Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Permintaan Dave


__ADS_3

Dave tampak membolak-balikan sebuah buku brosur berisi gambar-gambar rumah yang ia akan beli. Rencananya Dave akan membelikan Maura rumah dan segera pindah dari apartemen. Saat sedang asyik melihat-lihat buku brosur itu, terdengar bell berbunyi. Dave segera menghampiri pintu dan memencet tombol interkom apartemen, betapa terkejutnya Dave saat melihat mertuanya Jaksa Leo dan Shopie yang berkunjung ke apartemen nya.


"Dad, Mom?" Sapa Dave saat sudah membukakan pintu.


"Ayo silahkan masuk!" Lanjut Dave sambil membukakan pintu apartemennya lebar-lebar.


Jaksa Leo dan Sophie tampak kaget saat melihat isi apartemen yang sangat berantakan, tampak bantal sofa yang berhamburan ke lantai, banyaknya sampah bungkus makanan ringan, dan kekacauan lainnya. Sophie hanya menggelengkan kepalanya, ia sangat bisa menduga Maura masih belum pintar untuk mengurus rumah.


"Mom, Dad? Ayo duduklah!" Dave mengambil sofa yang berhamburan di lantai, kemudian ia menaruh bantal itu ke tempat semula.


"Terima kasih Dave. Di mana Maura?" Tanya Jaksa Leo. Matanya menyapu sudut apartemen, ia sangat merindukan Puteri kesayangannya.


"Dave aku membuat kue jahe untukmu!" Seru Maura heboh seraya menenteng kue yang masih panas.


Maura melihat kedua orang tuanya tengah duduk di sofa, Maura segera menaruh kue jahe itu dan berlari menuju orang tuanya.


"Mommy, Daddy?" Teriak Maura bahagia, gadis itu langsung nenghambur memeluk Sophie dan Leo.


"Daddy merindukanmu, Nak!" Leo memeluk putrinya.


"Mommy juga merindukanmu. Di rumah tampak sepi sekali sejak kau menikah dan memutuskan tinggal di apartemen," keluh Sophie, tatapannya menjadi sedih.


"Tenang saja, Mom! Nanti Mommy tidak akan kesepian jika mempunyai cucu," timpal Dave, ia kemudian menghampiri keluarga kecil yang sedang melepas rindu itu.


"Mommy berdoa semoga kau segera hamil ya, Nak? Agar Mommy segera menggendong cucu," harap Sophie dengan tulus.


"Mau hamil bagaimana, Mom? Kami bahkan belum melakukan itu. Hubungan kami membaik pun baru beberapa hari ini," batin Maura.


"Ayo kita duduk!" Dave segera membimbing Jaksa Leo dan Sophie menuju sofa. Kemudian Maura mengambil piring yang berisi kue jahe yang masih panas, ia juga membuat teh hangat.


"Anak Daddy sudah pintar memasak ya?" Leo merasa bangga saat melihat Maura menyajikan kue-kue itu di atas meja.


"Ayo makanlah, Dad! Maura yang membuatnya."


Dave, Leo, dan Sophie segera mencicipi kue jahe itu. Mereka tampak saling berpandangan, menurutnya rasanya sangat hambar. Tidak ada rasa manis, hanya ada rasa jahe yang sangat kuat dan menyengat


"Bagaimana enak kan Mom, Dad, Dave?" Tanya Maura antusias.


"Sayang.. em-" Sophie mencoba untuk jujur.

__ADS_1


"Ini enak kok, iya kan Mom, Dad?" Dave tampak memberikan kode lewat matanya.


"Iya ini enak sekali!" Leo menimpali, kemudian ia segera menyeruput teh hangatnya untuk menetralisir rasa dari kue jahe itu.


Maura tampak tersenyum dengan sangat bangga, "Maura hebat kan, Dad? Maura bisa memasak."


"Iya, Nak. Kau memang Puteri terhebat Daddy," Leo tersenyum simpul, ia kemudian menatap Sophie dan Dave yang sedang memaksakan senyumnya.


"Sayang, biar aku suapi ya?" Maura mengambil satu keping kue jahe itu, ia kemudian menyuapkannya ke mulut Dave hingga mulutnya tampak penuh dengan kue jahe itu.


"Syukurlah rumah tangga mereka sangat harmonis, tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan," batin Leo saat melihat adegan mesra Putri dan menantunya.


"Oh ya Dave, kapan kalian akan pindah rumah? Jika kalian mempunyai anak nanti, lingkungan apartemen tidak baik untuk kalian," Sophie tampak mengingatkan.


Dave segera menyerahkan buku brosur milik real estate ternama di Paris kepada mertuanya itu.


"Dave sudah berniat untuk membeli rumah untuk Maura, rencananya dalam waktu dekat ini kita akan pindah."


"Benarkah Dave kita akan pindah?" Maura bertanya dengan antusias, Dave menganggukan kepalanya. Maura segera menghambur memeluk Suaminya itu. "Terima kasih, Dave."


Sophie dan Leo tampak terharu melihat pemandangan yang ada di depannya, mereka sangat bersyukur Dave bisa memaafkan Maura dan memperlakukannya dengan baik.


"Maura?" Dave membalikan tubuh Maura, hingga posisi mereka saling berhadapan.


"Ya?"


"Apa kau merasa bahagia menikah denganku?" Tanya Dave, tangannya merapihkan anak rambut Maura yang menutupi pipi mulusnya.


"Aku sangat bahagia, bagaimana denganmu?" Maura mengelus pipi Dave, ia kemudian mencium lembut pipi suaminya.


"Sejak kapan kau menjadi agresif seperti ini hm?" Dave memeluk Maura dan menggelitiki perutnya.


"Dave itu menggelikan, hentikan!" Maura tertawa, ia kemudian mencoba menghindari Dave.


Mereka tertawa bersama menghangatkan kamar mereka yang dingin dan sunyi, mengobrol dengan hangat saling bercerita satu sama lain.


"Oh ya Dave aku ingin bertanya sesuatu padamu," tatapan Maura berubah menjadi serius, ia kemudian menyenderkan kepalanya dan menjadikan tangan kiri Dave sebagai bantal.


"Kau mau bertanya apa?"

__ADS_1


"Tentang anak, aku ingin segera punya anak."


Dave mengernyitkan dahinya bingung, mengapa Maura terlihat ingin sekali memiliki anak darinya? Padahal sebelumnya Dave lah yang ingin segera memliki anak untuk mengikat gadis itu untuk selalu ada di sisinya.


"Aku juga ingin segera mempunyai anak, tapi bagaimana ? Kau saja masih datang bulan," Dave tampak menggoda Maura hingga membuat pipi gadis itu bersemu merah.


"Sabar ya!' Maura tertawa ia kemudian mengambil selimut, menyelimuti tubuhnya dan tubuh Dave.


"Ayo kita tidur! Aku sudah mengantuk," Maura mencari posisi yang nyaman. Dave segera memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Dave mengelus rambut Maura hingga gadis itu terlelap dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu, Maura."


Dave segera melihat kalung yang melingkar di leher Maura, ia ingin mengambil chip itu. Dave sudah sangat percaya dengan istrinya, ia takut Maura akan sangat marah saat mengetahui isi kalung itu berisi alat sadap. Saat Dave akan mengambil chip itu, Maura menggeliat pelan hingga Dave tak meneruskan niatnya. Dave memeluk Maura kembali, mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.


***


Dave melajukan mobilnya menuju tempatnya bekerja, saat berada di perjalanan ia melihat mobil sport berwarna hitam, ia sangat mengenali mobil itu. Dave segera melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, ia kemudian menyalip mobil itu dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil tadi hingga membuat pengemudi terlonjak kaget dan segera menginjak rem dengan sangat kuat. Untung jalanan itu terlihat sepi, hanya beberapa mobil yang melintasi jalanan itu.


"Tuan Dave?" Sapa pengemudi itu saat turun dari mobilnya, pengemudi itu adalah Roberto Alexander partner bisnisnya sekaligus rivalnya saat ini.


"Roberto, aku tidak ingin berbasa-basi denganmu, tolong kau jauhi istriku!" Dave memperingatkan langsung pada intinya.


Roberto tersenyum sinis, ia menatap pria yang ada dihadapannya itu dengan tatapan menantang. "Jika aku tidak mau?"


Rahang Dave tampak mengeras, tangannya mengepal dan tatapannya gelap tak terbaca. Ia segera menghampiri Roberto dan menarik kerah kemeja pria itu. "Apa kau tidak bisa ku peringatkan baik-baik?"


Roberto tersenyum meremehkan, ia segera melepaskan tangan Dave yang menarik kerahnya. "Kau memperlakukan istrimu dengan tidak baik, sebaiknya kau berpisah dengan istrimu, tuan!"


"Jangan mencoba memancing emosiku!" Teriak Dave dengan geram, matanya berkilat-kilat menahan emosi. Sementara Roberto tidak terlihat terpancing dengan provokasi Dave.


"Aku sudah mencari tahu tentang masa lalu kalian dan istrimu adalah anak jaksa terkenal di Prancis. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia tahu, kau memperlakukan putrinya dengan sangat kasar."


"Kau jangan sok tahu dan merasa tahu segalanya tentang kehidupan kami! Hubungan kami sudah membaik akhir-akhir ini dan aku minta kau jangan merusaknya!" Bentak Dave dengan penuh ancaman.


Dave mendorong Roberto, hingga pria itu nyaris terjatuh. Namun Roberto tampak bisa mengatur keseimbangan tubuhnya. Roberto mulai terpancing dengan Dave, ia akan melayangkan pukulannya namun ia urungkan. Ia tak ingin ada pengendara lain yang melihat dan menyebarkan rumor yang tidak-tidak antara dirinya dan Dave.


"Perlakukanlah istrimu dengan baik, sebelum kau menyesal dan kehilangannya!" Roberto tampak melunak, ia menepuk pundak Dave kemudian meninggalkan Dave dan berlalu dari tempat itu.


"Lihatlah apa yang akan kulakukan pada perusahaanmu, jika kau masih berani mendekati Maura!!" Teriak Dave dengan berapi-api.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2