Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 35


__ADS_3

Seorang gadis tampak sedang mencicipi rujak ala-ala dari seorang Radit, sementara lelaki itu tampak harap-harap cemas, semoga saja tak ada komentar yang nanti menyusahkan dirinya.


“Kenapa rasanya seperti ini?” Nesya memuntahkan rujak itu, matanya mendelik tajam menatap sahabat sekaligus tangan kanan suaminya.


“Memangnya seperti apa?” jawab Radit ketus, dia seolah sedang menjalani simulasi menjadi suami siaga dan pengertian, namun nyatanya ia tak kuat.


Namun gadis itu hanya diam dengan tangan bersedekap, bibirnya bergetar, mungkin sebentar lagi dia akan menangis.


“Jangan menangis, kau mau apa?” Radit mencoba menahan emosinya, dia menatap pipi gadis itu yang sudah basah.


“Tidak ada, aku hanya ingin sendiri.”


“Baiklah, aku akan pergi, karena suamimu saat ini sedang sakit,” ujar Fariz seraya melangkahkan kakinya ke luar rumah.


Nesya terkejut, namun beberapa saat kemudian dia tersenyum, “mungkin itu karma.”

__ADS_1


Menatap punggung Radit yang kian menghilang, Nesya menghembuskan nafas kasar, gadis itu bangkit kemudian berjalan ke luar rumah. Sementara Radit, tanpa rasa cemas sedikit pun, lelaki itu membiarkan Nesya seorang diri.


“Nesya!” suara yang seperti tak asing di telinga Nesya, gadis itu berbalik, dilihatnya seorang pemuda tampan dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya sedang berjalan ke arahnya.


“Bian..” lirih gadis itu.


“Bagaimana kabarmu? Apa kandunganmu baik-baik saja?” Fabian meraih tubuh Nesya, mengetahui jika Nesya sedang tidak baik-baik saja membuat hatinya sedikit tersentil. Pemuda itu ingin membantu Nesya terlepas dari jeratan Fariz.


“Bian, bawa aku pergi dari sini!” pinta Nesya dengan mimik memelas, rupanya dia tidak bisa percaya sepenuhnya pada Radit, karena bisa saja sewaktu-waktu dia membawa Fariz atau dia sendiri yang membawa dirinya ke rumah Fariz.


“Baiklah, ayo masuk sebelum ada yang melihatmu!” Fabian menggiring tubuh Nesya agar memasuki mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Fabian terus bertanya yang hanya ditanggapi Nesya sekenanya, perlahan gadis itu mulai bosan dan tertidur karena perjalanan mereka memakan waktu yang lama, tanpa bertanya kemana Fabian akan membawanya, namun Nezya yakin jika sahabatnya pasti akan membawanya jauh dari Fariz.


“Nesya, kita sudah sampai.” Ucap Fabian seraya menepuk pelan pipi Nesya yang kini semakin chubby.

__ADS_1


Merasa ada yang mengusiknya, Nesya membuka matanya, sontak ia memundurkan wajahnya karena wajah Bian tepat di hadapannya.


“Ini di mana?” tanya Nesya dengan suara seraknya, gadis itu mengucek matanya, memastikan jika ini adalah nyata, bangunan megah dan luas di depan matanya, lebih luas dari rumah Fariz saat ini.


“Ini villa pribadiku, tidak ada yang tahu selain tiga cecunguk tak tahu diri itu!” Tangan kekarnya menunjuk dua orang lelaki dan seorang perempuan tengah bersantai ria.


“Mereka siapa?” tanya Nesya, hampir saja dia terkesima melihat dua lelaki yang memiliki kadar ketampanan yang sama.


“Sepupuku, mereka bersaudara, entah apa alasan mereka pergi dari rumah dan meminta tinggal di sini.”


“Apa mereka kembar?” mata Nesya menelisik para lelaki itu.


“Iya, mereka kembar identik, tapi sifat mereka bertolak belakang, yang satunya gesrek, dan yang satunya cuek, kalau yang perempuan manja.” Fabian menggandeng tangan Nesya, namun dahinya mengerut saat Nesya malah diam.


“Tidak perlu takut, mereka bukan orang jahat,” pemuda itu tersenyum hangat, dan baru saja mereka berjalan sekitar lima langkah, telinga mereka langsung berdengung mendengar teriakan nyaring dari dua anak manusia yang tengah berlari ke arahnya.

__ADS_1


Like


Komen


__ADS_2