Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 19


__ADS_3

Pagi harinya, kondisi Nesya sudah mulai stabil. Dia juga sudah siap untuk pergi ke sekolah, kebetulan hari ini dia mendapat giliran piket membuatnya harus berangkat lebih pagi. Seperti biasa, dia pergi dengan berjalan kaki tanpa membawa uang serupiah pun.


Tanpa bekal makanan ataupun minuman, Fariz benar-benar membuat Nesya tersiksa. Dengan langkah sedikit berlari, akhirnya Nesya sampai di sekolah, menatap di sekeliling, rupanya hanya dirinya yang berada di sekolah itu.


“Ah sudahlah, mending aku mulai bersih-bersih,” gumam Nesya, tangannya mulai menyapu di setiap sisi.


Terdengar langkah kaki yang kian mendekat, bersamaan dengan tawa nyaring yang menggema di area itu, Nesya sudah tahu jika mereka adalah Tika dan kawan-kawannya. Mereka dikenal sebagai gadis pembuat onar, sering menghina atau merendahkan orang yang dirasa lebih rendah darinya, entah karena status sosial ataupun penampilannya.


“Jadi ini yang namanya Nesya? Si gadis centil sok cantik itu kan?” seru Tika seraya menunjuk Nesya yang masih sibuk menyapu ruangan.


Salah satu temannya pun menjawab, “iya, kemarin aku lihat, dia nempel terus sama Fabian. Bahkan sampai pulang bareng.”


Nesya pun terkejut mendengar ucapan gadis itu, berjalan mundur karena Tika terus mendekat sambil tersenyum menyeringai. Waktu yang masih terbilang cukup pagi membuat peluang bagi gadis jahat itu semakin terbuka.

__ADS_1


Tika dan kedua temannya menyeret paksa Nesya dan membawanya ke kamar mandi lama yang terletak di sebelah gudang. Dengan sengaja Tika menyiram Nesya sehingga gadis itu basah kuyup, tak lupa juga dengan mengunci Nesya di dalam kamar mandi yang sudah usang tersebut.


“Tolong, buka pintunya!!” Nesya terus berteriak seraya menggedor-gedor pintu, namun tak satu pun yang mendengar teriakannya lantaran letaknya yang lumayan jauh, serta jarang yang mau melintas di seputaran gudang itu, lantaran rumor yang beredar bahwa beberapa tahun silam terdapat seorang siswi yang tewas di dalam gudang.


Hingga tak terasa hari sudah menjelang sore, Nesya sudah tidak punya tenaga lagi untuk berteriak. Tubuhnya merosot kemudian bersandar di pintu kamar mandi, dia menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang begitu miris.


“Tolong...” lirihnya, dengan tangan memegang kepalanya yang terasa pusing, samar-samar ia mendengar suara Fariz.


“Nesya!” Fariz terus mencari istrinya, dia yakin bahwa terjadi sesuatu pada Nesya, tidak mungkin juga gadis itu berani keluyuran mengingat ancaman yang diberikannya tempo lalu.


“Nesya, itu kamu kan?” tanya Fariz seraya mengetuk pintu tersebut.


“Kak Fariz hiks... Tolong!!”

__ADS_1


“Nesya, kamu mundur oke! Pintunya akan didobrak,” pinta Fariz dengan lembut, maklum karena terdapat orang lain yang memperhatikannya.


Nesya pun menurut, dia menjauh dari pintu kamar mandi, hingga sepersekian menit kemudian, pintu terbuka dan tampaklah laki-laki tampan yang selama ini menyiksanya. Nesya tersenyum sebelum akhirnya tak sadarkan diri, untung saja Fariz dengan sigap menangkap tubuhnya.


Sebelum beranjak, Fariz mengatakan sesuatu pada satpam yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya, pria paruh baya itu pun mengangguk dan menyusul Fariz yang sudah keluar dari area sekolah.


Like


Komen


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2