Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bertemu Kembali


__ADS_3

Maura membuatkan Omelet untuk Dave yang akan berangkat bekerja. Maura segera menghidangkan Omelet dan semua menu sarapan yang sudah ia buat di meja makan. Ketika Dave sudah duduk di kursi makan, Maura mengambilkan menu yang sudah dimasaknya di piring Dave. "Ayo Dave, cobalah!"


Dave memandang Omelet itu tanpa ekspresi, Omelet itu masih terlihat terlalu matang dan terlalu meleleh bagian kejunya. Dave memaksakan senyumnya, karena ia tidak mau mengecewakan Maura. Ia memakan Omelet yang menurutnya mempunyai rasa yang aneh sampai habis. Maura tampak senang sekali saat melihat suaminya menghabiskan sarapan yang sudah susah payah ia buat.


"Omeletnya enak. Terima kasih," ucap Dave dengan kaku, ia masih bingung bagaimana bersikap di hadapan Maura.


Maura segera memegang tangan Dave, kemudian ia tersenyum semanis mungkin.


"Bicaralah! Apa yang kau mau?" Dave bisa membaca ekpresi wajah Maura yang tengah merajuk padanya


Maura terkekeh, ia lalu menggenggam lengan suaminya dengan hangat. "Dave, aku ingin street feeding lagi untuk kucing liar di jalanan Paris. Aku rindu udara luar."


Dave tampak menimbang-nimbang, ia juga merasa kasihan kepada Maura yang jarang sekali keluar dari apartemen. Namun ia juga tidak boleh terus menerus mengurung Maura.


"Baiklah tapi hanya 2 jam ya? Sudah 2 jam kau harus segera pulang ke apartemen!" Dave memperingatkan.


"Terima kasih Dave," Maura tersenyum senang.


"Mau ku antarkan?" Tawar Dave dengan lembut.


Maura menggelengkan kepalanya dengan cepat, "tidak Dave, aku naik taksi saja"


Dave melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya, kemudian ia meminum susu yang disediakan Maura hingga tandas.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat ya?" Pamit Dave, ia berjalan dan mencium kening Maura. Maura tersenyum senang, Dave seperti malu dengan perbuatannya ia segera meninggalkan Maura dengan pipi yang merona.


"Aku harap kau seterusnya seperti ini," gumam Maura seraya melihat punggung suaminya.


Setelah Dave pergi, Maura segera mengganti pakaiannya. Ia segera mengunci apartemen dan membeli makanan kucing di pet shop yang berada dekat dengan apartemen. Maura menenteng banyak sekali makanan kering dan makanan basah, hingga ia kesulitan membawa semua makanan kucing yang sudah ia beli.


Saat Maura berjalan, ia melihat sebuah mobil asing yang berhenti di sampingnya.


"Nona Maura?" Sapa pengemudi mobil itu ramah, pengemudi mobil itu keluar dengan gayanya yang sangat tampan dan berwibawa. Kaca mata hitam yang bertengger di tulang hidungnya yang mancung menambah ketampanan pria itu, pria itu membuka kacamatanya betapa terkejutnya Maura saat melihat pria itu adalah Roberto Alexander.


"Tuan Roberto? Mengapa anda ada di sini?" Maura merasa kaget dengan kehadiran Roberto yang tiba- tiba, di dalam hatinya ia takut Dave melihatnya bersama Roberto dan terjadi salah paham.


"Anda mau ke mana nona Maura? Biar saya antarkan!" Tawar Roberto dengan sangat lembut.


"Saya mau ke taman Port Alexandre lll. Tidak usah tuan biar saya jalan kaki saja," Tolak Maura halus.


"Taman itu masih jauh, biar aku antar. Ayolah jangan menolaknya!"


Maura tampak berpikir, memang benar taman Port Alexandre lll masih sangat jauh, bahkan dari tadi tidak ada taksi yang melintas. Sementara makanan kucing yang ia bawa sangat banyak.

__ADS_1


"Baiklah. Aku ikut denganmu," jawab Maura pada akhirnya.


Roberto tampak sangat senang, ia kemudian membukakan pintu mobil itu untuk Maura. Ia segera mengantarkan Maura ke tempat yang ia tuju.


"Tuan, terima kasih ya?" Ujar Maura dengan ceria.


"Kau mau kemana dengan makanan sebanyak itu?" Roberto terlihat sangat penasaran, jiwa keponya meronta-ronta.


"Aku akan street feeding untuk kucing jalanan."


"Kau menyukai kucing juga? Aku juga sangat menyukai kucing," Roberto tampak bersemangat


Maura merasa senang saat mendengarnya, ia seperti menemukan teman seperti Valerie yang sama-sama menyukai kucing.


"Bolehkah aku ikut?" Tanya Roberto lagi.


Maura mengangguk pelan, "tentu saja, ayo!"


Mereka berjalan beriringan sambil memberikan makanan kepada kucing yang mereka lewati. banyak kucing yang mengikuti Maura, Maura tampak mengelus kucing itu dengan sayang, sesekali ia menggendongnya. Roberto tampak takjub dengan pemandangan yang ia lihat, ia sangat beruntung bisa mengenal wanita sebaik Maura.


Satu jam kemudian, Maura merasa lelah, ia kemudian mendudukan dirinya di kursi taman. Roberto tampak mengikutinya dari belakang, ia melihat anak rambut yang menghiasi dahi Maura yang berkeringat. entah kenapa ia sangat suka melihat wajah Maura seperti itu, Roberto tesenyum simpul.


"Ini sudah 2 jam, aku harus pulang!" Pamit Maura.


"Tidak usah, nanti suamiku salah paham."


Mendengar suami, Roberto jadi teringat dengan Dave. Hati terdalammya merasa ada yang aneh, ekspresi Maura sangat ketakutan dan berlebihan.


"Mengapa kau sangat takut sekali? Tidak apa-apa. Tuan Dave kan temanku juga," Roberto berusaha menghilangkan kekhawatiran Maura.


"Tidak apa-apa, tuan. Biar saya pulang saja sendiri."


Roberto mengalah, ia tidak ingin berdebat dengan gadis yang baru dikenalnya. Ia membiarkan Maura untuk pergi. Roberto melihat punggung Maura yang mulai mengecil, entah mengapa ia berharap kejadian hari ini terulang kembali. Tanpa mereka sadari Sekretaris Keenan memperhatikan mereka dari kejauhan.


***


Ponsel Dave berbunyi dengan nyaring, Dave segera menyentuh layar ponselnya dan membuka kunci dengan sidik jarinya. Terlihat ada pesan yang masuk di aplikasi berlogo telepon hijau. Dave segera membuka pesan itu, pesan dari Sekretaris Keenan. Sekretaris Keenan mengirimkan sebuah video, betapa terkejutnya Dave saat melihat Maura sedang tertawa dengan Roberto sambil menggendong-gendong seekor anak kucing. Sekretaris Keenan juga memberitahukan lokasi dimana ia melihat Maura dan Roberto.


Dave mengepalkan tangannya geram, ia sangat membenci pemandangan itu. Akalnya tidak mampu berfikir secara jernih. Yang ia sangka bahwa Maura membohonginya dan bertemu dengan Roberto secara diam-diam.


Dava segera menelpon istrinya, namun Maura tak kunjung mengangkat telepon itu. Hingga Dave memutuskan untuk pulang, dan melihat istrinya secara langsung.


Dave segera melajukan mobilnya, saat berada di kawasan Taman Port Alexandre lll. Dave melihat Maura yang sedang berjalan kaki sendirian. Dave langsung menyetopkan mobilnya, dan menarik pergelangan Maura dengan kasar.

__ADS_1


"Masuk!" Titah Dave mencoba tenang dan tidak tersulut emosi.


"Mengapa kau ada di sini, Dave?" Maura tampak kebingungan, namun ia segera menuruti perintah Dave untuk masuk ke dalam mobilnya. Dave segera masuk ke mobilnya, ia ingin meminta penjelasan pada istrinya.


"Katakan mengapa kau bisa bersama Roberto!" Dave menautkan alisnya geram.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya, dia menawarkanku untuk menumpang. Tapi saat aku pulang, aku menolak untuk menumpang lagi," Maura menjawab dengan jujur.


Dave mendecakkan lidahnya dengan kesal, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Maura namun Dave juga yakin bahwa Maura tidak akan berbohong padanya. Ia harus memperingatkan Roberto untuk menjauhi Maura.


"Jika nanti kau bertemu lagi dengannya, kau jangan mau dibawa olehnya. Apa kau tidak takut dia akan melakukan sesuatu yang jahat padamu?" Tanya Dave dengan suara yang mulai meninggi.


"Dia tidak jahat kok, dia baik."


"Ya sudah kalau begitu, aku juga akan mengantarkan Becca biar kita impas," Dave memancing Maura.


Maura menggelengkan kepalanya, ia sangat tidak suka saat Dave menyebut nama mantan kekasihnya. "Dave, aku ingin turun di sini!!"Maura berteriak dengan lantang.


"Kalau aku tidak mau?" Tantang Dave, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Maura tampak sangat takut saat Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Ia memukul pelan lengan Dave.


"Dave, hentikan!"


Dave tak menggubris perkataan Maura, ia terus melajukan mobilnya dengan cepat hingga tak sampai 20 menit mereka sudah tiba di pelataran apartemen. Maura segera turun dari mobil Dave, ia membanting pintu mobil dengan sangat keras.


Maura berjalan ke arah lift, sedangkan Dave mengikutinya dari belakang. Mereka tampak tak berbicara satu sama lain. Saat sudah sampai di depan pintu apartemen, Maura mengeluarkan kunci yang ia bawa tadi kemudian ia segera memasuki kamarnya.


Dave memasuki kamar Maura, ia melihat gadis mungil itu tengah bersandar di tembok kamar sambil melihat pemandangan Paris yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.


"Katakan! Mengapa kau marah sekali ketika aku menyebut nama Becca?" Tanya Dave, ia ingin memastikan bagiamana perasaan Maura terhadapnya.


"Siapa yang marah? Kau yang marah saat aku bersama Roberto," jawab Maura ketus


Dave memutar bahu Maura, hingga posisi mereka saling berhadapan. Kini Dave melihat wajah sendu istrinya. "Katakan, apa kau cemburu?"


"Lalu katakan, mengapa kau sangat marah aku bersama Roberto? Padahal aku tak sengaja bertemu dengannya" Maura berbalik bertanya.


Dave menghembuskan nafasnya ke udara, ia kemudian menatap manik mata biru pucat itu. "Karena aku masih mencintaimu, setiap kali aku melihatmu bersama pria lain hatiku seperti akan meledak. Tolong jangan kau ulangi lagi, karena aku sudah berniat untuk memperbaiki hubungan kita!"


"Apa kini kau sudah mulai percaya padaku lagi?" Maura bertanya dengan antusias, ia merasa bahagia saat mendengar Dave masih mencintainya.


"Aaaa-aku"


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2