Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 30


__ADS_3

Hanya bisa menghela nafas karena harus mendengar tangisan beserta curhatan hati seorang istri dari bosnya. Namun seketika Radit panik bukan main saat tiba-tiba Nesya tak sadarkan diri, beberapa kali dia menepuk pipi gadis itu, hingga akhirnya pria itu yakin bahwa Nesya benar-benar pingsan dan membawanya ke klinik terdekat.


“Apa??” Radit membulatkan matanya tak percaya, sesekali dia melirik Nesya dengan atribut sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Pria itu terkejut saat mendengarkan penjelasan dokter yang menangani Nesya.


‘Hamil? Apa mereka melakukan atas dasar suka sama suka? Atau ini memang skenario Tuan Fariz?’ Pria yang dikenal sebagai tangan kanan Fariz itu tampak berpikir, ia bahkan tidak sadar bahwa Nesya sudah tidak berada di sana.


“Maaf Mas, apa Anda tidak ingin menyusul istri Anda??”


“Istri?” Radit mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa dia dikatakan mempunyai istri jika menikah saja belum. Namun beberapa menit kemudian, laki-laki itu berlari, mencari Nesya yang ia yakin belum jauh dari klinik tersebut.


Sementara Nesya, dengan langkah kaki yang diseret, dia tampak sangat kelelahan, belum lagi harus menahan haus serta rasa lapar yang menjeratnya. Nesya hampir saja menangis jika mengingat peristiwa hari ini. Cobaan bertubi-tubi yang ia dapatkan, haruskah ia berjuang mempertahankan rumah tangganya demi bayi tak bersalah yang dikandungnya? Atau dia harus egois demi kebahagiaannya? Nesya benar-benar bimbang hingga sebuah suara mengagetkannya.


“Ketemu!!” seru seorang pria yang lagi-lagi membuat Nesya jengkel, ia curiga, apakah Fariz memasang GPS di tubuhnya atau pakaiannya? Padahal Nesya tidak membawa ponsel, tetapi bagaimana bisa laki-laki yang kini berhadapan dengannya kembali menemukannya.


“Lepas! Aku tidak mau pulang!!” teriak Nesya dan lagi-lagi mengalihkan atensi orang-orang yang melintas di jalan raya itu.

__ADS_1


“Tidak bisa Nona, ini perintah. Jika saya tidak membawa Nona pulang, saya akan kehilangan pekerjaan dan Tuan pasti akan menghukum saya.”


Dengan terpaksa Nesya mengikuti langkah pria itu yang menarik tangannya, Radit menggelengkan kepalanya mendengar isak tangis Nesya, dia heran dengan bosnya itu, bagaimana bisa dia menjadikan bocah ingusan sebagai istrinya.


“Tolong aku.. Bawa aku pergi, aku mohon,” pinta Nesya memelas.


Diam, Radit tak menghiraukan ucapan Nesya, laki-laki itu tetap mengemudikan mobilnya yang membelah jalanan kota.


“Apa yang Anda lakukan?? Jangan konyol Nona, kita bisa kecelakaan!!” pekik Radit karena gadis itu mencekik lehernya.


“Bawa aku pergi!!” Nesya berteriak, sorot matanya tajam, demi menenangkan singa bunting yang mengamuk itu, Radit menyanggupi permintaan Nesya.


“Ke mana saja asalkan tidak bertemu dengan monster gila itu!” jawab Nesya ketus, emosinya kembali bergelora mengingat suaminya berpelukan dengan orang lain. Cemburu? Entahlah, Nesya tidak tahu, ia hanya tidak suka pada Fariz yang tidak menghargai pernikahan mereka.


Radit tertegun, mendengar ucapan Nesya, dia yakin bahwa kehamilan itu bukan atas kemauan Nesya, matanya melirik Nesya yang mengelus perutnya. Radit memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia keluar dan menuju sebuah toko roti dan camilan.

__ADS_1


“Makanlah.” Menyodorkan beberapa roti dan camilan untuk Nesya, Radit lagi-lagi dibuat gemas dengan tingkah manusia di sebelahnya.


“Apa ini ada racunnya?”


“Saya masih ingin hidup normal, saya juga tidak ingin melakukan tindak kriminal,”


“Coba kamu makan dulu, siapa tahu terdapat racun sianida di dalamnya.” Nesya membuka bungkus kemasan roti itu kemudian mengarahkan isinya ke dalam mulut Radit.


Like


Komen


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2