Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 33


__ADS_3

Sang surya mulai menampakkan sinarnya, namun seorang calon ibu muda masih betah bergelung di bawah selimut mengabaikan seorang laki-laki tampan yang sedari tadi menggerutu. “Jika saja dia tidak sedang hamil, mungkin aku sudah menendangnya dari sini!”


“Hei, jangan mengumpatku atau nanti aku putuskan lehermu!” gumam Nesya dengan suara serak, tanpa merasa bersalah sedikit pun karena semalaman menyusahkan Radit.


Lelaki itu berdesis, jika bukan karena Nesya yang merengek minta ditemani dengan alasan takut sendiri, Radit pasti sudah kembali ke apartemennya dan bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan. Kini laki-laki itu harus menahan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya karena harus tidur dengan posisi duduk ataupun tertidur di lantai tanpa alas.


“Nesya, bangunlah. Sudah pagi, itu susu dan sarapanmu, aku pergi dulu,” ujarnya saat hendak keluar dari kamar Nesya.


“Tunggu!” Nesya langsung menyingkap selimut dan melihat Radit yang sudah tampak segar.


“Apa lagi?” Radit berbalik, menatap istri bosnya itu yang masih dengan muka bantalnya. Lelaki itu meringis, melihat pemandangan yang terasa menggelitik perutnya, Nesya yang menggemaskan kini terlihat seperti orang gila, apalagi dengan matanya yang membengkak karena menangis semalaman.


“Siapa yang memasak?” Nesya melihat makanan serta segelas susu yang terletak di nakas.


“Tentu saja aku, memangnya siapa lagi? Suamimu yang super duper ganteng itu??” Radit memutar bola matanya. Terkadang merasa jengkel menghadapi sikap Nesya yang suka kepo dan tulalit.


“Kenapa bukan kakak saja yang jadi suami aku?” Nesya memajukan bibirnya, tiba-tiba matanya mengembun dan sudah dipastikan sebentar lagi akan membasahi pipinya.

__ADS_1


“Hah?” Radit terkesiap, ia memijat keningnya yang terasa berputar-putar, menghadapi Nesya memang perlu kesabaran tingkat Dewa, apalagi sekarang gadis itu malah menangis gara-gara ingin menggunduli kepala Fariz.


“Kak Radit, bisa kan bawa kak Fariz ke sini?? Atau kepalanya saja pun boleh, karena aku tidak suka tubuhnya yang lain, aku hanya ingin kepalanya yang ada wajahnya dengan senyum menyebalkan itu dan-" Nesya mencebikkan bibirnya seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya secara kasar.


“Cepat habiskan!” Sentak Radit, ia sudah tidak tahan jika berlama-lama berada dalam satu tempat dengan Nesya.


“Tidak mau, aku mau kepala kak Fariz!!” gadis keras kepala itu menutup mulutnya rapat-rapat saat Radit hendak menyuapinya lagi, dia ingin memastikan jika Nesya memakan semua makanan itu, karena jika nanti terjadi sesuatu, maka pasti dia yang akan repot.


“Jangan konyol Nesya! Jika seperti itu, lebih baik sekarang pulang, temui suamimu!”


“Tapi aku takut nanti disiksa lagi, ups!” Nesya langsung menampar mulut lemesnya, Radit pun mengernyitkan dahinya, berarti selama ini, Fariz juga menyiksa Nesya, laki-laki itu tak habis pikir, seseorang yang ia ketahui baik hati itu rupanya bisa kejam dengan seorang gadis.


“Tidak. Anggap aku tidak pernah mengatakan itu,” Nesya langsung menyambar piring dari tangan Radit kemudian menyantap makanannya dengan lahap.


“Kak..”


“Hmm,”

__ADS_1


“Nanti kakak ke sini lagi kan?”


“Nggak tahu, emang kenapa?” tanya Radit karena melihat Nesya ragu-ragu mengutarakan maksudnya.


“Aku ingin makan rujak kuah pindang.”


“Apa? Siapa yang harus membelinya?” Radit membulatkan netranya, dari mana gadis kecil itu tahu makanan yang letaknya sangat jauh itu.


“Tentu saja Kakak, aku mohon.” Nesya mengeluarkan puppy eyesnya membuat Radit tak tega.


‘Aku minta saja orang lain yang membuatnya, tinggal cari resepnya di gulugulu, Radit kau memang pintar!’


“Baiklah,” dilihatnya wajah Nesya yang berbinar-binar, meski sebetulnya Radit kesal, enak sekali menjadi Fariz, dia yang menghamili Nesya, dan kini dirinya yang harus kerepotan menghadapi acara mengidam Nesya.


Like


Komen

__ADS_1


 


__ADS_2