih pura-pura saat aku sudah menikah nanti. Aku akan menjamin semua keuangamu. Aku janji "


"Apakah ini perjodohan? Baiklah aku terima tawaranmu."


****


Pagi ini Maura mengemudikan mobil kakeknya, ia dititipi Sophie, ibunya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari mereka. Maura bersenandung riang mengikuti musik yang bergema di tape mobil.


Dua hari yang lalu Maura merasa was-was saat mendengar ancaman Dave, ia selalu menanyakan bagaimana kabar ayahnya yang sedang bertugas di kota Paris. Namun ayahnya selalu menjawab baik-baik saja, ia jadi lega dan yakin Dave tidak akan melakukan niatnya.


Maura segera mengambil troli ketika ia sudah sampai di area supermarket, Maura mengambil semua barang yang ada di catatan yang diberikan ibunya.


"Wortel, roti, slai," gumam Maura seraya tangannya mengambil barang yang dicarinya.


Saat semua sudah lengkap ia segera mengantri area kassa dan membayar barangnya. Gadis itu segera menenteng barang yang sudah dibelinya menuju parkiran mobil.


Namun saat Maura berjalan menuju parkiran, ia begitu bingung dengan banyaknya orang yang mengelilingi mobilnya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Tanya Maura dengan panik.


Ia melihat kaca mobil Maura sudah dalam keadaan pecah di semua bagian.


"Mobilku, siapa yang memecahkan mobilku?" Maura berteriak.


"Kami tidak tahu, Nona. Saat kami melewati parkiran, kami melihat mobil nona sudah dalam keadaan seperti ini," jawab salah satu pengunjung dari supermarket itu.


Tak lama dua orang keamanan datang, mereka begitu kaget saat melihat mobil dengan kaca yang sudah pecah dengan lumayan parah.


"Pak, ini bagaimana? Bukankah disini ada keamanan? Mengapa mobil saya menjadi seperti ini?" Maura terlihat emosi, tiba-tiba pikirannya teringat dengan ancaman Dave. Ia segera menepis pikiran buruk yang ada di pikirannya. Tidak mungkin ini ulah Dave, begitu pikirnya.


"Mari nona kita lihat CCTV!" Dua keamanan itu memberikan saran, mereka juga tampak bingung. Karena posisi mereka saat itu tidak ada di tempat parkir. Mereka sedang berkeliling untuk berjaga.


Maura dan dua keamanan itu menuju tempat pengawasan CCTV. Namun keanehan lain melanda, mereka tidak menemukan rekaman CCTV satupun yang mengarah ke mobil Maura.


"Bagaimana, Pak?" Tanya Maura kepada kedua keamanan itu.


"Maaf, Nona, secara mendadak CCTV yang ada di sekitar mobil anda hilang," jawab salah satu keamanan itu.


Maura terlihat semakin bingung, kenapa bisa CCTV di supermarket sebesar ini bisa hilang ?


"Coba cari lagi, tuan! Siapa tahu ada," desak Maura tak mau menyerah.


"Tidak ada, Nona," dua keamanan itu menjawab dengan kompak.


Apakah ini benar ulah Dave? Aku harus menghubunginya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2