
Tak terasa semua berlalu begitu cepat, kini usia kehamilan Nesya sudah memasuki minggu ke-36. Hal itu tentu tidak mudah dijalani oleh gadis lugu seperti Nesya, terlebih tanpa kehadiran sang suami di sisinya. Tak jarang gadis itu menangis, seolah tidak terima dengan garis takdir yang didapatkannya.
"Apa perutmu masih sakit?" tanya Fabian seraya memberikan segelas susu pada Nesya, sejak kemarin wanita yang berstatus sahabatnya itu mengeluh lantaran perutnya terasa tidak enak.
"Sudah mendingan kok. Oh iya, dimana Ray, Rey, dan Baby?" matanya mencari sosok yang telah menemaninya selama ini, Nesya merasa bahagia karena dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.
"Entahlah." menjawab dengan cuek, Fabian tidak begitu mempedulikan sepupu gilanya itu. Tapi jauh di dalam hatinya, Fabian merasa bersyukur karena tak jarang ketiga sepupunya itu ikut dilibatkan jika Nesya mengidam.
"Bagaimana kabarnya?" lirih Nesya seraya mengusap perutnya secara perlahan, bibirnya tersenyum saat merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam perutnya. Untuk jenis kelamin, Nesya tidak ingin mengetahuinya, dia ingin tahu setelah bayinya lahir. Begitupula dengan proses persalinan yang akan dilalui, Fabian menyarankan agar Nesya melakukan operasi caesar, pemuda itu tidak ingin terjadi sesuatu pada Nesya maupun bayinya.
Fabian yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, pikirannya kembali tertuju pada kejadian kemarin, hingga tanpa sadar dia tertawa membuat Nesya yang duduk di sebelahnya terheran-heran.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tidak ada." elaknya, Fabian berusaha menghentikan tawanya, dia tidak habis pikir dengan Fariz, pria itu kini sudah seperti orang kurang kerjaan lantaran setiap hari menunggunya di depan kampus agar bisa bertemu dengannya.
Fariz tahu bahwa Fabian yang menyembunyikan Nesya, pria itu kini larut dalam penyesalannya, seperti orang kehilangan arah, tiada hari tanpa mencari sang istri.
"Akhh!"
"Sakit ..." desisnya, cairan bening kini membasahi pipinya, ia kembali teringat dengan Fariz, perasaannya campur aduk, sejujurnya dia menginginkan Fariz yang berada di sisinya, bukan Fabian.
Sementara itu, seorang pria kini tengah duduk dengan sebuah foto perempuan di tangannya, hatinya begitu terpukul saat mengetahui fakta sebenarnya, memang benar jika adiknya meninggal karena pembunuhan, namun jelas bukan Abi pelakunya. Kini hanya ada perasaan bersalah dan penyesalan yang begitu dalam, karena dirinya semua menjadi kacau.
__ADS_1
"Arrghh!! Nesya, kamu di mana?" Fariz mengacak rambutnya, tubuhnya merosot ke lantai, namun beberapa saat kemudian dia berlari ke luar rumah dan mengendarai mobilnya bak orang kesetanan.
Tak tahu mengapa, pria yang sebentar lagi akan menjadi sosok ayah itu tiba-tiba merasa tidak enak, namun yang pasti dia ingin bertemu dengan Nesya bagaimanapun caranya. Namun karena tidak fokus mengemudi, Fariz tidak tahu bahwa dari arah berlawanan terdapat sebuah truk yang melaju sangat kencang, sepertinya truk tersebut mengalami rem blong.
Brakk
Sebuah peristiwa tak terduga, mobil Fariz terguling dan menghantam tiang listrik, kondisi mobilnya sudah tak berbentuk, kepulan asap mulai keluar, beberapa orang tampak menghampiri mobil Fariz untuk menyelamatkannya sebelum mobil itu meledak.
Fariz yang masih setengah sadar hanya bisa pasrah, tubuhnya terasa remuk, bibirnya tersenyum membayangkan Nesya yang menggendong seorang bayi laki-laki yang sangat menggemaskan, "aku harap kalian bahagia tanpa aku, maaf aku tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik."
Duarrrr
__ADS_1
Bersambung