
Dave sudah mengganti pakaiannya dengan piyama, ia menyuruh Sekretaris Keenan untuk membawakan kebutuhannya selama di rumah sakit. Dave menuruti saran dari dokter agar Maura di rawat inap kan untuk kebaikan Maura dan janinnya.
Sementara keluarga Dave dan Maura sudah pulang sore tadi. Dave menyuruh mereka untuk pulang, namun mereka bersikeras untuk menjaga Maura. Untungnya Dave dapat Membujuk mereka bahwa ia akan menjaga Maura. Dave merasa tidak tega pada mereka jika mereka harus menginap di rumah sakit.
Petang berganti dengan malam, kamar inap yang ditempati Dave terasa hening karena Maura sudah tidur. Tadi Maura memaksakan untuk makan dan meminum obat penguat kandungan. Setelah itu Maura merasa mengantuk dan tertidur. Dave menatap wajah istrinya yang pucat dengan sendu. Ia mengusap rambut Maura sesekali ia mencium puncak kepala wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya.
"Baik-baik ya Nak di dalam perut Mommy mu! Kamu harus kuat dan harus terlahir ke dunia ini dengan keadaan sehat!" Lirih Dave, tangannya mengelus perut Maura yang masih datar.
Dave kemudian duduk di kursi sementara kepala nya menyender di sisi ranjang rumah sakit. Ia ingin terus menemani Maura tak peduli jika ia harus tidur di kursi.
Maura mengerjap-ngerjapkan matanya, ia terbangun karena rasa sakit yang hebat di perut bagian bawah yang menjalar ke belakang.
"Dave???" Seru Maura dengan panik.
"Kenapa, sayang ? Ada apa ?" Dave bertanya dengan cemas.
"Perutku sakit sekali, Dave!! Mulas," rintih Maura, kemudian ia menangis terisak.
Dave tak menjawab perkataan Maura, ia segera memencet tombol khusus untuk memanggil perawat. Kebetulan Dokter Cathy belum pulang dari rumah sakit, Dokter Cathy segera datang diikuti dengan 2 orang perawat di belakangnya.
"Dok, tolong istri saya! Perut istri saya sakit," teriak Dave dengan panik.
"Biar saya periksa dulu," Dokter Cathy mendekati Maura, ia membuka pakaian yang membalut tubuh bawah Maura. Tampak banyak darah keluar menodai celana Maura.
"Kita harus melakukan USG," seru dokter pada perawatnya, dua perawat tadi menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian.
"Tuan, nyonya maaf janin anda sudah turun. Ia tidak bisa bertahan," lirih dokter Cathy dengan wajah prihatin.
"Maksud dokter ?" Maura menangis dengan pandangan bingung.
"Janin anda sudah turun, Nona. Nyawa janin anda tidak bisa selamat," Dokter Cathy memperjelas hasil pemeriksaannya.
"Tidak, Dok. Tidak mungkin. Janin saya masih hidup, dia akan tumbuh dan lahir ke dunia," teriak Maura dengan suara yang begitu memilukan.
Mata Dave tampak memerah, matanya tampak basah namun ia menahan tangisannya. Ia begitu sedih saat mendengar calon bayinya sudah tiada, ia juga sangat hancur saat melihat Maura menangis histeris.
"Sayang, tenanglah!!" Dave memeluk Maura, ia berusaha menenangkan Maura.
"Dave, dokter bohong kan? Calon bayi kita masih hidup," Maura masih meraung menangisi janinnya yang telah pergi.
Sementara Dokter Cathy dan dua perawat tadi menundukan pandangannya, mereka sangat sedih melihat keadaan Maura. Namun Dokter Cathy harus memberitahukan bahwa Maura harus melakukan kuret atau pembersihan rahim.
"Nyonya besok kami akan melakukan tindakan kuret karena jaringannya belum keluar sepenuhnya," papar Dokter Cathy.
"Lakukanlah yang terbaik, Dok!" Titah Dave dengan tegas.
Sementara Maura masih menangis menyesali perbuatannya yang keras kepala. "Dave aku tidak bisa mempertahankannya. Aku bukan ibu yang baik."
"Sayang, jangan seperti ini! Ini sudah takdir dari tuhan. Anak kita pasti akan sedih melihat ibunya seperti ini," Dave memeluk Maura lebih erat.
__ADS_1
Dua perawat tadi langsung menyuntikan obat penenang pada tubuh Maura, sehingga tak lama kemudian Maura tertidur.
Pukul 2 dini hari.
Maura bangun dari tidurnya, ia merasakan rasa mulas yang menyiksa perutnya. Rasa sakit dan mulas itu menjalar ke bagian pinggul. Maura meringis mencoba menahan rasa sakit itu.
Matanya menyapu semua ruangan, ia melihat Dave duduk di tepi ranjang. Ia melihat suaminya belum tidur.
"Sayang, kau sudah bangun? Apa yang kau inginkan? " Tanya Dave saat melihat Maura hanya diam saja, mata Maura sangat bengkak karena terlalu lama menangis.
"Aku ingin ke toilet."
Dave menggendong Maura dan mendudukkan nya di kursi roda. Ia membantu Maura untuk buang air kecil.
Saat Maura akan buang air kecil, ia merasakan ada benda lumayan besar keluar. Dan ternyata benar ada segumpal daging yang keluar diikuti dengan darah yang lumayan banyak.
"Dave!!" Isak Maura.
Dave segera membantu Maura untuk buang air kecil, setelah itu ia memencet tombol panggilan dan melaporkan semuanya pada Dokter Cathy.
Malam itu Dokter Cathy melakukan prosedur USG transvaginal. Ia melihat jalan lahir dan rahim Maura sudah bersih dari janin yang gugur. "Nyonya, anda besok pagi tidak perlu melakukan kuret, karena rahim anda sudah bersih."
"Berarti segumpal daging itu anak kami?" Dave menatap tak percaya.
Dokter Cathy menganggukan kepalanya, "betul Tuan, sebaiknya anda menguburkan segumpal daging tadi," saran Dokter Cathy.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menguburkannya nanti."
...Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...