
Enam bulan kemudian.
Siklus Haid Maura begitu tak teratur. Setiap kali telat datang bulan, Maura selalu melakukan teskpack berharap ada garis dua yang dilihatnya. Tetapi hasilnya selalu saja mengecewakan dan membuatnya bersedih.
Seperti pagi ini, Maura sudah telat sembilan hari. Namun Maura kali ini menyerah, ia tak ingin kecewa lagi dan lagi.
"Sayang, di dahimu ada jerawat. Sepertinya efek tidak datang bulan," Dave menunjuk jerawat di dahi Maura.
"Apa bulan ini belum ada tanda-tanda datang bulan?" tanya Dave lagi.
Maura menggelengkan kepalanya dengan sendu, ia kemudian menghembuskan nafasnya ke udara. "Sejak aku keguguran. Aku selalu terlambat datang bulan, Dave. Tapi jika melakukan tes kehamilan selalu saja negatif."
Dave mengelus bahu Maura lembut untuk menguatkan, ia mengangkat dagu wanita berambut blonde itu. "Karena kau selalu dipikirkan, mulailah membebaskan pikiranmu. Agar kau tidak stres. Percayalah kau pasti akan hamil!"
"Entah Dave aku tak yakin."
Dave membuka tas kerja miliknya ia segera mengeluarkan sesuatu kecil dari dalam tas. "Cobalah, sayang! Apa salahnya mencoba? Kau sudah telat datang bulan 9 hari."
"Aku tak mau, Dave. Aku takut kecewa lagi,"lirih Maura dengan sedih.
__ADS_1
"Dengarkan aku, sayang! Jika kau hamil bagaimana? Lalu kita tidak tahu kehamilan mu. Apa kau ingin kejadian kemarin terulang? Dengan kita tahu lebih dini, kita bisa menjaga kandunganmu semaksimal mungkin. Tetapi jika hasilnya negatif kita ke dokter Obygin. Kita tanyakan mengapa kau selalu telat datang bulan. Percayalah ini semua demi kebaikanmu!" Dave menangkup pipi Maura. Ia menatap manik biru pucat itu dengan lembut dan penuh cinta. Sungguh ia tak tega melihat Maura bersedih.
"Baiklah. Aku akan mencobanya," Maura mengambil benda mungil itu dari tangan Dave.
Dave mengantarkan Maura menuju kamar mandi, karena sudah terbiasa bagi Dave jika Maura melakukan tes kehamilan, dia lah yang akan mencelupkan alat tes kehamilan itu ke dalam wadah penampungan urine.
Dave mulai mencelupkan alat tes kehamilan itu dengan tenang, Maura memperhatikannya dengan gusar. Ia mengatur nafasnya untuk menerima kekecewaan lagi. Maura tak mau banyak berharap.
Dave memperhatikan benda mungil itu, ia melihat perubahan pada benda itu. Tampak garis dua terlihat samar dan semakin lama semakin jelas. Dave tersenyum bahagia, ia kemudian menghampirii Maura yang sedang bersandar di tembok kamar mandi.
"Sayang, lihatlah kau hamil!" Dave memperlihatkan tespack yang memperlihatkan garis dua dengan sangat jelas.
"Benarkah, Dave?" Maura menutup mulutnya, ia sungguh seperti merasakan mimpi.
"Sayang, pakai mantelmu! Ayo kita pergi ke dokter!"
"Ayo, Dave! Aku mau sekali," Maura berucap dengan bahagia.
****
__ADS_1
Dave dan Maura kini sudah ada di ruangan pemeriksaan khusus Obygin. Terlihat dokter Cathy yang sedang mewawancarai Maura dan memeriksa keadaannya. Dave mendudukan dirinya di samping Maura yang tengah terbaring.
Satu orang perawat membantu mengoleskan gel pada perut Maura, kemudian Dokter Cathy menempelkan alat USG ke perut datar Maura. Tatapan Dokter Cathy tertuju pada alat monitor USG.
"Nyonya, selamat anda hamil lagi! Usia kehamilan anda 6 Minggu," jelas Dokter Cathy dengan rona bahagia.
Maura membulatkan matanya dengan sempurna, bibirnya terlihat bergetar karena menahan tangis. "Benarkah, Dok? Dokter tidak bohong kan?"
"Tidak, Nyonya. Saya lihat ada dua kantung. Anda akan melahirkan bayi kembar," jelas Dokter Cathy lagi dengan antusias.
"Benarkah, Dok? Apakah benar begitu?" Kali ini Dave yang bertanya.
"Iya, tuan. Namun untuk kehamilan kali ini, saya harap anda dan istri anda menjaga janin dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan istri anda tidak makan atau makan makanan yang tidak bergizi! Mengingat istri anda mempunyai riwayat keguguran, kandungan istri anda terbilang cukup rawan dan sensitif. Dan Nyonya, anda harus benar-benar menjaga ekstra kehamilan kali ini. Harus dipaksakan makan makanan yang bergizi!" Papar Dokter Cathy panjang lebar.
"Tentu saja, Dok. Saya akan menjaganya. Dave anak kita. Kita akan memiliki bayi kembar!" Maura menggenggam erat lengan suaminya.
"Iya, sayang. Semoga ibu dan janinnya sehat selalu ya, sayang. Aku berjanji akan lebih menjagamu dan calon anak kita," Dave mencium kening Maura.
Dokter Cathy tersenyum menatap pemandangan yang ada di depan matanya, ia selalu bahagia melihat sepasang suami istri berhasil mendapatkan calon buah hati. Itulah yang membuatnya betah menjadi dokter spesialis kandungan.
__ADS_1
Setelah selesai pemeriksaan, Dave segera menebus obat dan vitamin untuk Maura. Ia juga membeli kursi roda untuk Maura. Dave bertekad dalam hatinya untuk menjadi suami dan calon ayah yang siaga.
Hallo readers. Mohon maaf author baru update. Sedikit pemberitahuan, sedikit episode lagi novel ini akan segera tamat. Stay tune terus ya sampai akhir. Terima kasih 🤗🤗