Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Menemui Jaksa Leo


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Hari ini Dave sudah berada di kota Annecy lagi. setelah kejadian bertengkar dengan Maura, Dave langsung mengantarkan gadis itu tepat di depan rumah Richard, kakeknya Maura.


Hari ini ia terbang ke Perancis bagian tenggara, untuk meyakinkan Jaksa Leo agar mengizinkan Maura menikah dengannya. Tentunya Dave akan berusaha mengambil hati Jaksa Leo agar Jaksa Leo menyetujui niatnya untuk menikahi Maura, dengan begitu Jaksa Leo tidak akan mempersulit rencana yang sudah Dave susun dengan sangat matang.


"Ada apa kau kemari?" Jaksa Leo menatap sengit Dave yang sedang duduk di seberang sofa. Mereka tampak duduk saling berhadapan.


"Saya kemari ingin meminta izin paman untuk menikahi Puteri paman," tutur Dave lembut, ia harus sabar untuk mengambil hati Jaksa Leo.


Jaksa Leo tampak memperhatikan raut wajah Dave, Dave tampak tenang dan berwibawa.


Jaksa Leo kemudian membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Ia tampak menimbang-nimbang dan berpikir.


"Apa kau tidak marah saat Maura menjebakmu?" Tanya Jaksa Leo seraya menatap Dave penuh dengan selidik.


"Cih ! Tentu saja aku marah, bahkan aku akan membalaskan dendamku pada puterimu !! Lihatlah aku tidak akan membiarkannya bahagia ketika hidup bersamaku!" Batin Dave.


"Tidak, paman. Aku memakluminya. Memang aku yang salah, aku tidak bertanggung jawab. Namun aku akan memperbaiki semuanya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Dan mengenai Maura, aku mengerti posisinya paman. Maka dari itu, aku jauh- jauh terbang dari Paris untuk meminta restu langsung dari paman," Dave berkilah, sepertinya kepandaiannya berbohong meningkat akhir-akhir ini. Dave tampak menghalalkan segala cara untuk menjadikan Maura sebagai istrinya.

__ADS_1


Jaksa Leo tampak terhanyut dengan ucapan Dave. Tanpa ia sadari, Jaksa Leo sudah masuk perangkap pria jangkung itu.


"Aku tidak sabar untuk menikahi Maura, Paman. Jika boleh aku ingin pernikahan dipercepat. Aku ingin resepsi diadakan dua minggu lagi," Dave mengutarakan niatnya.


"Apa? Dua Minggu?" Jaksa Leo tampak kaget. Ia menatap Dave, jaksa Leo melihat kesungguhan di raut wajah pemuda itu. Jaksa Leo ingin sekali menolak, namun ia teringat dengan kebahagiaan Maura. Jika Maura bahagia dengan Dave, mau tidak mau ia pun harus memberikan restu kepada Puteri semata wayangnya untuk menikah dengan pria yang ada di hadapannya ini. Bagaimana pun kebahagiaan Maura adalah hembusan nafasnya. Ayah mana yang tidak senang melihat anaknya bahagia?


"Jadi bagaimana, paman?" Tanya Dave tidak sabar.


"Paman serahkan semuanya kepada Maura, karena dia yang akan menjalani pernikahan, bukan paman. Tapi paman mohon tolong bahagiakan dia!"


Dave senangnya bukan main, ia seperti menemukan sebuah oase di padang gurun yang panas dan tandus. Sebentar lagi ia akan membalaskan dendam nya pada Maura. "Pasti paman, Dave akan membahagiakannya."


"Dia ada di kamar, sudah dua hari ini dia sakit karena membelikan kakeknya Raclete. Dia memang tidak kuat dingin."


Dave tampak kaget mendengar Maura sakit, ia jadi teringat ketika pertengkarannya dua hari yang lalu.


"Apa boleh Dave menemuinya?" Dave bertanya dengan hati-hati.


Jaksa Leo menganggukan kepalanya pelan. "Kamar Maura ada di lantai 2. Di sebelah sana!" Jaksa Leo menunjuk sebuah pintu kamar yang bercat nude.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Jaksa Leo, Dave langsung menaiki tangga. Kini ia sudah ada di depan kamar Maura. Hatinya tampak biasa-biasa saja saat Dave akan bertemu dengan gadis yang pernah dicintainya itu. Berbeda dengan dulu, ia tampak gugup dan jantungnya selalu berdebar-debar dengan cepat. Mungkinkah rasa cinta di hatinya telah musnah dan tak berbekas?


Dave mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari dalam kamar. Dave memberanikan diri untuk membuka kamar Maura, ia melihat Maura sedang terbaring ditutupi selimut yang membungkus tubuhnya dengan hangat. Ada seekor kucing juga di kakinya yang sedang tertidur pulas. Dave memperhatikan kucing itu, ia teringat dengan kucing yang Maura ambil di pinggir jalan ketika mereka akan pergi jalan-jalan. Rupanya Maura mengadopsinya.


Dave berjalan hati-hati, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Dave memperhatikan Maura yang sedang tidur, wajah Maura sangat cantik ketika tidur namun Dave menyangkalnya.


Maura menggeliat pelan, ia kemudian memutar tubuhnya sehingga posisi tubuhnya menghadap Dave.


"Kau bisa tidur dengan damai seperti ini, sedangkan aku? Sejak aku keluar dari penjara, aku tidak pernah tidur dengan nyenyak. Setiap waktu, hatiku merasa sakit saat mengingat pengkhianatan mu. Tapi lihatlah nanti ! Setelah kau menikah denganku, kau akan membayar mahal atas semua yang kau lakukan padaku,"


maki Dave dalam hatinya.


"Razel, bagaimana keadaanmu?" Gumam Maura tapi masih terdengar oleh Dave, rupanya Maura sedang mengigau. Dave mengepalkan tangannya geram saat mendengar Maura menyebut nama pria lain. Ada sebagian hatinya yang merasa terusik. Dave semakin bertekad Bagaimana pun ia harus memiliki Maura seutuhnya.


Dave memperhatikan isi kamar Maura, karena untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar seorang gadis selain kamar adiknya, Valerie. Nampak banyak bingkai foto Maura bersama Valerie. Mata Dave terhenti saat melihat bingkai foto kecil di atas nakas. Di foto itu terlihat dirinya dan Maura berselfie dengan senyum yang lebar. Ia mengingat Foto itu diambil ketika mereka mengunjungi Cineaqua Aquarium.


"Mengapa foto itu tersimpan di sana? Apa Maura sengaja menyimpannya? Apa aku cukup penting di hatimu?"


Dave menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak boleh kalah dengan perasaannya yang lain. Ia harus menjalankan rencana awalnya, yaitu membalaskan dendamnya pada Maura.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2