Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Menjenguk


__ADS_3

Sudah dua hari ini Maura dikurung Dave di sebuah apartemen. Setelah acara resepsi, Dave langsung membawa Maura untuk tinggal di apartemen miliknya. Jaksa Leo dan istrinya Sophie sempat protes saat Dave membawa Maura, mereka berharap Maura dan Dave akan tinggal bersama mereka. Namun Dave berkilah ia ingin mandiri dan tinggal berdua saja. Albert pun sempat menawarkan untuk membeli sebuah rumah di perumahan elite, namun lagi-lagi Dave menolak. Tujuannya tak lain adalah membuat Maura menderita, Dave sengaja membawa Maura untuk tinggal di apartemennya agar gadis itu merasa kesepian.


Setelah acara resepsi, Dave tidak mengambil cuti pernikahan, ia langsung bekerja dan meninggalkan Maura seorang diri. Dave selalu pulang larut malam, Ia pun selalu mengunci apartemen itu dari luar, agar Maura tidak pergi berjalan-jalan atau mencoba kabur darinya.


Dave sengaja selalu pulang larut malam agar ia tidak mempunyai waktu untuk berdua dengan istrinya itu. Apartemen Dave memiliki dua kamar, mereka tidur terpisah dan jarang sekali mereka bersua atau bertegur sapa. Saat Dave pulang bekerja, Maura sudah tidur dan saat Maura bangun, Dave sudah tidak ada di apartemen.


Seperti hari ini, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Dave baru pulang dan membuka pintu apartemennya. Tampak semua ruangan sudah gelap, sepertinya Maura sudah tertidur dan mematikan semua lampu.


"Lelah sekali!!" Keluh Dave seraya melemparkan jas miliknya di sebuah sofa, tangannya menyalakan lampu yang ada di dekatnya. Tampak semua isi apartemen terlihat berantakan, ia memang sengaja tidak menyewa asisten rumah tangga agar Maura yang mengerjakan semua pekerjaan rumah.


Dave menahan emosinya saat melihat semua sudut apartemen berantakan, memang Dave tahu Maura tidak pandai untuk membereskan rumah. Namun Dave yakin lama kelamaan Maura bisa mengerjakan semua pekerjaan itu.


Mata Dave tertuju pada sebuah ruang TV yang masih terdengar suara, ia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Tampak Maura sedang tertidur dengan memakai kasur lantai. Sepertinya gadis itu sedang menonton TV dan ketiduran. Dave segera mematikan TV itu, ia mendekati Maura, ia melihat Maura yang tertidur dengan pulas.


Dave memperhatikan wajah damai istrinya yang sedang tertidur dengan nyenyak, apakah sudah tidak ada sisa cinta di hatinya ? Ia pun tidak memahami perasaannya sendiri. Di hatinya kini hanya ada obsesi saja untuk membalaskan dendamnya pada gadis itu.


"Dave, kau sudah pulang?" Tanya Maura dengan mata terpejam, ia menggeliat pelan namun Maura tertidur kembali. Ia meringkukan badannya karena suhu udara di ruangan TV cukup dingin.


"Kau seperti orang pingsan jika tidur!" Gerutu Dave.


Dave segera berjalan meninggalkan ruangan TV, namun ia menoleh kembali. Ia melihat Maura tertidur dengan posisi meringkuk dan tidak memakai selimut.


"Ah tidak. Tidak. Kau jangan peduli padanya!" Dave berbicara dengan dirinya sendiri.


"Tapi jika dia sakit, nanti aku juga yang akan repot," Dave berbicara lagi pada dirinya sendiri.


Dave segera kembali ke tempat Maura tidur, ia segera menggendong Maura dan memindahkannya ke kamarnya. Dave memindahkan tubuh Maura dengan pelan-pelan ke ranjang, kemudian ia segera menyelimuti Maura dengan selimut yang hangat.


Maura tampak berguling kesana kemari, hingga tangannya tak sengaja memukul wajah Dave yang sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Aww kau sengaja memukulku?" Teriak Dave, ia tampak meringis karena cincin yang ada di jari Maura mengenai hidungnya.


Maura tampak tidak merespon, ia masih tertidur dengan lelapnya.


"Hey wanita bangun! Kau seperti orang pingsan jika tidur!!" Omel Dave, ia menusuk-nusuk pipi Maura dengan jari telunjuknya. Tidak ada respon atau sahutan dari gadis itu, sepertinya Maura sudah pergi jauh ke alam bawah sadarnya.


Maura menggeliat pelan, tangannya memeluk leher Dave seperti ia memeluk bantal guling. Dave terjerambab, tubuhnya menindih tubuh Maura. Ia melihat wajah Maura dari jarak dekat, Maura terlihat sangat cantik saat tidur, namun lagi-lagi Dave menyangkal itu semua. Jantungnya seperti bekerja lebih cepat saat dekat dengan gadis itu.


"Sial!! Mengapa aku menjadi deg-degan seperti ini?" Gundah Dave dalam hatinya.


Dave memperhatikan setiap inci wajah gadis itu, bulu mata yang lentik dan bibir tipis yang berwarna semerah Cherry. Dave memajukan wajahnya, ia mencium bibir mungil itu. Seperti ada aliran listrik yang menghantarkan sengatan di sekujur tubuhnya.


"Tidak. Tidak aku tidak boleh tertipu lagi pada rubah betina ini!!" Sangkal Dave, ia kemudian mencoba bangun dan meninggalkan kamar Maura.


*******


Setengah jam kemudian, gadis itu telah tiba di Europeen Hospital, ia segera menanyakan tempat kamar perawatan Razel kepada bagian staff administrasi. Saat sudah mendapatkan info, Valerie bergegas menuju kamar perawatan Razel.


Terlihat Esme dan Eric (Orang tua Razel) sedang berbicang-bincang di kursi ruang tunggu. Sudah beberapa bulan ini Razel melakukan perawatan insentif di Europeen Hospital. Kondisinya sudah membaik dan sudah diizinkan pulang oleh dokter, namun orang tua Razel mempertahankan anaknya untuk di rawat di Europeen Hospital sampai ada pendonor mata yang mendonorkan matanya untuk putera kesayangan mereka. Ya, sampai saat ini Razel masih belum bisa melihat walaupun seluruh tubuhnya sudah sembuh total.


"Permisi?" Sapa Valerie dengan ramah.


Esme dan Eric memperhatikan Valerie, mereka mengetahui Valerie adalah anak dari Albert yang tak lain adik kandung Dave Abellard. Mereka memandang Valerie dengan tatapan tidak suka, Mereka masih mengingat dengan jelas siapa pelaku yang menabrak Razel.


"Mau apa kau kesini?" Tanya Esme dengan tatapan tidak ramah.


"Sayang, tenanglah!" Eric tampak menenangkan istrinya.


"Maaf paman bibi! Val ingin menjenguk Razel," kata Valerie dengan ceria seraya menyerahkan bingkisan buah-buahan yang sangat besar.

__ADS_1


Esme dan Eric saling berpandangan, mereka melihat wajah Valerie yang sangat ramah dan bersahabat. Selain itu, keluarga Abellard pun tidak pernah memutuskan untuk berhenti membiayai pengobatan Razel. Perusahaan yang dipimpin oleh Dave pun tampak ikut membantu mencari donor mata yang dibutuhkan Razel. Mereka menjadi tidak tega untuk mengusir gadis itu pergi.


"Baiklah kau boleh menjenguk Razel. Asal jangan lama-lama!!" Esme memperingatkan.


"Baiklah, bi. Terima kasih ya."


Valerie segera memakai baju besuk yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Ia segera memasuki kamar perawatan Razel. Terlihat Razel sedang duduk di tepi ranjangnya.


"Razel?" Panggul Valerie dengan ceria.


Razel meraba-raba dinding rumah sakit, "Maura?"


"Aku bukan Maura, aku Valerie. Masa kau lupa suaraku!!" Cebik Valerie.


"Maaf! Aku kira Maura," Razel terkekeh.


Valerie menuntun Razel untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya. Mereka mengobrol panjang lebar, mereka membahas tentang kampus, tentang mata kuliah Razel yang tertinggal dan wisuda yang akan diselenggarakan 2 Minggu lagi.


"Aku berharap bisa wisuda bersama kalian!" Razel tersenyum nanar.


Valerie merasa iba pada kondisi Razel, bagaimana pun Razel seperti ini karena perbuatan kakaknya yang tidak ia sengaja.


"Maafkan kakakku ya!" Valerie menatap sendu Razel. Razel sudah tahu yang menabraknya adalah Dave, seorang penerus perusahaan yang terkemuka di Perancis. Dia tidak merasa dendam dengan Dave atau keluarga Abellard, Razel sudah menerima semua nasib kurang beruntung yang menimpanya.


"Tidak apa-apa. Ini sudah takdir," Razel tersenyum.


Valerie menggenggam tangan hangat Razel, ia berjanji akan menjadi mata untuk pria itu. Ia akan berada disisi Razel untuk menebus kesalahan kakaknya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2