Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 11


__ADS_3

Suara bariton mengagetkan Nesya yang masih terlelap, pendar matahari menyilaukan matanya. Gadis itu meringis, merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya, mata indahnya melihat tubuhnya yang masih terbungkus selimut, lagi-lagi air matanya luruh. Melihat banyak tanda merah keunguan yang sangat kentara di kulit putihnya. Padahal kemarin ia sempat berpikir jika akan tewas karena ulah Fariz yang terlihat seperti orang kesetanan. Setelah mencekik Nesya, laki-laki yang tak lain adalah Fariz memaksa Nesya untuk memuaskan nafsunya.


“Kenapa kamu masih diam di sana hah? Apa kamu mau mengulangi yang semalam?” Fariz mendekat, tangannya membuka dua kancing kemejanya membuat Nesya ketakutan.


“T-tidak, jangan kak,” Nesya mengusap air matanya kemudian bangkit dengan selimut tebal yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang polos.


“Tidak perlu menggunakan ini, aku sudah melihat semuanya,” menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh indah Nesya, Fariz tersenyum menyeringai.


Nesya menunduk, tidak berani menatap Fariz yang juga tengah menatapnya, dia ingin berlari namun tangan Fariz menahannya, seolah-olah Nesya adalah objek keindahan yang dipertontonkan.


“Lepas! Jangan gila kamu!!” Nesya menghempaskan tangan Fariz, ketika melihat Fariz akan memotret dirinya.


Menggigit tangan Fariz sekuat-kuatnya, Nesya berhasil kabur karena Fariz mengibaskan tangannya yang terasa perih. Sementara Nesya, gadis itu telah berada di kamar mandi, dia merutuki kebodohannya karena telah membuat Fariz murka, apalagi hari ini dia bangun terlambat, padahal seharusnya Nesya berangkat ke sekolah barunya.

__ADS_1


“Bagaimana ini?” berendam di air hangat untuk merilekskan tubuhnya, Nesya terus berpikir dan menyusun rencana agar bisa terbebas dari cengkeraman Fariz. Hingga tanpa sadar dia sudah berendam selama satu jam.


Nesya menyudahi aktivitasnya, dia melilitkan handuk ke tubuhnya kemudian keluar dari kamar mandi. Sepi, hanya itu yang dirasakan Nesya, berada di rumah yang besar dan luas itu, letaknya yang jauh dari keramaian semakin membuat suasana rumah itu terasa hampa. Nesya keluar dari kamarnya, ia sudah mengenakan pakaian lengkap yang sudah disediakan oleh Fariz, matanya menyapu seluruh ruangan, tidak ada tanda-tanda keberadaan Fariz, Nesya tidak melihat mobil kesayangan suaminya yang terparkir di halaman rumah.


Hatinya bersorak, Nesya yakin jika Fariz sedang pergi. Otaknya mulai berkelana, Nesya berniat untuk kabur, namun saat ingin membuka pintu, rupanya terkunci. Tak kehabisan akal, Nesya menelusuri rumah besar itu, matanya menangkap sebuah jendela yang terbuka.


“Kalau aku lompat, nanti masih bernafas nggak ya?” melihat jika tempatnya lumayan tinggi, Nesya masih terlihat menimbang-nimbang.


“Ayo Nesya, kamu bisa! Kapan lagi kamu punya kesempatan emas kayak gini.”


“Auuu..” Nesya mengusap siku beserta lututnya yang lecet karena pendaratannya tidak tepat, tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Nesya berlari dengan sedikit pincang meninggalkan area itu.


“Aku harus kemana?” Nesya kebingungan, dia tidak mengenal tempat ini, tidak ada satu pun orang yang dia temui di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Sementara Fariz, laki-laki itu menutup laptopnya, “mari kita lihat, sejauh mana kamu bisa pergi.”


Berjalan menuju garasi, Fariz menyusul Nesya yang pasti belum jauh dari sana.


“Hah aku lelah,” Nesya mengusap keringatnya, terus berjalan meskipun perutnya berbunyi karena dia belum sempat sarapan.


“Apa kamu perlu tumpangan?”


“Hah?”


Like


Komen

__ADS_1


 


 


__ADS_2