
Setelah malam itu, entah kenapa sifat Fariz perlahan berubah, dia tidak lagi memperlakukan Nesya semena-mena, apa itu karena dia sudah bisa berdamai dengan masa lalu atau semata-mata hanya karena calon anaknya yang kini dikandung Nesya. Entahlah, Nesya tidak begitu peduli, dia merasa senang jika hidupnya terlepas dari bayang-bayang penyiksaan.
Namun sayangnya, kondisi fisiknya belakangan ini melemah, seperti pada saat ini, suasana kelas yang kondusif, namun tidak untuk kelas Nesya. Desas-desus mulai terdengar, disaat Nesya harus bolak-balik ke toilet lantaran rasa mual yang terasa secara terus menerus.
“Kamu benar-benar nggak papa kan??” Fabian menyusul Nesya, menunggunya di depan toilet, kebetulan juga toilet siswa dan siswi letaknya bersebelahan. Dahi pemuda itu mengkerut, mendengar sahabatnya yang muntah-muntah di dalam toilet.
“Nesya..” matanya melotot, melihat Nesya seperti mayat hidup, wajah yang setiap hari berseri-seri itu terlihat pucat. Dengan sigap Fabian menahan tubuh Nesya yang hampir terjatuh.
Fabian langsung cemas saat melihat Nesya sudah tak sadarkan diri di dekapannya, ia membawa Nesya ke UKS, sontak aksinya membuat para siswi merasa iri pada Nesya, berbagai macam komentar yang tentunya membuat telinga terasa panas.
Mendapati Nesya yang tak kunjung sadar, pihak sekolah pun memanggil seorang dokter untuk mengecek keadaan Nesya. Semua tercengang, dengan mata yang tak terlepas pada gadis yang tengah berbaring itu, mereka menatap tak percaya akan fakta yang diungkapkan dokter bahwa Nesya tengah hamil muda.
__ADS_1
Beragam spekulasi bermunculan, mungkinkah Nesya korban pemerkosaan? Namun jika dilihat dari kepolosan serta keluguan gadis itu, kemungkinan besar jika itu hanya karena sebuah kecelakaan.
“Ada apa ini?” Nesya melirik dengan ekor matanya, dimana terdapat seorang dokter, kepala sekolah dan juga guru BK yang menatapnya dengan sorot yang berbeda-beda.
“Bagaimana perasaanmu?” dokter yang masih muda itu pun mendekati Nesya, tersenyum iba pada gadis cantik yang masih belia itu.
“Masih sedikit pusing,” menjawab dengan jujur, Nesya sebetulnya masih heran.
Kedua alis Nesya bertaut, merasa belum paham dengan arah pembicaraan mereka, gadis itu pun menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana.
“Maksud kami, siapa yang telah melakukan itu hingga kamu hamil?”
__ADS_1
Deg
“H-hamil??” dunia Nesya runtuh seketika, sesuatu yang ditakutkan terjadi juga. Nesya baru tahu jika dirinya tengah berbadan dua.
“Kami sangat menyayangkan peristiwa ini, padahal kamu termasuk siswi berprestasi, meskipun kamu baru bersekolah beberapa bulan, tetapi kami tahu jika kamu bertalenta. Namun jika sudah seperti ini, kami dari pihak sekolah dengan terpaksa akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini, karena bagaimanapun juga, kesalahan kamu sudah fatal, kami juga tidak mungkin meminta kamu untuk menggugurkan bayi itu. Itu kebijakan dari sekolah agar nantinya kesalahan kamu tidak ditiru oleh murid yang lain.” tutur seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut.
Air mata yang sedari ditahan langsung lolos membasahi pipi gadis itu, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang begitu malang, namun bukan berarti dia harus menyalahkan bayi yang tak bersalah itu. Nesya merasa bahwa hidupnya sudah tiada gunanya lagi, mimpinya telah hancur, dengan berat hati ia melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah. Hanya bisa menunduk saat semua orang memandangnya dengan tatapan merendahkan, seolah semua yang terjadi atas keinginannya.
Like
Komen
__ADS_1
Follow ig @dee__ary