Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Pertengkaran


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu!" Maura menghempaskan tangan Dave kasar dari pergelangan tangannya.


"Mom, Dad kami pulang dulu," Dave berpamitan pada orang tuanya.


"Jaga istrimu baik-baik jika kau tidak ingin menyesal Dave!" Perintah Elline dengan pandangan penuh arti.


Valerie memeluk Maura dengan sayang, "Maura, nanti aku akan mengunjungimu ke apartemen."


"Aku menunggumu, Val. Ya sudah aku pulang dulu. Mom, Dad Maura pulang dulu!" Pamit Maura dengan sopan.


"Hati-hati ya, sayang!" Elline mengelus pipi menantunya lembut.


"Hati-hati, Nak!" Ucap Albert.


Maura merasa terharu, saat Albert mengatakan kata itu dengan hangat. Karena sesudah menikah dengan Dave, Albert selalu tidak menganggap keberadaannya.


"Daddy, maafkan semua kesalahan Maura!" Maura memeluk Albert.


Albert membalas pelukan menantunya itu, kemudian ia mengelus punggung Maura. Elline dan Valerie terharu melihat pemandangan yang sangat jarang mereka lihat.


"Lihatlah Dave! Daddy sudah memaafkan Maura. Mengapa kau sulit sekali memaafkannya?" Tanya Elline dengan penasaran.


"Dave yang dipenjara Mom, bukan Mommy. Dave yang merasakan semua penderitaan di jeruji besi. Jadi jangan coba Mommy merubah pikiranku!"


"Kak, Kau benar-benar berubah," batin Valerie sendu.


***


Sesudah berpamitan, Dave segera menarik tangan Maura dan memasukan paksa gadis itu ke dalam mobilnya.


Dave melajukan kecepatan mobil dengan sangat kencang, membuat Maura sangat ketakutan.


"Dave, pelankan mobilnya! Aku takut."


Dave tidak menggubris perkataan Maura, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata membuat Maura begitu panik. Maura mencengkram baju toganya, bibirnya tampak pias seperti tidak dialiri darah sama sekali.

__ADS_1


Dave segera memparkirkan mobilnya di tempat parkir apartemen, ia lalu menarik tangan Maura dengan begitu kasar.


"Dave lepaskan!!" Teriak Maura, membuat semua orang yang ada di lobi memperhatikan mereka. Namun Dave tidak peduli, ia terus menarik Maura dan mereka memasuki lift untuk sampai ke lantai 12.


Saat di lorong apartemen, Dave segera mengambil kunci dari sakunya membuat Maura dapat melepaskan genggaman suaminya. Ketika pintu terbuka, Maura segera berlari menjauhi kamar apartemen Dave, rasanya ia ingin menginap saja di rumah Valerie. Ia begitu melihat kemarahan di wajah Dave, tapi Maura bingung apa yang menyebabkan Dave tampak begitu marah?


"Kau mau ke mana?" Dave mengejar Maura dan mencengkram tangan istrinya lagi.


"Ada apa denganmu?" Maura berteriak, ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Dave.


Dave memajukan tubuhnya membuat Maura mundur dan tubuhnya membentur tembok, kemudian Dave menempelkan tangannya agar gadis itu tidak bisa kabur darinya.


"Katakan! Mengapa Roberto ada di acara wisudamu? Apa kau mengundangnya?" Tanya Dave dengan berapi-api.


Maura mengernyitkan dahinya, ia sedang mencerna kata-kata Dave. "Oh maksudmu Tuan Roberto? Dia menghadiri wisuda adiknya dan tidak sengaja bertemu denganku."


Dave menarik sudut bibirnya ke atas, ia tersenyum sinis. Masih dengan mengurung Maura dengan tangannya, Dave memperlihatkan aura yang menyeramkan di hadapan Maura, membuat gadis itu menciut.


"Kau sudah pintar berdusta ya huh?"


"Maksudmu?" Maura tampak tidak mengerti.


Maura menggelengkan kepalanya dengan cepat "Tidak. Memang aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, lagi pula mengapa kau harus bertindak seperti ini? Bukankah kau juga tidak mau menghadiri hari kelulusanku?"


"Aku memang tidak hadir untukmu, tapi itu bukan berarti kau bisa bebas bermesraan dengan pria lain!" Dave merebut bunga yang Maura pegang, kemudian ia segera membuang bunga itu ke tempat sampah yang ada didekatnya.


"Kau harus ingat Dave!! Kau tidak berhak mengaturku. Aku menikah denganmu hanya karena sebuah keterpaksaan. Aku mau menikah denganmu agar kau tidak mengganggu keluargaku lagi. Jadi, jangan coba-coba mengatur kehidupanku!" Maura berteriak dengan geram.


"Aku berhak mengatur hidup dan matimu, karena kau istriku!" Balas Dave dengan berteriak lebih keras.


Maura tersenyum sinis, ia menyedekapkan tangannya di bawah dada. "Cih! Istri? Bahkan kau menikahiku hanya karena dendam dan ambisimu yang ingin menghancurkanku!"


"Kau egois Dave! Kau melarangku untuk dekat dengan pria lain. Tapi kau secara terang-terangan membawa Becca ke apartemen kita? Apakah itu tidak egois?" Air mata mulai menitik membasahi pipi Maura, ia begitu sakit saat mengingat Dave mengundang Becca ke apartemennya.


Dave hanya diam tidak menjawab pertanyaan Maura, Maura melepaskan tangan Dave yang menempel di tembok. Kemudian ia melepaskan dirinya dan berjalan memasuki apartemen.

__ADS_1


Dave segera menutup pintu dan segera mengejar Maura yang akan memasuki kamarnya.


"Dave lepaskan!" Berontak Maura, ia berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman suaminya.


"Mengapa kau begitu murahan Maura? Kau dengan mudah dekat dengan pria baru. Di mana harga dirimu?" Dave tersenyum merendahkan.


Plak


Maura menampar pipi Dave, tangan Maura merasa panas karena tamparannya begitu sangat keras. "Jangan pernah merendahkanku!"


"Kau memamg murahan Maura, dengan mudah kau mendekatiku hanya karena membantu pekerjaan daddymu. Dan sekarang kau mendekati pria baru lagi. Apa pria itu juga terlibat kasus dan daddymu sengaja mengumpankanmu lagi?"


"Tutup mulutmu!! Jangan pernah kau menghina Daddy!"


Air mata membanjiri pipi Maura yang kemerah-merahan, ia segera masuk ke dalam kamarnya dan memasukan semua bajunya ke dalam koper.


"Aku akan pergi dari apartemen terkutuk ini," isak Maura seraya tangannya sibuk memindahkan pakaian yang ada di dalam lemari ke kopernya.


Dave mengunci pintu kamar Maura, sehingga mereka tampak berdua saja di kamar itu.


"Buka pintunya!!!!" Maura berteriak seperti orang yang kesetanan.


"Kau jangan coba-coba meninggalkan apartemen ini atau kau akan merasakan akibatnya!" Ancam Dave dengan seringai jahatnya.


Maura menatap manik biru pucat itu, manik itu tampak berkilat-kilat karena menahan amarah.


Kemudian Maura meneruskan kembali memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Dave segera menarik Maura dalam pelukannya, dan memegang pinggangnya dengan begitu posesif.


Maura berusaha mendorong dada pria itu agar menjauh dari tubuhnya. Namun tenaga suaminya lebih besar. Dave memegang kepala belakang Maura. Ia segera mencium bibir tipis itu dengan kasar, ********** dan berusaha mengekplorasi bagian dalam bibir Maura.


Maura segera mendorong tubuh Dave, ia mengusap bibirnya dengan tangannya. "Apa maumu?"


Dave mengusap wajahnya kasar, ia seperti mengutuki perbuatannya barusan.


Sementara di luar apartemen, seorang pria tampak tersenyum puas saat berhasil merekam pertengkaran suami istri itu. Ia segera mengirimkan video rekamannya kepada bosnya yang ada jauh di sana. Kemudian pria itu membubuhkan keterangan pada video yang dikirimnya.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai Nona Maura," lapornya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2