Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Pantai Jimbaran


__ADS_3

Malamnya Maura berdandan dengan begitu cantik, ia memakai dress berwarna Maroon yang memperjelas kulit putihnya, bagian bahunya dibiarkan terbuka. Maura kemudian memakai bando yang senada dengan dress yang dipakainya.


Malam ini Dave mengajaknya untuk makan malam di tepi Pantai Jimbaran. Dave hari ini berpakaian rapi dengan kemeja berwarna abu pucat, menambah ketampanan pada wajahnya yang sudah terbilang nyaris sempurna.


"ayo!" Dave menarik lengan Maura.


Mereka berjalan bersisian di pinggir pantai, Maura kemudian melihat sebuah meja makan yang sudah dihias dengan bunga-bunga dan diberikan tirai berwarna putih.


Di pinggir meja makan itu terdapat banyak sekali lampion yang siap untuk diterbangkan.


"Dave, ini kau yang sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Maura dengan ekspresi takjub, sekali lagi Dave sudah membuat kejutan yang tak disangka-sangka.


"Tentu saja, ini untukmu!" Dave mengambil bucket bunga dari seorang pelayan yang mengantarkan buket itu.


"Terima kasih, Dave. Kau selalu pintar membuat kejutan," Maura menerimanya dengan haru.


Dave mencium kening Maura hingga hati wanita itu terasa bergetar, Maura memejamkan matanya. Ia benar-benar bahagia dengan perlakuan Dave padanya. Ia merasa seperti wanita yang paling beruntung di dunia.


Dave kemudian menarik sebuah kursi, menyuruh Maura untuk duduk. Mereka menikmati hidangan Sea Food di bawah Sinar bulan dan deburan ombak. Sesekali ombak itu menjangkau dan menjamah kaki mereka.

__ADS_1


"Setelah ini kau ingin pergi ke mana? " Tanya Dave di sela-sela aktivitas mengunyahnya.


"Banyak sekali. Aku ingin ke Tanjung Benoa, bermain Snorkeling, Ocean Sea Walker, Fly Board. Lalu aku ingin ke pantai Kuta, lalu ke pantai kelingking dan berfoto di tebing yang mirip dinosaurus. Lalu ke pantai Sanur dan kita harus melihat pertunjukan saat malam hari," cerita Maura antusias


Dave terkekeh mendengar cerita istrinya, apakah waktu seminggu akan cukup mengelilingi pulau Bali? Rasanya tidak. Namun ia tak berani menyela saat Maura bercerita. Jika Maura setuju, Dave tak masalah jika harus memperpanjang liburannya.


Saat selesai makan malam, Dave kemudian menggandeng lengan Maura mereka mendudukan diri mereka di pinggir pantai. Dave kemudian menyalakan sebuah lampion dan menerbangkannya.


"Kau ingin mencobanya?" Tanya Dave


Maura menganggukan kepalanya dengan cepat, ia kemudian menyalakan lampion itu dan menerbangkannya.


"Perasaanku waktu itu dan sekarang sama, aku masih mencintaimu hanya saja dendam dan egoku menyangkal itu semua," jawab Dave dengan tenang.


"Aku tak akan mengecewakanmu lagi seperti dulu, Dave. Maafkanlah kesalahanku yang dulu!"


"Aku percaya. Aku mencintaimu, Maura!" Dave mengangkat dagu Maura, ia mengamati wajah wanita yang sangat ia cintai. Sejenak menatap lekat-lekat wajah itu, rona merah menyembul di pipi Maura hingga membuat Dave gemas. Dave kemudian mendaratkan ciumannya di bibir tipis Maura, Maura memejamkan matanya dan menikmati ciuman itu.


****

__ADS_1


Valerie begitu penasaran kemana perginya Razel? Sudah 3 hari ini Razel tidak ada memberinya kabar, bahkan Razel tidak mengirim 1 pesan singkat pun. Valerie mengetik sebuah pesan di aplikasi telpon berwarna hijau, ia kemudian mengirimkannya pada Razel.


"Razel, bagaimana kabarmu? Mengapa kau tak ada menghubungiku?" ~ Valerie.


10 menit, 20 menit, 30 menit. Tidak ada pesan balasan dari Razel, membuat Valerie merasa kecewa. Ia kemudian menyimpan ponselnya di atas nakas dan memilih untuk beristirahat.


Sementara itu.


Razel baru saja tiba di rumahnya, hari ini ia mendatangi pabrik sweater dan pakaian hangat yang ada di kota Paris. Razel ingin menjalin kerja sama dengan pabrik itu.


Razel memasarkan produk itu secara online maupun offline, foto hasil jepretan Razel sangat bagus dan baik membuat customer banyak yang terpikat dan membeli barang yang ditawarkannya. Usaha Razel makin hari makin berkembang, bahkan ia sudah bisa membuat sebuah toko minimalis yang dijadikan toko offline dan di lantai dua dijadikan tempat kerja karyawannya.


Razel membaringkan tubuhnya, ia sangat lelah sekali dengan kegiatan hari ini. Perhatiannya tersita dengan bunyi di ponselnya, ia membaca pesan yang dikirimkan Valerie untuknya.


Razel tersenyum tipis, ia begitu bahagia saat Valerie mengirimkan pesannya terlebih dahulu. Namun senyuman itu pudar saat mengingat 3 hari yang lalu, saat ia melihat Valerie tengah berbincang hangat dengan seorang pria.


Razel kemudian mengetik sebuah pesan, namun ia hapus lagi dan menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia begitu bingung dengan pikirannya saat ini, ia begitu menginginkan Valerie namun ia merasa Insecure dengan keadaannya dan keluarganya yang hidup sangat sederhana.


Razel mencoba menepis perasaannya, ia harus fokus dengan mimpinya yaitu membangun sebuah usaha yang cukup besar dan memantaskan diri, kemudian ia akan datang pada Valerie untuk melamarnya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2