
Seminggu sudah terlewati, malam ini adalah malam terakhir Dave dan Maura di Bali, karena besok pagi mereka akan kembali ke Paris. Maura membereskan pakaian miliknya dan milik Dave, lalu memasukannya ke dalam koper.
"Dave, aku masih betah!" Maura merengek tidak mau pulang.
Maura sangat betah sekali wisata di Bali, sepekan ini Maura dan Dave menghabiskan waktu dengan menjelajahi pariwisata yang ada di Bali. Meskipun tak semua, tapi pantai Kuta, pantai Sanur, dan Jimbaran sudah mereka datangi.
"Nanti kita bisa ke sini lagi, sayang!" Bujuk Dave dengan lembut.
"Sekarang pakailah mantelmu! Kita akan menonton pertunjukkan tari Kecak Uluwatu," lanjut Dave lagi.
Maura segera bersiap, ia membawa mantel rajut yang ia beli di Bali dan memakainya. Mereka segera bergegas menuju lokasi pertunjukan.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di Pura Luhur Uluwatu. Maura terkesima dengan pura yang cantik yang berada di puncak tebing yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Dave segera membeli tiket dan mengajak Maura untuk duduk di tempat duduk yang telah di sediakan. Tempat duduk itu berbentuk memutar.
Saat Matahari di garis Cakrawala, rona senja pun terlihat makin indah. Para penari memulai pertunjukan dengan memakai kostum Kamen (sarung tradisional khas Bali) dan Udeng (ikat kepala), mereka langsung mengitari panggung dan mengangkat tangannya sambil meneriaki suara "Cak. Cak.. Cak..."
Maura dan Dave dibuat terkesima dengan pertunjukan tarian ini, mereka merasa seolah ada Aura Magis dalam tarian itu. Di sini juga mereka mendapatkan pertunjukan double. Selain tarian, Maura dan Dave menikmati senja yang mempesona.
"Mereka hebat, Dave!" Puji Maura saat melihat adegan tokoh Si Kera Putih Hanoman menendang bara api.
"Ya, mereka memang hebat," Dave ikut memuji dengan takjub.
Semua turis bersorak gembira, mereka mengeluarkan ponsel dan merekam semua adegan pertunjukan termasuk Maura, ia tak kalah dengan turis lain. Maura merekam mereka secara kontinu.
Panorama sunset di belakang panggung pentas, dan semburat cahaya api menjadi penutup pementasan. Adegan ini sungguh dramatis dan eksotis. Maura kecewa karena pertunjukan telah berakhir.
"Dave, ini benar-benar hebat!!" Seru Maura seraya bertepuk tangan dengan riuh.
"Tentu saja, aku akan selalu membawamu ke tempat yang indah," jawab Dave tak kalah antusias.
Saat semua turis membubarkan diri mereka, Maura dan Dave ikut meninggalkan tempat pertunjukan. Mereka bergegas untuk kembali ke hotel untuk beristirahat.
__ADS_1
Pagi harinya.
Maura dan Dave sudah ada di bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Dave menarik koper yang berisi pakaian dan oleh-oleh untuk keluarga dan mertuanya. (Dave tidak memakai jet pribadi atau pengawal karena ini sangat berlebihan😂 othor pengen rasional aja hehe 🤣)
Mereka sudah berada di Business Class, Maura menyandarkan kepalanya di bahu Dave dengan manja. Semakin hari, ia semakin cinta dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Sayang, aku harap setelah dari sini aku akan hamil," lirih Maura sendu.
"Jangan dipikirkan, sayang! Nanti juga jika tiba waktunya kau akan hamil kembali," Dave mengusap rambut Maura, lalu ia mengecup puncak kepala wanita yang sangat dicintainya.
"Jika tidak bagaimana, Dave?" Tanya Maura dengan resah.
"Aku tidak akan menuntut mu perihal keturunan, sayang. Yang penting sekarang kita berusaha dan berdoa. Jikalau masih belum bisa, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Tidak akan ada yang berubah," Dave menyelipkan rambut Maura di belakang telinga.
Maura merasa terharu mendengarnya, ketakutannya sirna tak berbekas. Ia memeluk suaminya itu dengan manja. "Aku hanya takut kehilanganmu, Dave."
"Kau tak akan kehilanganku, kecuali maut yang memisahkan kita."
***
Sudah sepekan Razel tidak menghubungi Valerie, membuat gadis itu semakin bertanya-tanya. Apa salahnya pada Razel? Valerie berusaha menemui Razel di kantor toko onlinenya. Ia melihat Razel sedang berbincang hangat dengan seorang wanita yang cukup cantik.
"Jadi seminggu ini kau tidak menghubungiku karena ada wanita baru," teriak Valerie dengan berapi-api, ia menatap Razel dan wanita itu dengan tak ramah. Entah apa yang membuat gadis itu begitu emosi, ia hanya membenci pemandangan yang menyakiti matanya, lebih tepatnya menyakiti hatinya.
Semua karyawan yang sedang membuat orderan dan melakukan packing menatap bosnya dan dua orang wanita dengan keheranan. Mereka mengernyitkan dahinya dengan bingung.
"Val, apa maksudmu?" Tanya Razel dengan lembut. Valerie tidak kunjung menjawab, ia masih menghunuskan tatapan tajam pada Razel.
Razel kemudian menarik tangan Valerie ke ruangan pribadinya begitu Razel sadar mereka jadi bahan tontonan karyawannya.
"Razel, aku tidak menyangka kau ternyata buaya!" Bentak Valerie saat mereka memasuki ruang pribadi Razel.
__ADS_1
Razel mengernyitkan dahinya heran, ia sungguh tak mengerti apa yang dimaksud Valerie. "Maksudmu bagaimana, Val? Aku tidak mengerti."
"Kemarin-kemarin kau selalu pergi bersamaku, lalu kau menghilang. Saat aku mendatangimu, kau malah asyik-asyikan mengobrol dengan wanita lain. Apa itu tidak buaya?" Seloroh Valerie, ia sungguh tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya di hadapan Razel.
Razel tersenyum tipis, ia sudah mengerti dengan maksud Valerie. "Tadi itu bukan pacarku. Mengapa kau marah? Apa kau cemburu?"
Mata Valerie membola karena terkejut dengan pertanyaan Razel, ia mengutuki kebodohannya. Valerie juga tampak menyesali ucapannya tadi.
"Aku hanya. Emmm"
"Apa? Apa kau cemburu?" Razel berjalan mendekati Valerie.
"Aku hanya.." Valerie mundur hingga punggungnya membentur tembok.
"Katakan kau cemburu, sehingga aku bisa memperjuangkan mu!" Sahut Razel dengan penuh penekanan.
Valerie menengadahkan kepalanya, ia menatap netra biru pucat itu dengan sendu. Valerie tak mampu menjawab perkataan Razel, ia begitu menyesali mengapa dirinya menemui Razel.
Razel membawa Valerie ke dalam pelukannya, ia kemudian menepuk-nepuk punggung Valerie. "Sudah lama aku menunggumu!" Bisik Razel hangat di telinga Valerie.
"Maksudmu?" Valerie tampak tak mengerti.
"Aku mulai menyukaimu, Val. Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku. Tapi apakah keluargamu Sudi menerima pria miskin sepertiku? Maka dari itu kemarin aku berusaha menjauhimu."
Valerie menggelengkan kepalanya tak percaya, ia begitu bahagia rasa yang bersemayam di dalam hatinya mendapatkan balasan. "Apakah benar kau menyukaiku?" Valerie tampak ragu.
Razel menganggukan kepalanya, ia kemudian memegang bahu Valerie dengan lembut. "Besok aku akan menemui orang tuamu"
"Apa?" Valerie tersontak kaget.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1