Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Dave Yang Berbeda


__ADS_3

Malam ini jalanan kota Annecy tampak bersalju tebal, Maura berjalan kaki untuk pulang. Malam ini dia baru saja pulang untuk membeli Raclete kesukaan kakeknya, Richard. Hujan salju tampak deras, Maura merapatkan mantelnya yang berwarna Mauve. Ia berjalan dengan sedikit kesulitan karena jalanan tertutup salju menyulitkan langkah gadis mungil itu.


Sebuah mobil Maybach berhenti di samping Maura, Maura mempercepat langkah tanpa menoleh siapa pengemudi mobil. Ia sudah cukup tahu siapa yang ada di dalam mobil itu.


"Kau bisa kedinginan jika seperti ini!" Suara seorang pria terdengar tak asing di telinga Maura, Maura menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Dave yang memakai pakaian yang sangat hangat dan membawa payung, payung itu tampak melindungi Maura dari guyuran salju yang lumayan lebat.


Maura menatap Dave tidak suka, setiap kali melihat Dave, Maura merasa ketakutan dan entah mengapa semua rasa nyaman yang dirasakannya dahulu kini melebur begitu saja.


"Apa Maumu?"


Dave menutup payungnya, ia mengeluarkan sebuah topi hangat, ia memakaikan topi itu di rambut Maura. Ia tersenyum setengah sinis.


"Aku hanya ingin kau menjaga kesehatan, dua minggu lagi kita akan menikah. Kau tidak boleh sakit," timpal Dave dengan nada penuh penekanan.


"Menikah itu antara kau dan aku. Kau tak berhak untuk memutuskan waktu kapan kita akan menikah. Kau harus melibatkanku," ucap Maura berang. Ia sungguh jengah dengan ulah Dave yang sekarang.


Dave merapikan topi yang ia pakaikan di rambut gadis mungil itu, tampak uap keluar dari hidung Maura. Terlihat sekali ia sedang kedinginan.


Dave mengelus pipi Maura, Maura menghempaskan tangan Dave kasar dari pipinya.

__ADS_1


"Pernikahan kita biar aku yang mengurus. Kau duduk manis saja dirumah," Dave berseringai jahat.


Dave menangkup pipi Maura, ia melihat manik biru pucat itu sedang menatapnya dengan tatapan tidak ramah. "Kau jangan percaya diri! Aku menikahimu bukan atas dasar cinta. Kau hanya akan ku buat untuk menghangatkan ranjangku saja!"


Plak.


"Jaga bicaramu!"


Maura menampar pipi Dave, matanya tampak berkaca-kaca. Ia tidak percaya Dave akan berkata setega itu kepadanya.


Dave hanya mengelus pipi yang ditampar Maura, ia kemudian tersenyum licik dan meremehkan. Ia segera menggenggam lengan Maura kasar.


"Aku akan menunggu hari itu tiba, di mana kau membuangku dan aku bisa terlepas darimu selamanya!!" Teriak Maura. Ia segera berjalan menjauhi Dave, ia mempercepat langkahnya. Bulir air mata merembes membasahi pipinya yang merona.


"Dave apakah itu kau ? aku sungguh tidak mengenali dirimu," isak Maura dalam hatinya.


Dave segera mengejar langkah Maura, ia menarik lengan gadis itu. "Masuk ke mobilku!" Perintahnya seraya menarik lengan Maura menuju mobilnya.


"Aku tidak mau!!" Maura berteriak sambil terisak.

__ADS_1


Dave membukakan pintu mobil itu untuk Maura, ia menarik gadis mungil itu. Maura menghempaskan lengan Dave di tangannya. Ia segera menutup mobil yang sudah terbuka dengan sangat cepat. Ia lalu berlari meninggalkan Dave, Maura segera menyetop taksi dan masuk ke dalam taksi itu. Maura menyandarkan kepalanya di kursi penumpang, ia menangis sesenggukan. Maura seakan tak mengenali pria itu, Dave benar-benar berubah.


Dave tak kalah cepat, ia segera mengemudikan mobilnya dan berusaha mengejar taksi yang di tumpangi Maura. Dave menyelip taksi yang membawa Maura dan berhenti tepat di depan taksi itu. Supir taksi terlonjak kaget, ia segera mengerem dengan sangat mendadak.


"Keluar!!" Seru Dave seraya mengetuk pintu kaca mobil. Ia segera membuka pintu taksi itu dan menarik Maura untuk keluar.


"Maaf, tuan! Istri saya memang seperti ini jika sedang marah," Dave berkilah, ia segera memberikan beberapa lembar Euro kepada supir taksi itu.


Supir taksi itu tersenyum, ia seakan memaklumi kejadian yang menimpanya barusan. Supir taksi itu menerima uang yang diberikan Dave dan melakukan mobilnya meninggalkan Maura dan Dave di jalanan yang lumayan sepi.


Dave melihat mata Maura yang sudah sembab, di hatinya ia merasa sangat bersalah telah membuat gadis itu menangis. Apakah dihatinya masih ada cinta? Entahlah, Dave pun tak memahami perasaannya sendiri.


"Ku antarkan kau pulang," Dave mulai melunak, ia menggenggam lengan Maura dan segera memasukan gadis itu ke dalam mobil miliknya.


Dave segera melajukan mobilnya menembus guyuran hujan salju malam ini di kota Annecy. Sesekali ia melihat gadis yang ada disampingnya, Maura tampak mendudukan dirinya dengan lemas. Tatapannya memperhatikan jalanan yang terlihat sangat sepi. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana nasib rumah tangganya nanti bersama Dave. Tentunya ia tidak akan pernah merasa bahagia. Namun ia harus menerima semua konsekuensi akibat tindakan bodohnya di masa lalu.


"Aku harus bagaimana? " Bisik Maura dalam hatinya


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2