Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 18


__ADS_3

Fariz menarik tangannya dari tubuh Nesya, laki-laki itu memberikan ponselnya yang sudah terhubung dengan Abi pada istrinya. Seketika dia terperanjat saat Nesya berteriak sambil memanggil nama yang membuat darahnya mendidih. Namun, sebisa mungkin Fariz mengontrol dirinya agar tidak berbuat sesuatu saat ini.


“Mereka siapa, Kak?” tangan Nesya menunjuk dua lagi-lagi bertubuh kekar yang berdiri di belakang kakaknya.


“Bukan siapa-siapa, apa yang terjadi? Kenapa kamu berada di rumah sakit hmm??” Abi mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin memberi tahu Nesya bahwa mereka adalah orang suruhan Fariz yang ditugaskan untuk mengawasinya, bahkan sesekali menyiksanya jika Nesya membuat Fariz murka.


“Aku hanya demam biasa Kak,” Nesya tersenyum, namun hati kecilnya menjerit, ingin rasanya dia berteriak mengatakan bahwa dia ingin pulang.


“Waktunya sudah habis!” Fariz langsung menyambar ponselnya dan memutuskan panggilan itu.


“Apa-apaan? Belum ada lima menit!” protes Nesya, gadis itu memanfaatkan situasi dimana untuk saat ini, Fariz tidak bisa berkutik.


Fariz berlalu meninggalkan Nesya yang masih menggerutu, dia pergi untuk menanyakan perihal kepulangan istrinya. Seringai licik terbit di wajah lelaki itu, dokter mengatakan bahwa Nesya hanya perlu istirahat serta menjaga pola makannya, hal itu membuat Fariz senang karena itu artinya, Nesya sudah diperbolehkan untuk pulang.

__ADS_1


Kembali masuk ke ruangan Nesya, gadis itu terkejut saat Fariz tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Laki-laki itu geram karena Nesya terus memberontak, hingga tangannya merasa gemas dan langsung mencubit paha Nesya hingga gadis itu menjerit kesakitan. Di perjalanan, Fariz menepikan mobilnya di sebuah counter HP, ia berniat membelikan ponsel untuk Nesya.


“Kak, mau ke mana?” tanya Nesya saat melihat Fariz turun dari mobilnya, namun pertanyaannya sama sekali tidak digubris olehnya.


Nesya hanya diam, dia ingin keluar tapi tidak bisa karena Fariz mengunci pintu mobilnya. Gadis itu memilih melihat ke luar jendela, mata indahnya menangkap seorang nenek tua yang berjualan kue di seberang jalan. Hatinya tersentuh, melihat dagangan nenek itu yang masih terlihat utuh. Saking fokusnya menatap sang nenek, Nesya tidak sadar bahwa Fariz sudah kembali. Laki-laki itu melemparkan sebuah paper bag pada Nesya.


“Kak..” cicit Nesya, dia tampak ragu mengutarakan niatnya, matanya sesekali melirik nenek tadi yang terlihat sedang menyeka peluh yang mengucur deras di keningnya yang sudah keriput.


Nesya yang melihat dari kejauhan mengangkat sudut bibirnya, setidaknya Fariz masih memiliki hati nurani, dia tahu jika Fariz hanya membenci dirinya dan juga Abi. Entah harus bersyukur atau bersedih sehingga bisa menikah dengan Fariz, sosok yang digadang-gadang oleh Nesya. Ya, gadis itu tertarik pada Fariz sejak dulu, namun laki-laki itu malah menganggapnya sebagai adik, hingga terpaksa Nesya mengubur perasaannya lantaran sudah dipatahkan oleh kenyataan.


“Habiskan! Waktumu sampai kita tiba di rumah.” Sebuah ultimatum yang keluar dari bibir Fariz membuat Nesya tercengang.


“A-apa??” Nesya tak habis pikir dengan manusia gendeng yang duduk di sebelahnya, otaknya berpikir keras, bagaimana caranya dia menghabiskan kue yang sekiranya muat untuk warga satu kompleks.

__ADS_1


“Jangan mengulur waktu lagi, karena jika kue itu tidak habis. Aku akan memberimu hukuman nanti malam!”


“Nanti malam? Memangnya apa yang bisa aku lakukan di malam hari?” celetuk Nesya membuat Fariz merasa gemas.


“Tentu saja aku akan membuatmu terkapar di ranjang, bila perlu sampai kamu tidak bisa berjalan.” Fariz melirik sekilas, menahan tawanya melihat ekspresi keterkejutan Nesya.


“Tidak mau!” seru Nesya, dengan cepat dia mulai memakan kue-kue itu meski semua terasa pahit.


Fariz yang melihat itu, tertawa di dalam hati, lelaki itu dengan sengaja mempercepat laju kendaraannya membuat Nesya hampir mati tersedak karena tiba-tiba mereka sudah sampai di rumah, sementara kuenya masih banyak.


Like


Komen

__ADS_1


__ADS_2