
"Kau sudah siap?" Tanya Valerie seraya menuntun Razel menuju kursi roda.
Hari ini adalah hari operasi mata untuk Razel. Dave sudah menemukan donor mata yang cocok untuk Razel. Razel menjalani operasi di Europeen Hospital. Tentunya operasi ini menghabiskan dana yang sangat besar dan tentunya Dave jugalah yang membiayai semua perawatan Razel termasuk operasinya hari ini. Setiap hari Valerie menemui Razel untuk mengetahui kabar teman sekelasnya itu. Valerie melihat Razel sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus untuk operasi bedah.
"Val, aku deg-degan" Razel menggenggam lengan Valerie.
"Tidak apa-apa kau pasti bisa!" Valerie menuntun Razel dan mendudukan pria itu di kursi roda. Semua perawat sudah siap untuk operasi Razel. Mereka akan mendorong kursi roda itu, namun Valerie mencegahnya.
"Biar aku saja yang mengantarkan Razel ke ruang bedah," pinta Valerie dengan ramah dan sopan. Para perawat itu menganggukan kepalanya.
Valerie segera mendorong kursi roda Razel, orang tua Razel tampak terharu melihat kebaikan Valerie. Saat bersama Valerie, Razel kembali ceria dan melupakan kesedihannya.
"Val, aku tidak sabar untuk dapat melihat kembali, " ungkap Razel dengan ceria.
"Benarkah? Siapa orang pertama yang ingin kau lihat?" Tanya Valerie ingin tahu, dia berharap namanya lah yang akan disebutkan Razel.
Razel tersenyum, Razel membayangkan ia ingin sekali melihat wajah gadis yang mendorong kursinya kini. Namun rasa itu ia tepis, Razel adalah pria yang biasa tidak mapan dan tidak kaya. Ia tak ingin bermimpi terlalu tinggi untuk bersama Valerie yang sangat sempurna.
"Aku ingin melihat kedua orang tuaku," sahut Razel .
Valerie merasa lemas dengan jawaban Razel, hatinya merasa kecewa. Rasa apakah ini sebenarnya? Valerie tidak memahami hatinya akhir-akhir ini.
"Sudah sampai, Razel. Kau harus semangat untuk operasi hari ini! Aku akan menunggumu sampai kau melihat lagi," Valerie berjongkok dan memegang pipi Razel lembut.
Razel mengangguk, kemudian Eric dan Esme berjalan menghampiri Razel untuk memberikan semangat. Valerie hanya memandang keluarga kecil itu dengan senyum tipis, ia sangat takut setelah operasi Razel berhasil, Razel akan menjauhinya dan memulai hidup tanpanya. Sebenarnya rasa apa ini? Valerie sangat terganggu dengan isi hatinya sendiri.
Para perawat langsung membawa Razel menuju ruang operasi, Valerie dan kedua orang tua Razel tak berhenti memanjatkan doa untuk kelancaran operasi hari ini.
__ADS_1
*****
"Bagaimana Dok apa benar istri saya hamil?" Tanya Dave tak sabar saat melihat Dokter Julie melakukan USG pada perut Maura.
"Benar, tuan. Istri anda tengah hamil. Usia kehamilannya baru 8 Minggu," papar Dokter Julie, ia memperlihatkan kantung bayi yang terlihat masih sangat kecil.
"Dave, aku benar -benar hamil!" Maura berkata dengan gembira.
Dave tersenyum senang, ia menciumi rambut Maura dengan bahagia. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah dan bayi itu pun akan menguatkan hubungannya bersama Maura.
"Tapi maaf, tuan! Istri anda mengalami malnutrisi. Apa anda jarang makan, Nyonya?" Tanya Dokter Julie, Maura menganggukan kepalanya. Memang akhir-akhir ini ia tidak berselera sama sekali untuk makan.
Dokter Julie tampak mengangguk-nganggukan kepalanya, ia memperhatikan catatan yang ditulisnya tadi. "Tekanan darah Anda sangat rendah, Nyonya. Anda juga malnutrisi. Usia kehamilan trimester pertama sangat rentan, Nyonya. Saya sarankan anda perbanyak makan buah dan sayuran, khususnya makanan yang mengandung asam folat dan zat besi."
"Apakah malnutrisi berbahaya pada ibu dan janin, Dok?" Dave tampak sangat khawatir, senyumnya memudar seketika. Ia sangat takut sesuatu yang buruk menimpa istrinya.
"Berbahaya jika dibiarkan. Tapi Nyonya harus dipaksakan untuk makan khususnya makan makanan bergizi. Nanti juga saya akan berikan resep vitamin untuk ibu dan jabang bayi yang tengah dikandung. Trimester pertama itu adalah masa pembentukan organ penting seperti jantung dan otak. Maka sangat disarankan ibu hamil tercukupi kebutuhan vitamin dan nutrisinya," Dokter Julie menjelaskan dengan sangat detail.
Setelah pemeriksaan usai, Dave segera menebus resep yang sudah ditulis Dokter Julie. Ia segera membayar ke area kassa. Dave menggandeng lengan Maura dan membukakan pintu mobil dengan hati-hati. Mulai hari ini ia bertekad untuk menjadi suami yang siaga bagi istrinya.
Maura menyenderkan kepalanya di bahu Dave yang tengah menyetir. Saat Dave melewati polisi tidur, Dave segera memelankan kecepatannya. Ia tak ingin Maura merasakan guncangan di sekitarnya.
"Dave, kau berlebihan sekali!" Maura tertawa.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan calon bayi kita," Dave tersenyum memamerkan giginya yang putih.
Setelah sampai rumah, Dave segera menggendong Maura menaiki tangga. Ia kemudian membantu Maura merebahkan tubuh istrinya di atas kasur.
__ADS_1
"Dave, sungguh ini berlebihan sekali! Kau tak perlu seperti itu. Aku baik-baik saja," cebik Maura dengan nada manja.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tak mau istriku lelah," Dave menselonjorkan kaki Maura dan memijatnya dengan lembut.
"Dave, ternyata kau seorang budak cinta akut."
"Tidak apa-apa, aku bangga menjadi budak cinta istriku sendiri," sahut Dave seraya tangannya masih memijat kaki Maura dengan lembut.
"Pasti bersama Rebecca kau seperti ini juga?"
"Mengapa menjadi membahas mantan sih?" Batin Dave dengan was-was, ia takut Maura akan terpancing emosi padanya.
"Dave, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa benar kau melakukan ini juga pada Rebecca?" Maura mulai kesal melihat suaminya yang hanya diam seribu bahasa.
"Tidak, sayang. Lagi pula aku dan Becca tidak sampai ke jenjang pernikahan. Tentu saja perlakuanku padamu dan padanya berbeda 180 derajat," Dave tampak meluruskan kesalahpahaman yang Maura tuduhkan.
"Awas saja ya jika kau berbohong!"
"Sayang, aku ambilkan buah ya? Kau tunggu di sini!" Dave mengalihkan pembicaraan.
Dave segera berjalan meninggalkan kamar, Dave menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Dave membuka lemari es dan mengambil buah yang ada di sana.
"Sayang, kau mau apel?" Tanya Dave saat ia memasuki kamar Maura.
Maura menganggukan kepalanya, Dave mengupas apel itu dengan telaten. Maura begitu bahagia bisa diperhatikan oleh Dave. Ia merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia.
"Dave, terima kasih. Aku sangat bahagia," Maura tersenyum dan mencium pipi suaminya.
__ADS_1
Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Istri Kesayangan Nino. 🤗
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...