Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 25


__ADS_3

Keesokan harinya, Nesya berjalan mengendap-endap menuju pintu utama. Gadis itu sudah membulatkan tekadnya untuk pergi dari neraka ini, jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, tidak banyak yang dia bawa. Nesya hanya membawa dompet kecil yang ia selipkan di sakunya.


Fariz pun tidak tahu menahu mengenai rencana kabur perdana itu, dengan tenangnya dia tertidur tanpa tahu bahwa Nesya sudah berhasil lolos dari gerbang yang menjulang tinggi itu.


“Ayo Nesya, kamu pasti bisa!” Nesya berlari dengan langkah yang terseok-seok, ia masih merasakan nyeri di area intinya akibat ulah Fariz kemarin.


Setelah dirasa cukup jauh, Nesya mulai memperlambat langkahnya, matanya melirik kesana ke mari. Sepi, hanya itu yang dilihat Nesya, namun dia tetap berusaha tenang, menyingkirkan rasa takutnya yang malah datang di saat yang tidak tepat.


Mendekati area pasar, dimana sudah banyak orang-orang yang berlalu lalang. Nesya baru bisa bernafas lega, meskipun dia tidak tahu posisinya sekarang, namun dalam pikirannya yang terpenting adalah menjauh dari Fariz.


Brukk


Nesya terhuyung, saat tiba-tiba seorang lelaki bertopi dan tak lupa dengan masker yang menutupi wajahnya menabrak dirinya. “Maaf, aku buru-buru!”


Lelaki itu langsung ngacir tanpa membantu Nesya yang masih terduduk seraya mengusap lututnya. Namun saat dia meraba sakunya, Nesya langsung panik dan baru sadar bahwa orang tadi telah mengambil dompetnya tanpa izin alias nyopet.


“Sialan! Mana udah kehilangan jejak lagi, awas aja kalau ketemu, aku sumpahin sekarang dia masuk parit!” ujar Nesya dengan berapi-api. Sesaat kemudian, dia mengusap perutnya, dimana para cacing gemes sudah bernyanyi ria meminta makan.

__ADS_1


“Aku harus ke mana??” Nesya benar-benar seperti orang linglung, berjalan tak tentu arah.


Sementara Nesya yang tengah kebingungan, seorang pria tampan terlihat gusar setelah berhasil mengecek CCTV, rahangnya mengeras, dia merasa bahwa Nesya benar-benar sudah kelewatan. “Cari di setiap sudut, bila perlu ke lubang hidung sekalian!”


Sering memberi perintah seenak jidat membuat para anak buahnya kesal sendiri, apalagi belakangan ini Fariz sering menyuruh mereka melakukan pekerjaan di luar nalar, terkadang membuat rujak, menyanyi, ataupun menjadi pelawak dadakan. Fariz juga bingung dengan dirinya yang sering menginginkan sesuatu, tak jarang juga dia mengalami mual di pagi hari serta hilangnya selera makan.


“Kamu benar-benar Nesya... Setelah ini aku tidak akan mengampunimu!” ujarnya setelah mematikan ponselnya, dia meraih kunci mobil kemudian ikut mencari keberadaan Nesya, dia yakin bahwa gadis itu belum jauh.


Sementara itu, seorang gadis tampak berdebat dengan lelaki tampan yang merupakan anak buah Fariz. “Aku tidak mau!” ucapnya sambil melipat tangannya.


“Ha? Surga dunia??” Nesya memiringkan kepalanya, menatap bingung pada lelaki yang berpakaian serba hitam itu.


“Lupakan, sebaiknya sekarang kita pulang!” kali ini dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan istri bosnya.


“Jangan sentuh aku! Aku mau pulang kalau kamu ajak aku makan es kelapa itu!” Nesya menunjuk sebuah kedai es kelapa muda di ujung jalan.


“Oke. Tapi setelah ini pulang!”

__ADS_1


Nesya mengangguk, tak peduli dengan tatapan heran dari anak buah suaminya, Nesya terlihat sangat menikmati es kelapa muda itu, sesekali dia menawarkan pada lelaki yang duduk di depannya. Sementara yang ditawari masih asik dengan ponselnya.


“Udah, bayar sana!”


“Sekarang pulang!”


“No! Aku lapar, ehh mau ituu!!” serunya sambil menarik-narik ujung baju lelaki itu.


“Astaga.. Bos, setelah ini aku harus mendapat bayaran berkali-kali lipat.” matanya melihat Nesya yang dengan senang hati membantu menghabiskan uangnya.


“Ini Mas ganteng, makasih ya untuk semuanya..” ujar Nesya seraya mengembalikan dompet lelaki itu yang hanya tinggal KTP, SIM, dan beberapa uang gopek. Seketika lututnya terasa lemas, merasakan dompet yang tadinya tebal kini menjadi langsing akibat ulah istri atasannya.


Like


Komen


 

__ADS_1


__ADS_2