
Roberto Alexander adalah putra dari Jermy Alexander. Roberto adalah pengusaha property yang cukup terkenal di di kota Paris. Walaupun tidak sebesar perusahaan milik Abellard Company, Alexander Grup bisa dikatakan perusahaan yang cukup besar dan sukses. Hari ini Roberto mengendarai mobilnya menembus jalanan kota Paris yang sedang hujan dengan sangat deras, hari ini ia akan pergi bekerja.
Namun saat melewati Taman Alexandre lll, Roberto tampak terkejut karena ada seorang perempuan yang menyebrang dengan tiba-tiba. ia langsung menginjak rem. Roberto segera keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis yang sedang berjongkok seperti orang yang sedang ketakutan.
Roberto segera membimbing gadis itu menuju mobilnya, gadis itu terlihat menggigil karena kedinginan.
"Nona, namamu siapa? Di mana alamatmu? Biar aku antarkan kau pulang kerumah mu," ucap Roberto lembut.
"Maura," jawabnya pendek. Maura terlihat begitu bingung saat duduk bersama di mobil orang yang tidak ia kenali.
"Kau tenang saja, Nona! Aku bukanlah orang jahat," Roberto melihat ketakutan dalam manik mata Maura, ia segera memberikan sweater yang selalu ia bawa di dalam mobilnya. "Kau kedinginan Nona, ayo kita membeli pakaian hangat untukmu!"
"Tidak usah, tuan! Aku ingin pulang saja," timpal Maura, ia begitu bingung ia akan pulang kemana. Tapi jika Maura pulang ke rumah orang tuanya, pasti kedu orang tuanya akan sedih melihat penampilannya yang berantakan seperti ini, dan tentu saja Jaksa Leo akan marah besar jika tahu Dave memperlakukan putrinya dengan sangat tidak baik. Pasti Jaksa Leo akan memaksa Maura untuk berpisah dengan Dave dan tentunya Dave akan kembali meneror keluarganya lagi. Tidak.. Tidak.. Maura tidak boleh menyerah secepat ini, Ia sudah berjanji kepada Valerie untuk mengembalikan Dave seperti dahulu.
Roberto memperhatikan gadis yang ada di sampingnya, gadis itu sangat cantik dan imut. Maura tampak sangat menjaga jarak dengannya.
"Kau pulang kemana, Nona ?"
"Apartemen Residences Harcourt."
Roberto mengangguk-ngangguk, ia segera melajukan mobilnya menuju Apartemen Residences Harcourt yang dikenal sebagai Apartemen paling mewah di Paris. Ketika melihat Maura, Roberto teringat dengan adik perempuannya yang sedang ada di rumah, sepertinya adiknya dengan Maura mempunyai usia yang sama.
Keheningan dan kecanggungan terjadi diantara mereka, suara petir sesekali terdengar dengan sangat menggelegar membuat Maura terperanjat. Maura menundukan pandangannya, ia takut sekali saat melihat kilat yang seperti membelah langit.
"Kau takut petir, Nona Maura?" Tanya Roberto.
Maura menganggukan kepalanya, "Iya, tuan. Saya takut sekali dengan petir " terdengar suara Maura yang lemah.
__ADS_1
Roberto merasa kasihan pada gadis yang ada di sampingnya. Apakah dia mempunyai keluarga atau sudah menikah ? Atau di apartemen itu ia hidup bersama dengan kekasihnya? Ah, mengapa dia jadi menebak-nebak kehidupan orang yang tak dikenalinya? Tanpa mereka sadari Dave mengikuti mobil Roberto, ia sangat takut terjadi apa-apa pada Maura. Entahlah apa yang dirasakannya, yang penting Dave harus memastikan Maura pulang ke apartemennya.
"Kita sudah sampai, Nona!" Roberto menepikan mobilnya di pelataran Apartemen.
"Mengapa sangat cepat sekali sampai? " Maura berkata dengan kecewa.
Roberto tampak mengernyitkan dahinya, ia merasa bingung dengan tingkah Maura.
"Terima kasih, tuan. Anda sudah mengantarkan saya."
"Panggil saja aku Roberto!" Roberto tersenyum, Maura pun mengangguk. Setelah berpamitan, ia segera memasuki lobi Apartemen.
"Nona?" Panggilan Roberto menghentikan langkah Maura.
"Ya?" Maura menoleh melihat ke arah pria yang memanggilnya.
"Sweaterku masih dipakainya, Aku harap aku bisa bertemu lagi dengannya," harap Roberto dalam hatinya seraya matanya terus memperhatikan Maura yang memasuki lift dan menghilang dari pandangannya.
Sementara itu Dave tampak terkejut siapa yang mengantar Maura, ia adalah Roberto Alexander rekan bisnisnya yang berteman baik juga dengan dirinya. Hatinya merasa bergejolak saat Maura memberikan senyumnya pada pria itu, Ia tidak boleh membiarkan Maura untuk dekat dengan pria manapun.
***
"Maura!!!" Teriak Dave saat memasuki apartemen, sebelumnya Dave menelfon Becca untuk segera pulang dan meninggalkan apartemennya.
"Apa?" Sahut Maura dengan ekspresi yang datar.
Dave begitu geram saat melihat Sweater berwarna hitam tampak membalut tubuh kecil Maura. Sweater itu tampak kedodoran di tubuh Maura yang mungil. Dave segera melepaskan sweater itu secara paksa dari tubuh istrinya.
__ADS_1
"Dave, apa yang kau lakukan?" Maura berteriak dengan menatap Dave tajam.
"Kau memakai sweater siapa? Aku menyuruhmu untuk pergi ke supermarket bukan untuk berkencan bersama seorang pria!!! Dave membalas teriakan Maura
Maura menatap wajah Dave yang sudah merah padam "Aku tadi hampir tertabrak gara-gara kau, tapi untungnya pengemudi mobil itu berbaik hati mengantarkanku."
"Gara-gara aku? Enak saja kau menyalahkanku!! Semuanya salah mu karena kau selalu saja bertindak ceroboh," sangkal Dave tidak mau kalah.
"Padahal biar saja tadi aku tertabrak, biar aku mati sekalian."
"Maura, apa yang kau bicarakan?" Teriak Dave memenuhi langit-langit apartemen.
Maura melihat Dave dengan tatapan menantang, "Mengapa kau begitu takut? Kau takut aku mati dan kau tidak bisa mempermainkan aku lagi Hah?? Bukankah itu bagus agar kau bisa melanjutkan hubunganmu bersama kekasih artismu itu ?"
"Kau!!" Tangan Dave sudah berayun di udara, ia akan menampar pipi Maura. Tapi ia segera menyadari orang yang ada dihadapannya adalah seorang perempuan, terlebih dia adalah Maura orang yang sangat dicintainya dulu. Dave menurunkan tangannya dan mengusap wajahnya dengan kasar, nafasnya seperti tercekat oleh sesuatu yang ia pun tidak tahu apa itu.
"Kau mau memukulku? Pukul aku, Bunuh aku sekalian!" Maura mengambil tangan Dave, ia menempelkan tangan pria jangkung itu pada pipinya.
"Hentikan, Maura!!" Bentak Dave, ia mencengkram kedua bahu Maura.
Maura menangis terisak, kehidupannya sangat berubah 180 derajat sebelum dan sesudah ia menikah. Maura begitu merindukan kehidupannya yang lalu, ia begitu ingin segera terlepas dari pria yang bernama Dave.
Maura memukul-mukul dada Dave sambil menangis sesenggukan, Dave segera menarik Maura ke dalam pelukannya. Dave begitu terluka saat melihat Maura menangis dengan histeris. Apa dirinya sudah keterlaluan pada gadis itu?
"Kau jahat, Dave!" Maki Maura dengan suara parau, tangannya berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Mengapa hatiku sangat terluka melihatmu seperti ini, Maura ? Katakan, mengapa kau sangat pintar mengambil hatiku ?" Dave bertanya-tanya di dalam hatinya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...