Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 9


__ADS_3

Bak sehabis menang undian, Nesya sangat terharu bahkan sampai meneteskan air mata, dilihatnya sosok yang selama ini dia rindukan, wajahnya yang tampan menyiratkan betapa letihnya Abi. Masih dengan posisi yang sama, dimana Fariz juga ikut menyaksikan pertemuan adik dan kakak itu meski hanya via telepon.


“Nesya baik-baik aja kak,” jawab Nesya meski hatinya terasa disayat-sayat, apalagi saat tangan Fariz mencubit pahanya agar Nesya tidak membocorkan semuanya.


“Tidak, kamu nggak baik-baik saja! Katakan kamu dimana Nesya, kakak akan membantumu agar terlepas dari manusia itu!” tangan Abi menunjuk Fariz.


Fariz berdecih, dengan tak tahu malunya dia menghisap leher Nesya, tangannya pun meraba-raba dada Nesya dan merem*snya. Abi melebarkan manik matanya, ia menatap Nesya yang memberontak sambil menangis.


“Bangs*t! Hentikan tindakan konyolmu itu Fariz!!” melihat Nesya yang menghadap Fariz karena kaus bagian depannya terangkat, sementara kedua tangannya digenggam oleh Fariz, Nesya tidak ingin kakaknya melihat tubuhnya yang banyak terdapat tanda-tanda merah.


“Hahaha, kalian lucu sekali! Apa kau tahu? Bahkan aku telah melakukan lebih dari itu!” Fariz menurunkan Nesya, ia mengambil makanan yang telah ia siapkan untuk gadis itu.

__ADS_1


“Nesya, kamu baik-baik saja kan?” tanya Abi karena tidak melihat Nesya, hanya terdengar tangis pilu yang Abi yakin itu dari adiknya.


“Jangan menangis! Untuk apa kamu menangis hanya karena aku merem*s punyamu? Bahkan aku sudah merasakannya tadi, apa kamu mau kita mengulanginya dan disaksikan langsung oleh kakak kesayanganmu?” ucap Fariz membuat Nesya menggeleng.


Sementara di seberang sana, Abi memegang dadanya. Sangat syok karena Fariz telah berbuat sejauh itu, perempuan yang ia besarkan dengan susah payah, menjaganya dengan baik, namun dalam sekejap ada lelaki yang merusaknya, menghancurkan masa depannya. Abi tidak bisa membayangkan betapa tertekannya Nesya.


Lagi-lagi dia terkejut, melihat Fariz kembali mengarahkan layar ponselnya pada Nesya, tampak Fariz memberikan benda itu pada Nesya dengan tangan yang satunya memegang piring. Pandangan Abi tertuju pada menu yang diberikan pada Nesya.


“Muntahkan Nesya!” teriak Abi, melihat cairan bening menetes di pipi Nesya.


“Telan!” berbanding terbalik dengan perintah Abi, Fariz malah menyuruh Nesya menelan makanan yang ada di mulutnya, bahkan dia tidak segan-segan mengancam Nesya agar gadis itu menurut.

__ADS_1


“Bagus..” mengusap kepala Nesya, Fariz tersenyum penuh kemenangan.


“Kak Abii..” Nesya merengek, merasakan kepalanya berputar-putar, seketika ia kedinginan, perutnya terasa diaduk-aduk, ingin muntah tapi Fariz melarangnya.


“Hah sudahlah, membosankan!” Fariz mematikan ponselnya kemudian mencopot kartu sim agar Abi tak bisa menghubunginya lagi.


“Hahaha rasakan itu!!” tertawa jahat mendengar Nesya muntah di kamar mandi, Fariz pergi dari kamar itu.


Sudah ditakdirkan menjadi orang kaya semenjak belum lahir, hidup Fariz memang jauh dari kata sulit, apapun yang dia inginkan, dalam sekejap bisa terwujud. Namun dulunya dia tidak pernah sombong, bahkan ia sering membantu Nesya dan Abi saat mereka memerlukan uang. Ayahnya bukan pemimpin perusahaan, melainkan seorang bos yang memiliki kekayaan dimana-mana, tanah, perkebunan, dan peternakan yang masing-masing sudah ada pengelolanya. Fariz hanya perlu menggaji dan sesekali mengontrol mereka.


Menelepon seseorang untuk mengurus acara pernikahannya besok, Fariz ingin mengikat Nesya semakin erat, apalagi kini benihnya sudah tertanam di rahim Nesya. Baginya ini belum seberapa, kedepannya dia akan membuat Nesya lebih menderita.

__ADS_1


Bagi jempolnyaaa...


__ADS_2