
“BABIan!!” teriak mereka serempak seraya melambaikan tangannya kecuali satu pemuda yang tampak tidak peduli dengan kedatangan Nesya dan Fabian.
“Damn! Mereka benar-benar,” Fabian memijit keningnya, entah kenapa dia bisa memiliki sepupu gila seperti itu.
Nesya terkekeh geli mendengar teriakan dua sepupu sahabatnya itu.
“Dasar tidak waras, namaku Fabian bukan Babian!” lelaki itu memukul kepala pemuda yang bernama Rey dan menjewer telinga adiknya yang bernama Baby.
“Awwh lepas! Bang Ray!! Tolongin Baby,” gadis itu meronta, meminta agar Fabian berhenti menarik telinganya yang sudah memerah akibat ulahnya.
“Itu akibatnya karena sudah tidak sopan denganku!” Fabian menjitak kening Baby membuat gadis itu meringis.
“Dia siapa?” Ray yang sedari tadi diam menghampiri mereka.
“Dia sahabatku. Nesya, kamu masuk sama Baby, aku ingin berbicara dengan dua manusia aneh ini!” Fabian memberi kode pada Baby agar membawa Nesya.
__ADS_1
“Ayo kak! Tidak perlu malu, anggap rumah orang lain,” Baby menarik tangan Nesya, wanita calon ibu itu pun hanya pasrah saat dirinya ditarik layaknya seekor kambing.
Selepas kepergian Nesya dan Baby, Fabian menjelaskan semuanya kepada manusia kembar di depannya.
“Aku mohon jaga mereka selama di sini, dan jika ada yang bertanya mengenai dirinya, jangan sekalipun kalian berani mengatakan sesuatu!” ucap Fariz dengan sorot mata yang tajam.
“Apa istimewanya dia? Apa kamu jatuh cinta padanya?” Ray mengintimidasi sepupunya itu, tak biasanya Fabian akan bersikap seperti itu hanya karena seorang perempuan.
“Apa matamu buta? Kau tak melihat bahwa dia sangat cantik dan imut,” Rey membayangkan wajah Nesya yang begitu polos dan lugu.
“Dan satu lagi, tadi aku sudah menjelaskan semuanya bukan? Jadi jangan pernah sekalipun kalian menanyakan hal pribadi pada Nesya, jika dia menginginkan sesuatu berikan saja, turuti kemauannya, mungkin ini adalah simulasi untuk menjadi calon ayah yang baik.” Fabian menahan tawanya menatap kedua sepupunya dengan mimik wajah yang aneh.
“Baiklah-baiklah, sekarang kau boleh pergi!” Rey mengusir Fabian dengan gerakan tangannya.
“Beginilah contoh nyata manusia tak tahu diri, sudah numpang gratis, ngelunjak pula!” cibir Fabian.
__ADS_1
Fabian pun mencari Nesya, seulas senyum terbit di wajahnya, melihat Nesya tertawa karena cerita-cerita konyol Baby.
“Nesya, aku pulang. Jaga dirimu baik-baik, aku akan sering-sering mengunjungimu, jika perlu sesuatu jangan sungkan dengan mereka, di sini juga ada beberapa pekerja, jadi kamu jangan khawatir.” Fabian mengelus rambut Nesya, seketika pipi gadis itu merona.
“Ini ponsel untukmu.” Ujarnya seraya memberikan ponsel bermata tiga dengan logo apel tergigit pada Nesya.
“Bagaimana dengan-"
“Tidak perlu cemas, suami brengsekmu itu tidak akan bisa menemukanmu!” Fabian tersenyum seolah tahu jika Nesya pasti takut jika Fariz ataupun Radit menemukannya.
“Terima kasih.” Mata Nesya berkaca-kaca, tak menyangka jika dia bertemu dengan lelaki sebaik Fabian.
“Aku di mana ini?” celetuk Baby yang sedari tadi menyimak obrolan mereka, namun ada sesuatu yang menuai tanda tanya di gadis itu, tentang status Nesya yang sudah menikah, padahal jika dilihat dari umur, Nesya dan Baby terpaut tidak terlalu jauh.
Like
__ADS_1
Komen