Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Kedatangan Razel


__ADS_3

Razel mendudukan dirinya di sofa rumah keluarga Abellard, Valerie yang melihat kedatangan Razel membelalakkan matanya karena terkejut. Mengapa Razel sangat nekat ? Begitu fikirnya.


Kini ada Albert dan Razel, mereka duduk bersebrangan. Membuat suasana hati Valerie semakin gelisah. Apa Razel bisa meyakinkan ayahnya? Valerie ikut mendudukan dirinya di sebuah sofa bersama ibunya, Elline.


"Jadi ada keperluan apa kau kemari? Apa kau masih mau menuntut keluarga kami atas kecelakaan yang menimpamu?" Tanya Albert tegas tanpa basa-basi.


Razel tersenyum tipis, ia memandang wajah Valerie yang tegang. Kemudian ia membulatkan tekadnya untuk berbicara pada orang tua Valerie. "Aku kesini ingin memberitahu paman dan bibi, bahwa aku sudah jatuh cinta kepada Valerie. Dan aku bermaksud ingin mempersuntingnya."


Elline dan Albert terkejut bukan main, ia tak mengira ada seorang pria yang sangat berani meminang puterinya. Terlebih pria itu berasal dari kalangan biasa.


"Mengapa kau jatuh cinta pada puteriku? Ini bukan rencanamu kan untuk balas dendam pada keluargaku?" Tuduh Albert tak percaya.


"Dadd!!" Valerie menatap ayahnya dengan kecewa.


"Valerie menemani ku saat aku buta. Aku semakin merasakan dia gadis baik hati dan tulus. Dan semakin hari aku semakin nyaman bersamanya, aku tak bisa jauh darinya paman," Razel tampak meyakinkan.


"Apa kau sudah lulus kuliah? Kau masih terlalu muda, Nak. Jangan paksakan dirimu!" Kini Elline yang berbicara.


"Aku sudah menyelesaikan kuliahku, Bibi. Walaupun aku masih muda, tapi apa aku salah jika mempunyai perasaan pada anak bibi? Dan perasaanku ini tidak main-main," Razel menghela nafas, namun ia tak boleh menyerah. Ia harus bisa meyakinkan Albert dan juga Elline.


"Bagaimana denganmu, Nak? Apa kau mencintai Razel?" Tanya Elline pada Valerie.


Valerie menundukan dirinya, ia merasa sangat malu saat harus mengakui perasaannya di hadapan Albert dan Elline. Karena mereka selalu saja menganggap dirinya anak kecil dan belum dewasa.


"Aku juga mencintai Razel. Mom, Dad? Tolong restui kami!" Valerie meminta restu.

__ADS_1


Razel merona karena mendengar pengakuan Valerie, ia semakin bersemangat untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang serius.


Albert dan Elline saling bertatapan, mereka tampak menimbang-nimbang sebelum memutuskan. Sebelumnya Albert sudah mengetahui bahwa Razel memiliki sebuah konveksi dan toko pakaian hangat. Albert mengetahuinya dari Sekretaris Keenan, Keenan selalu memberikan info mengenai kondisi Razel karena Albert yang selalu memintanya, ia harus memastikan bahwa Razel sudah pulih dan tak menuntut keluarganya.


Razel tampak menunggu jawaban Elline dan Albert, ia merasa gugup saat menatap calon mertuanya. Namun apapun jawaban yang ia terima, ia harus bisa menerima dan berlapang dada. Jika Albert menolak, Razel masih punya banyak waktu untuk meyakinkan Albert.


"Baiklah, paman mengizinkan kalian memiliki hubungan. Namun untuk menikah, paman belum setuju. Jika kalian memaksa tahun depan saja, dan buktikan bahwa usahamu semakin berkembang. Dengan begitu paman tidak akan cemas memikirkan masa depan Valerie," Albert akhirnya memberikan keputusan.


Razel dan Valerie tersenyum bahagia, Valerie segera memeluk Albert. "Terima kasih, Dadd. Aku menyayangimu"


"Apapun Daddy lakukan untuk kebahagiaanmu!" Albert mengelus pipi Valerie dengan lembut.


****


5 bulan kemudian..


Dave terkekeh, ia kemudian menghampiri Maura dan memeluknya dari belakang. "Bersabarlah, sayang! Ini semua demi buah hati kita. Kau tetap cantik di mataku. Apapun keadaanmu."


"Kau selalu saja gombal!!"


"Aku serius, sayang. Lihatlah wanita cantik itu istriku!" Dave menunjuk Maura di sebuah cermin.


Maura tersenyum, rasa kesalnya menghilang begitu saja.


"Kau mau makan apa hari ini ? Biar aku belikan ?" Tanya Dave.

__ADS_1


Saat memasuki masa-masa kehamilan, Maura tidak mengidam yang aneh-aneh. Wanita itu sangat meyakini jika acara ngidam pada ibu hamil hanya sebuah mitos, Maura selalu saja mengatakan bahwa yang menginginkan makanan itu ibunya bukan bayinya. Dave hanya mengiyakan tanpa menyela sedikitpun. Ia sangat hafal mood ibu hamil yang naik turun.


Sejak mengandung Maura selalu saja mengalami perubahan mood. Kadang senang, kadang marah, kadang sedih. Apalagi jika Dave pulang telat ketika bekerja, pasti Dave akan menemukan Maura yang sedang menangis di bawah gulungan selimut. Ia harus ekstra bersabar untuk membujuk Maura. Bahkan ia sering kali meminta bantuan Valerie untuk ikut membujuk.


" Emm. Apa ya? Aku ingin Ratatouille, Dave. Rasanya pasti sangat enak."


"Baiklah, ayo kita makan di luar!"


Maura segera mengganti pakaiannya dengan dress kasual. Terlihat sangat jelas perut Maura yang sangat besar walaupun usia kandungan baru 5 bulan.


"Aura ibu hamil memang beda, kau semakin cantik!!" Puji Dave saat melihat Maura tampil cantik dibalut Dress kasual berwarna merah maroon.


"Kau selalu saja gombal!"


Dave terkekeh, ia kemudian menuntun Maura menuju garasi. Dave membukakan pintu untuk istrinya itu, tak lupa ia juga membantu memasangkan Safety Belt untuk Maura. Dave benar-benar memanjakan wanita itu secara berlebihan.


30 menit kemudian mereka sudah sampai di restoran terkenal di Prancis. Dave segera memesan menu Ratatouille untuknya dan untuk Maura.


Dave menyuapi makanan itu untuk Maura, ia tak peduli dengan suasana ramai di restoran. Ada orang yang menyadari Dave dan berbisik-bisik, ada juga sebagian lagi tidak menyadari Dave dan terlihat tak peduli.


"Dave, ini enak!" Maura berbicara dengan mulut yang penuh.


"Hati-hati, sayang! Nanti tersedak," Dave memperingatkan.


Mereka kembali menikmati hidangan dengan mesra, sesekali mereka saling menyuapi dan mengobrol panjang lebar seperti dunia milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak 😁

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2