
“Kak hentikan!”
Suara erangan dan des*han memenuhi seisi kamar mewah itu, sore hari di kediaman Fariz dilalui dengan pergulatan panas dengan lawan yang tak sebanding, seorang gadis belia harus mengimbangi permainan pria dewasa, suaminya.
Berulang kali Nesya memohon agar Fariz menyudahi aktivitasnya, namun pria itu seakan menghilangkan pendengarannya.
“Aku mohon, Kak. Berhenti!” lirih Nesya seraya menggenggam erat sprei berwarna putih itu. Bahkan lututnya hampir copot karena kegiatannya yang sudah dilakukan berjam-jam tanpa jeda, gadis itu kelelahan, namun berbeda dengan Fariz yang tampak puas karena bisa menyalurkan hasratnya.
Nesya terjebak dengan manusia licik itu, Fariz tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyiksa Nesya yang tentunya menguntungkan dirinya. Saat Nesya memilih akan mengerjakan pekerjaan rumah tanpa makan, namun Fariz justru membalikkan keadaan.
Dia memaksa Nesya agar membawanya terbang menuju surga dunia, tak peduli dengan Nesya yang sudah merasakan perih dan pegal di tubuhnya.
__ADS_1
Setelah berkali-kali melakukan pelepasan bibit kecebong ke rahim Nesya, barulah Fariz menyudahi aktivitasnya. Matanya menatap perut Nesya yang masih datar, berharap sosok malaikat kecil segera tumbuh di rahim istrinya.
“Siapa yang menyuruhmu untuk tidur?” seru Fariz dengan lantang, namun Nesya bergeming. Dia masih mengatur nafasnya dengan lutut yang masih gemetaran.
“Cukup kak! Jangan menyiksa aku seperti ini, lebih baik kakak langsung membunuhku agar kamu puas!” ucap Nesya dengan suara parau, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, Nesya menangis sejadi-jadinya.
“Diam! Hatiku tidak akan kasihan melihat air mata buayamu itu!” dengan kasar Fariz menarik tangan Nesya, tubuh mereka masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Fariz mengangkat Nesya dan membawanya ke kamar mandi.
‘Apa sesakit itu??’ Fariz memperhatikan Nesya yang masih menangis sesenggukan.
Lama dia termenung, hingga tanpa sadar kini dia sudah duduk di ranjang dengan pakaian lengkap. Nesya merebahkan tubuhnya, terlalu lama menangis membuat matanya terasa berat, belum lagi setelah melewati kegiatan panas yang menguras tenaganya. Nesya akhirnya terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
“Nesya..” Fariz tertegun, melihat cairan bening yang masih menetes dari mata istrinya, bersamaan dengan senyum damai yang menghiasi wajahnya.
“Tidurlah, kamu pasti lelah.” Fariz mengecup kening Nesya, dia berani melakukan itu karena yakin kalau Nesya sudah tertidur karena nafasnya mulai teratur.
Fariz meletakkan makanan yang ia bawa di nakas, berjalan menuju balkon dengan sebuah laptop di tangannya. Pria itu menatap sang surya yang perlahan tenggelam, memberi kesempatan pada bulan dan bintang untuk menampakkan sinarnya. Matanya beralih menatap laptop yang sudah menyala, menampilkan beberapa foto kebersamaannya bersama keluarganya terutama sang adik tercinta.
“Amel, apa yang kakak lakukan ini salah? Kenapa kakak malah tidak tega melihat Nesya seperti itu? Apa aku keterlaluan? Mungkin jika kamu tahu apa yang aku lakukan, kamu pasti akan membenciku. Dulu kamu selalu berpesan agar tidak menyakiti Nesya, menjaganya seperti aku menjagamu, tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku tidak mampu menjagamu, aku juga tidak bisa menjaganya. Aku sudah merusaknya Mel, aku menghancurkan masa depannya.”
Fariz mengusap wajahnya kasar, tanpa sadar dia menangis, jujur dia tidak bisa seperti ini, menjadi penjahat amatiran yang sebisa mungkin tampil profesional. Hatinya bak disayat-sayat ketika mendengar tangis memilukan seorang Nesya, bagaimana bisa dia merenggut kebahagiaan gadis belasan tahun itu?
Like
__ADS_1
Komen