
1 Minggu kemudian.
"Sayang, ayo!" Dave menarik lengan istrinya, mereka kini sedang berada di Bandar Udara Paris - Charles De Gaulle. Dave sudah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk honeymonnya, mereka akan terbang menuju Kota Bali, Indonesia.
Dave memilih penerbangan kelas bisnis bersama Maura. Setelah melakukan Check In, Dave dan Maura langsung berjalan ke arah Priority Lounge karena mereka akan duduk di kelas utama pesawat.
"Dave, terima kasih!" Maura menyenderkan kepalanya di bahu kekar Dave, mereka duduk di kelas satu (first class) yang mempunyai layanan terbaik dan suite pribadi yang luas.
"Sama-sama, sayang. Apa kau merasa sudah membaik?" Tanya Dave dengan lembut, sementara tangannya tampak melingkar di pinggang ramping Maura. Dave begitu enggan melepaskan pelukan itu.
Maura menganggukan kepalanya, ia merasa lebih baik sekarang. Ia sudah bangkit dari keterpurukannya, Maura yakin ia akan hamil kembali dengan janin yang sehat.
"Sayang, mengenai minggu lalu. Apa yang Becca katakan padamu sampai kau menangis histeris seperti itu?" Dave mencari informasi mengenai penyebab Maura menangis meraung waktu itu. Dave yakin Becca telah berkata yang tidak-tidak pada istrinya, tapi Dave tidak mempunyai cukup bukti untuk menuduhnya.
"Tidak ada, sayang. Sudahlah jangan membahas itu!" Maura tampak tak suka saat Dave mengungkit masalah Minggu lalu.
"Baiklah," Dave pun mengalah.
"Dave, lihatlah awannya membentuk hati!" Seru Maura, jemarinya menunjuk ke arah jendela pesawat. Benar, jelas sekali ada awan disekitar pesawat yang membentuk hati.
"Mungkin semesta tahu, bahwa ada sepasang suami istri yang saling mencintai akan berangkat Honeymoon," Dave mencolek pipi Maura.
__ADS_1
"Kau gombal sekali!" Maura terkekeh.
Maura mengeluarkan ponselnya, ia segera memotret awan itu, Maura juga mengambil pose jemarinya yang ditempelkan di kaca jendela pesawat. " Ini sebagai bukti bahwa kita pernah menaiki pesawat ini."
Perjalanan dari kota Paris menuju kota Bali memakan waktu 21 jam 40 menit. Maura menaikan selimutnya, ia menyelimuti dirinya dan suaminya. Petang telah digantikan dengan malam, cuaca terasa semakin dingin.
"Tidurlah, sayang!" Bisik Dave hangat di telinga Maura, ia kemudian memeluk Maura dengan hangat supaya Maura dapat segera tidur.
Dave membelai rambut panjang istrinya, dari hari makin hari ia semakin mencintai Maura. Dave tak akan membiarkan Maura bersedih lagi.
***
"Rebecca, yang fokus dong!" Pinta seorang sutradara dengan nada tinggi.
"Maafkan saya! Saya akan lebih fokus," ujar Becca dengan sopan.
Ya, sudah seminggu ini Rebecca bergabung sebagai Brand Ambassador produk yang di produksi Alexander Company. Rebecca sudah menandatangani kontrak langsung dengan CEO nya, yaitu Roberto Alexander.
Roberto yang kala itu datang ke lokasi syuting, ia melihat Rebecca terus mengalami kesalahan hingga semua kru harus beberapa kali melakukan take.
Roberto membawa dua gelas capuccino, ia kemudian mendekati Rebecca yang tengah break. Roberto menyimpan dua gelas Cappucino itu di meja Becca.
__ADS_1
"Minumlah!" Titah Roberto dengan penuh wibawa.
Becca tersenyum, ia segera mengambil gelas satunya dan menyereput sedikit isi yang ada di dalam gelas.
"Terima kasih, tuan."
"Aku melihatmu tidak fokus tadi, apa ada masalah?" Tanya Roberto dengan penuh selidik.
"Aku memikirkan Maura dan Dave."
Roberto yang sedang menyeruput Cappucinonya langsung tersedak, ia memukul pelan dadanya. Matanya terlihat membola karena terkejut. "Kau kenal mereka?"
"Ya, beberapa hari yang lalu aku menyakiti Maura dengan perkataan ku. Aku tidak tahan waktu itu, aku sangat cemburu!" Lirih Becca dengan sedih. Ia kemudian menceritakan semua masa lalunya bersama Dave. Hingga ia dibayar untuk menjadi kekasih pura-pura dihadapan Maura.
"Temuilah mereka dan minta maaf! Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk melupakan semua perasaanmu. Lagi pula kau sudah tidak ada harapan, mereka sudah menikah dan hidup bahagia," Roberto memberikan petuahnya.
"Aku merasa dunia ini tidak adil, seharusnya Dave itu untukku. Tapi mengapa Maura mengambilnya?" Air mata seketika merembes keluar membasahi pipi Becca yang merona.
"Cobalah untuk berlapang dada! Tidak semua yang kau inginkan harus kau dapatkan. Jika kau melihat Dave bahagia dengan Maura, lepaskanlah dia! Apa kau tidak lelah memikirkan orang yang tidak memikirkanmu sedetik pun ?"
Rebecca mencerna kata-kata Roberto, ia kemudian mengangguk. Mulai hari ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan semua perasaan dan kenangan manis bersama Dave.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...