Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Tidak Enak Badan


__ADS_3

"Nona Maura, kau tidak apa-apa?" Becca terlihat tampak khawatir.


Maura menggelengkan kepalanya, ia memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan. "Aku tidak apa-apa."


"Ayo biar aku antarkan kau pulang, Nona!" Becca menggandeng lengan Maura, ia terlihat sangat khawatir dengan keadaan istri mantan kekasihnya itu.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di parkiran, Maura menunjuk mobilnya. "Itu mobilku, Nona. Di mana mobilmu?"


"Kebetulan mobilku sedang di service, aku naik taksi tadi. Ayo ku antarkan kau pulang!"


"Baiklah, tolong ya kemudikan mobilku!" Maura merasa tidak enak.


Becca menganggukan kepalanya, ia segera membimbing Maura menuju kursi sebelah pengemudi. Becca lalu mengemudikan mobil milik Maura membelah jalanan kota Paris dengan segala keramaiannya.


"Maaf ya aku merepotkanmu!" Maura berkata dengan lemas.


"Tidak apa-apa, Nona. Di mana rumahmu?" Tanya Becca saat mobilnya memasuki perumahan termewah di kota Paris.


Maura menunjuk rumah yang tampak mewah, Becca memparkirkan mobil Maura di pelataran rumah yang sangat asri itu. Becca sangat terpesona dengan desain rumah Maura dan Dave.


"Jika dulu aku tidak memutuskan Dave seharusnya rumah ini untukku," Becca tersenyum dengan getir.


"Ayo masuklah, Nona!" Ajak Maura dengan ramah.


"Aku pulang saja, Nona. Aku takut jika Dave pulang dan melihatku, dia akan salah paham padaku," tolak Becca dengan halus.


"Baiklah, Nona. Aku akan mencarikan taksi untukmu."


Becca segera menggelengkan kepalanya, "tidak usah, Nona. Aku akan mencari taksi sendiri. Kau beristirahatlah!"


"Terima kasih, Nona Becca. Aku sangat berhutang Budi padamu," Maura tersenyum dengan tulus.


"Sama-sama, Nona. Aku juga berterima kasih kau sudah membantuku tadi. Baiklah kalau begitu aku permisi!" Pamit Rebecca, ia segera berjalan menuju taksi yang berhenti di depan rumah Maura.


"Hati-hati!" Seru Maura seraya melambaikan tangannya, Becca membuka kaca mobil dan tersenyum ke arah Maura.

__ADS_1


Sepeninggal Becca, Maura merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia sangat lelah dan lemas, Maura sangat heran dengan tubuhnya hari ini. Biasanya ia tidak seperti itu.


"Sayang, aku pulang!" Sapa Dave dengan ramah, ia segera menyingkap selimut Maura dan mencium seluruh bagian wajah istrinya.


"Dave, hentikan!" Maura memberontak, ia lalu menutup hidungnya. "Dave, mengapa kau bau sekali? Kau tidak mandi berapa hari?"


Dave segera mencium kemejanya, ia juga mencium kedua tangannya. "Aku sudah mandi, sayang. Bahkan tubuhku sangat wangi karena parfum yang kau pilihkan."


"Menjauhlah, Dave! Kau sangat bau!!" Seloroh Maura dengan wajah masam, Dave segera menjauhi Maura. Ada apa dengannya ? Biasanya Maura tidak seperti ini.


Malam harinya Dave mendekati Maura, ia merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Dave mengambil remote dan menyalakan TV, ia segera menonton acara kesukaannya. Dave menonton nominasi makanan terenak di dunia, makanan itu jatuh pada nasi Padang yang berasal dari salah satu negara di kawasan Asia tenggara tepatnya yaitu negara Indonesia.


"Dave, menjauhlah! Kau bau sekali!!" Maura berkata dengan nada kesal.


"Sayang, kau kenapa? Biasanya kau sangat menyukai bau tubuhku," Dave mencoba berbicara lembut pada Maura, ia tidak mau Maura semakin emosi padanya.


Maura tidak menggubris pertanyaan Dave, ia memperhatikan acara yang tengah di tonton oleh Dave.


"Sayang?" Panggil Maura dengan suara manja.


"Aku sangat ingin mencoba makanan terenak di dunia itu, aku ingin nasi Padang," Maura mulai merengek.


"Baiklah besok kita akan mencari restoran khas Asia ya?" Dave berusaha menuruti keinginan Maura.


"Aku ingin makan nasi Padang langsung dari negara asalnya," rengek Maura lagi.


Mata Dave membulat dengan sempurna, ia begitu heran dengan sikap istrinya hari ini. Biasanya Maura tidak pernah minta dibelikan makanan. Namun setiap pulang kerja Dave selalu berinisiatif membelikan makanan untuk Maura.


"Nanti kita ke Indonesia ya, sayang? Tetapi jika pekerjaanku sudah selesai," bujuk Dave, ia segera membelai rambut Maura.


Maura segera membelakangi Dave, ia kemudian memberikan bantal ke arah Dave. "Tidurlah di sofa! Aku sedang tidak ingin tidur bersamamu."


"Tapi sayang .."


Maura menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, Dave mengusap wajahnya kasar. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Maura ?

__ADS_1


*****


"Sayang , bangunlah! Aku akan berangkat bekerja. Kau jangan lupa sarapan!" Dave membelai wajah istrinya, ia kemudian mengecup kening Maura lembut.


"Aku masih mengantuk Dave," gumam Maura dengan mata terpejam.


"Sayang, apa kau sakit?" Dave bertanya dengan raut wajah yang khawatir.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku baik-baik saja," Maura tersenyum dipaksakan, walaupun tubuhnya terasa panas dan berkeringat. Sepertinya demam, begitu pikir Maura.


"Ya sudah aku berangkat ya! Jika ada apa-apa kau hubungi aku."


"Iya, sayang. Maaf tidak membuatkan sarapan untukmu!"


Dave tersenyum, ia lalu mencium puncak kepala istrinya. "Tidak apa-apa. Aku berangkat"


Sepeninggal Dave, Maura memejamkan matanya. Pagi ini Maura merasa tidak enak badan, kepalanya terasa berputar dan perutnya sangat mual seperti di aduk-aduk.


Maura berjalan menuju westafel yang ada di kamarnya, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, tubuhnya merasa sangat lemas. Maura mendudukan dirinya di sofa, ia mengambil ponsel dan akan menelpon suaminya, namun saat Maura akan memencet tombol panggil, ia segera membatalkan panggilan itu, ia tidak ingin mengganggu Dave yang sedang bekerja.


Maura mengambil mantel cardigannya, ia mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas. Ia sudah tidak tahan dengan rasa mual yang menyerangnya, Maura memutuskan akan pergi ke dokter dan memeriksa kan dirinya.


"Nyonya, anda mau ke mana?" Tanya Lisa. Lisa adalah salah satu pelayan yang bekerja dirumah Dave. Lisa memegang tangan Maura karena ia melihat Maura berjalan sempoyongan. Lisa begitu khawatir melihat wajah Maura yang sangat pucat.


"Aku mau ke Rumah Sakit. Jaga rumah ya?" Pinta Maura dengan lemah.


"Saya antarkan ya, nyonya? Anda seperti tidak sehat."


"Tidak usah, kau jaga rumah saja ya!" Tolak Maura dengan wajah yang pucat. Lisa adalah pelayan yang seumuran dengannya. Lisa pun mengangguk, ia tidak berani untuk memaksa Maura pergi bersamanya.


"Hati-hati, Nona!"


Maura berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah Maura, saat akan membuka mobilnya, tiba-tiba penglihatannya kabur. Maura melihat seorang pria yang berlari ke arahnya dan menangkap tubuhnya. Semuanya tampak gelap, pria tadi mengangkat tubuh Maura, setelah itu Maura tidak mengingat apa-apa lagi. Maura jatuh pingsan.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2