
“Sya, pulang bareng yuk!” Fabian menepuk jok belakang motornya, dengan senyum penuh harap, dia menatap gadis manis itu yang setiap hari mengusik hatinya.
“Ogah!” Nesya menolak mentah-mentah, dia kembali teringat dengan peristiwa menyebalkan saat dirinya bersama Fabian.
“Kenapa? Ayo lah... Kali ini aja kok.” bujuk Fabian, dia tidak akan menyerah sebelum Nesya mengatakan iya. Pemuda itu tidak tahu bahwa Nesya sedang berusaha menghindar karena ancaman Fariz beberapa waktu yang lalu.
“Ish.. Kalau aku bilang nggak ya enggak!” jawab Nesya ketus, lama-lama dia jengkel harus menghadapi dua lelaki yang tidak ada beresnya. Yang satu tukang ancam, dan yang satunya lagi pemaksa.
“Dih galak amat. Buruan naik, udah mau hujan loh,” tangannya menunjuk ke arah langit, memang benar jika sebentar lagi akan turun hujan.
Nesya menghela nafas, dia pun mengiyakan permintaan Fabian membuat lelaki itu senang bukan main. Di dalam hati Nesya terus berdoa, semoga Fariz tidak mengetahui jika dia masih berhubungan dengan Fabian meski sebatas teman.
“Lah, kok ke sini??” dahinya berkerut, memukul punggung Fabian yang malah mengajaknya mampir ke salah satu restoran. Makin paniklah Nesya karena dia tidak menuruti ucapan Fariz tadi pagi.
“Ayo masuk,” Fabian menarik tangan Nesya dan membawanya masuk karena gadis itu malah diam.
“Nggak, aku mau pulang aja,” Nesya hampir berdiri dari duduknya, namun Fabian menahannya.
__ADS_1
“Kenapa sih? Buru-buru banget, kakak kamu nggak akan marah kok,” ujarnya seperti mengetahui isi kepala Nesya.
Fabian mulai memesan makanan, hatinya bertanya-tanya karena Nesya terlihat sangat gusar, apa sebegitu takutnya gadis itu pada sang kakak??
Saat bertanya mau makan apa, gadis itu hanya menjawab terserah. Sepertinya Fabian mengajak Nesya di waktu yang tidak tepat.
“Ayo dimakan.” Fabian melirik Nesya yang hanya mengaduk-aduk makanannya.
“Atau mau aku suapin?” seketika ucapannya membuat mata Nesya membulat, dia menatap tajam pada lelaki tampan yang menunjukkan senyum polos tanpa dosa.
Fabian tertawa, melihat Nesya yang sangat lucu, “pelan-pelan Sya, nggak ada yang mau rebut kok. Itu baksonya dikunyah dulu, baru ditelan!”
“Uhuk!” Nesya terbatuk, buru-buru Fabian mengambil minuman dan memberinya pada Nesya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan geram. Tangannya mengepal kuat, bahkan kukunya hingga memutih, pria itu menggeratkan giginya, menatap sepasang anak manusia yang membuat darahnya mendidih.
“Oh jadi begini?? Bagus Nesya.. Bagus!”
__ADS_1
Seketika oksigen di restoran itu terasa menghilang, Nesya mengatur nafasnya karena tiba-tiba dadanya terasa sesak. Tangannya yang sudah gemetar langsung meremas roknya. Suara berat dan khas, Nesya sudah hafal suara itu, ia memberanikan diri memutar kepalanya sedikit demi sedikit.
“Astaga!” pekiknya karena Fariz sudah berada tepat di sebelahnya, Nesya langsung gelagapan seperti seorang istri yang kepergok selingkuh.
“Pulang!” titah Fariz, mimik wajah yang datar dan dingin menambah kesan menyeramkan pada pria itu.
“Tapi Kak, kami belum se-" Fabian langsung menutup mulutnya saat Fariz menatapnya tajam. Lelaki itu hanya bisa menatap nanar pada Nesya yang diseret oleh Fariz.
“Kak lepasin! Tangan aku sakit,” Nesya menggigit tangan Fariz karena pria itu menyakiti tangannya.
“NESYA!!”
“Eh monyet!” Nesya terjingkat, mendengar teriakan Fariz bagaikan tiupan sangka kala, hingga tanpa sadar dia mengucapkan latah sambil menunjuk Fariz yang sudah tersulut emosi.
Like
Komen
__ADS_1