
Selepas dari klinik, Fariz langsung mengajak Nesya pulang. Alih-alih akan mendapat perlakuan manis dari suaminya, Nesya justru mendapat tatapan tajam dari Fariz.
“Apa maksudmu hah?” langsung menghempaskan Nesya ke sofa, Fariz terlihat sangat murka.
Nesya diam, gadis itu malah sibuk mengusap tangannya yang terasa perih karena tak sengaja berbenturan. Tiba-tiba Fariz menggebrak meja membuat Nesya terperanjat.
“Aku muak!” teriak Nesya dengan nafas memburu, matanya memerah seraya menahan tangis.
Fariz tersenyum sinis, dia lantas mencengkeram tangan Nesya yang masih dibalut perban. Lelaki itu membuka pakaiannya, entah kenapa hanya melihat Nesya di bawahnya membuat tubuhnya seketika terasa panas.
“Turun dari tubuhku setan!!” Nesya mencoba mendorong tubuh kekar itu, namun sang pemilik sedikit pun tidak bergeser.
“Tidak, aku ingin memberimu pelajaran karena sudah berani berbohong. Setelah itu aku akan membunuh kakakmu karena kamu telah melanggar perjanjian!” bibir seksi itu menggigit kecil telinga Nesya membuat gadis itu menggelinjang.
“Hentikan! Ini sangat menjijikkan!” Nesya menutup rapat bibirnya agar tidak mengeluarkan suara aneh yang dapat memancing Fariz.
“Jangan ditahan Sayang..” suara berat setengah berbisik itu membuat tubuh Nesya meremang
__ADS_1
“Ahh...” Nesya menampar mulutnya saat tak sengaja mendesau, dilihatnya Fariz yang mulai melepas satu persatu kancing bajunya, dengan cepat Nesya menghentikan tangan itu.
“Tolong, jangan siksa aku seperti ini Kak.” perlahan bulir-bulir bening membasahi pipi Nesya.
“Menyiksa bagaimana hmm? Apa kamu tahu perbedaan penyiksaan dengan kewajiban??” Fariz berusaha menyembunyikan kebahagiaannya melihat Nesya yang menangis di bawah kungkungannya.
Terang saja, ini memang bagian dari rencana Fariz, bahkan dia setiap malam melakukan hubungan intim berharap agar Nesya cepat hamil, dia juga sengaja menyekolahkan Nesya yang tentunya ada sesuatu di baliknya.
“Sakit Kak!!!” Nesya menjambak rambut Fariz.
“Kenapa masih sempit?!” Fariz menghentakkan tubuhnya, tak peduli dengan Nesya yang sudah menjerit-jerit meminta dilepaskan.
Hingga beberapa jam kemudian, Fariz menyudahi aktivitasnya, bersamaan dengan semburan lahar yang menghangatkan rahim Nesya. Dilihatnya Nesya yang sudah terkulai lemas, matanya tertuju pada tangan mungil itu yang kembali berdarah.
“Hei cepat bangun!! Bersihkan tubuhmu!” hardik Fariz si lelaki tak berhati itu.
Nesya menggeleng samar, hanya bisa menangis dalam diam, Nesya benar-benar terpukul. Merasa bahwa dirinya hina meskipun yang dilakukan Fariz barusan memang sudah sah mengingat status mereka yang sudah menikah. Namun bagi Nesya, dirinya tetap saja kotor, karena Fariz menikahinya tanpa persetujuan dari Abi.
__ADS_1
“Bangun atau aku akan mengulanginya lagi sampai kau pingsan!!” ancamnya membuat Nesya ketakutan, apalagi saat Fariz kembali berada di atasnya.
“Ja-ngan..” lirih Nesya, gadis itu merasakan jika tubuhnya terangkat, rupanya Fariz membawanya ke kamar mandi.
“Mandi sendiri, jangan pernah berani mengakhiri hidup sebelum aku yang menyuruh. Jika kamu melakukannya lagi, maka aku akan menyiksamu lebih dari ini!” ujarnya seraya meninggalkan Nesya yang masih termenung.
Perlahan, Nesya memulai ritual mandinya. Air mata yang seakan tiada habisnya terus merembes menandakan betapa rapuhnya dia. Fariz yang sekarang hanya memberinya luka, menorehkan sembilu di hatinya.
“Kenapa hiks? Aku nggak kuat lagi, aku mau kak Abi..” gadis itu menangis, apalagi merasakan perih dan sakit di sekujur tubuhnya.
Like
Komen
__ADS_1