Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Dijemput


__ADS_3

Dave memparkirkan mobilnya di pekarangan rumah, ia turun dengan tergesa. Saat di kantor, Dave menerima telepon dari Lisa yang memberitahukan bahwa Maura sempat pingsan saat ia akan pergi. Dave segera berlari menuju lantai 2, ia melihat Maura tengah bersandar di sandaran tempat tidur.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Dave dengan raut wajah yang begitu khawatir dan panik. Ia mencium semua wajah Maura.


"Aku baik-baik saja," Maura memaksakan senyumnya. Terlihat sekali jika wajahnya sangat pias.


Dave memeriksa semua tubuh Maura, ia begitu takut terjadi apa-apa dengan wanita yang sangat ia cintai "mana yang sakit?"


"Tidak ada Dave, kau jangan berlebihan!;Aku tidak apa-apa."


"Apanya yang tidak apa-apa, sayang. Kau lemas seperti ini. Apa tadi kau sudah sarapan?"


Maura menggelengkan kepalanya, Dave membuang nafasnya kasar. Mengapa Maura sangat keras kepala sekali? Padahal pada saat Dave akan berangkat bekerja, Dave sudah mewanti-wanti agar tidak telat untuk sarapan.


"Aku akan memanggil dokter Julie untuk memeriksamu. Kali ini kau jangan menolak!" Bujuk Dave, ia kemudian menangkup pipi Maura lembut. Ia benar-benar khawatir melihat wajah istrinya yang tampak pias. Maura menganggukan kepalanya dengan lemah.


"Apa yang kau rasakan, sayang? Bicaralah! Aku semakin khawatir jika kau hanya menjawab baik-baik saja tetapi kenyataannya kau sakit."


"Kepalaku pusing Dave dan perutku sangat mual," jawab Maura dengan jujur.


"Permisi Nona, Tuan!" Lisa memasuki pintu kamar yang terbuka diikuti dua pelayan di belakangnya. Mereka membawa nampan yang berisi makanan. Dave segera mengambil makanan itu dan berusaha menyuapi Maura.


"Ayo sayang, makanlah!" Dave menyuapi Maura dengan hati-hati. Maura memakan makanan itu dengan terpaksa, ia merasakan lidahnya sangat pahit.


"Dave, akh sudah selesai makannya. Aku ingin jus jeruk," Rengek Maura dengan manja.

__ADS_1


"Sesuap lagi, nanti setelah ini aku buatkan jus jeruk," bujuk Dave, ia kemudian menyuapi Maura lagi.


Syukurlah Maura mau menuruti keinginan Dave dan tak membantah seperti yang ia sering lakukan. Setelah selesai menyuapi Maura, Dave segera turun ke dapur. Ia akan membuatkan es jeruk untuk istrinya, Dave membuka-buka kulkas, tapi ia tidak menemukan buah jeruk disana.


"Lisa, kau jaga rumah! Aku akan pergi ke supermarket," perintah Dave pada Lisa


Lisa membungkukkan badannya sopan "biar saya saja yang membelinya, tuan."


"Tidak usah. Biar aku saja," Dave mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas sofa, ia langsung melajukan mobilnya menuju supermarket terdekat.


Sementara itu.


Leo segera meninggalkan kantor dan melajukan mobilnya menuju Perumahan Le Marais, ia harus meminta penjelasan langsung kepada Dave. Mobilnya memasuki pelataran rumah yang sangat mewah itu. Leo segera memparkirkan mobilnya dan berjalan dengan tergesa.


"Mohon maaf, tuan! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pihak keamanan yang berjaga di rumah Dave.


"Baiklah. Silahkan masuk, tuan! Kamar Nona Maura ada di lantai dua yang bercat pintu putih," Staff keamanan tadi mengalah, ia memperbolehkan Leo untuk masuk ke dalam rumah Dave. Dengan sangat cepat, Leo menaiki tangga. Leo seolah tidak peduli dengan tatapan para pelayan yang bertanya-tanya.


Leo menatap pintu cat putih yang terbuka, ia segera memasuki kamar itu. Matanya menyapu semua sudut kamar, kemudian perhatiannya beralih ke arah Maura yang sedang tertidur dengan wajah yang sangat pucat. Ketakutan Leo semakin menjadi-jadi saat melihat putrinya terbaring dengan lemah. Namun ia melihat makanan di atas nakas, sepertinya Maura baru saja makan. Lalu di mana Dave? Leo melihat semua sudut kamar lagi, berharap ada Dave dan Dave lah yang merawat Maura. Namun Leo harus kecewa kedua kalinya, saat tidak menemukan menantunya di sana.


"Sayang?" Seru Leo, ia membelai pipi Maura dengan lembut.


Mata Maura mengerjap-ngerjap, mencoba memfokuskan pandangannya. Ia begitu kaget saat yang ia lihat adalah ayahnya, bukan Dave suaminya. "Dad?"


"Ayo kita pulang, Nak. Daddy akan membawamu keluar dari rumah ini," ucap Leo, aura wajahnya gelap dengan ekspresi yang tidak terbaca.

__ADS_1


"Pulang kemana, Dadd? Ini rumah Maura," Maura terlihat bingung.


"Mommy merindukanmu, ayo kita pulang ke rumah!" Bujuk Leo tak ingin dibantah.


"Baiklah, Dadd. Akan tetapi, Maura harus menunggu Dave ke sini."


"Tadi Daddy sudah bicara padanya, dia tidak masalah Daddy membawamu."


Maura mengernyitkan dahinya dengan bingung. Bukankah Dave sedang membuatkan es jeruk? Lalu kapan Dave dan ayahnya bertemu? Maura merasa bimbang, namun ia tidak tega melihat Leo yang semakin memaksa dirinya untuk ikut pulang ke rumah bersamanya.


"Baiklah, Dad. Maura ikut," Maura mengiyakan pada akhirnya.


Leo segera menggandeng lengan putri semata wayangnya itu, mereka menuruni tangga dengan hati-hati.


"Nona, anda mau ke mana?" Tanya Lisa saat melihat Maura turun dari tangga.


"Aaa-aku"


"Maura akan pulang ke rumah kedua orang tuanya. Jika Dave mencarinya, suruh dia untuk menemui ku!" Potong Leo dengan tegas.


Maura merasakan ada yang aneh dengan tingkah ayahnya, namun ia tidak berani untuk bertanya lebih jauh. Maura lebih memilih untuk menuruti keinginan ayahnya dulu dan meminta penjelasan saat di rumah nanti.


"Ayo sayang!" Leo meenggandeng lagi tangan Maura dan segera memasukan putrinya ke dalam mobilnya. Ia segera meninggalkan kawasan perumahan elite itu.


"Dave jika kau tak bisa membahagiakan putriku, lepaskanlah dia! Aku tak ingin dia semakin menderita bersamamu."

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2