
Siang ini Valerie berkunjung ke apartemen Dave, Dave sudah berangkat bekerja jadi hanya Valerie dan Maura berdua saja di apartemen.
"Bagaimana hubunganmu dengan kak Dave?" Tanya Valerie di sela-sela obrolan mereka
Maura menghembuskan nafasnya kasar, ia begitu malas untuk membahas mengenai Dave. "Semakin hari hubunganku semakin buruk saja, Val."
"Apa kak Dave marah padamu saat pria itu memberikan bunga padamu?"
"Mengapa kau tahu?" Maura menyipitkan matanya.
Valerie tertawa kecil, lalu ia membenarkan duduknya di sofa. "Kak Dave itu cemburu padamu. Mengapa kau tidak mengerti?"
"Tidak mungkin, jelas-jelas Dave sangat membenciku," Maura membantah.
"Kak Dave sedang cemburu, kau jangan selalu menentangnya! Kak Dave sangat tidak suka ditentang. Percayalah!" Valerie mencoba meyakinkan Maura
Maura tertegun ia tengah meresapi nasihat Valerie, memang benar ia selalu melawan perlakuan Dave. Maura begitu terpancing saat Dave selalu memprovokasinya.
Sementara Valerie memandang sahabatnya yang tengah berpikir, ia kemudian mengambil kue dari toples dan memakannya dengan lahap.
"Hmm enak juga."
******
Malam sudah menunjukan pukul 9 malam, tapi Dave belum juga pulang. Maura begitu kesepian di apartemen sendiri, tadi siang ia memaksa Valerie untuk menginap, tapi Valerie menolak halus. Ia sengaja membiarkan Maura berdua saja di apartemen dengan Dave agar hubungan mereka membaik. Padahal Valerie tidak tahu Dave selalu sengaja pulang larut, ia begitu menghindari Maura akhir-akhir ini.
Maura sudah selesai menyikat gigi, dan mencuci tangan dan kaki. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang hangat. Malam ini benar-benar dingin sekali.
Terdengar seseorang membuka pintu.
"Pasti itu Dave!"
__ADS_1
Maura segera membuka pintu kamarnya sedikit dan benar saja suaminya sudah pulang. Dave berjalan dengan agak sempoyongan. Apa dia mabuk? Terlihat Dave berpegangan pada tembok-tembok apartemen. Kemudian pria itu segera memasuki kamarnya.
"Dia kenapa ya?" Gumam Maura penasaran.
Maura berjalan mendekati pintu kamar Dave yang terbuka, ia melihat Dave yang berbaring dengan pakaian kerjanya yang sangat lengkap.
"Dave?" Panggil Maura, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Maura semakin penasaran, ia kemudian berjalan memasuki kamar Dave. Dave terbaring dengan mata yang terpejam.
"Dia kenapa? " Batin Maura, penasarannya semakin menjadi-jadi.
Maura mendudukan dirinya di tepi ranjang Dave, ia kemudian menyentuh tangan suaminya. Maura merasa kaget saat tubuh suaminya sangat panas.
"Dave, kau sakit?" Tanya Maura, namun tidak ada jawaban dari pria itu.
Kemudian gadis itu menyentuh dahi Dave yang berkeringat, Maura segera mengambil termometer dari kotak obat. Ia kemudian memasang termometer itu di ketiak Dave.
"39?" Seru Maura kaget, saat ia melihat angka 39 derajat di termometer itu.
"Ternyata kau bisa sakit juga ya huh?" Ucap Maura di sela-sela aktivitas mengompresnya.
Memang akhir-akhir ini Dave begitu bekerja keras, ia selalu pulang larut malam. Dave selalu lembur karena Dave ingin menyelesaikan proyek barunya dengan cepat. Dave memang terkenal ambisius jika sedang menangani proyek.
Maura memperhatikan wajah Dave yang sedang tertidur, ia begitu mengingat momen-momen saat Dave masih mencintainya dulu. Dave yang selalu memanjakannya dan membawanya jalan-jalan. Hati terdalammya begitu merindukan itu semua.
"Hei, apa yang kau pikirkan Maura? Tanyanya pada dirinya sendiri
Maura memeriksa lagi suhu tubuh Dave, masih tidak ada pergerakan tetap di angka 39 derajat. Maura menjadi panik, ia takut Dave kejang dengan suhu sepanas itu.
"Dave, kau tidak apa-apa kan? Dave berbicaralah!" Maura menangkup pipi Dave
__ADS_1
"Tidak, aku ingin muntah," gumam Dave tapi masih terdengar oleh Maura.
Perut Dave terasa di aduk-aduk, Maura segera berlari membawa wadah yang ia temukan di dapur.
"Muntahlah di sini!" Maura mendekatkan wadah itu ke Dave.
Dave memuntahkan semuanya ke dalam wadah itu, perutnya terasa di aduk-aduk. mungkin efek dari pusing tadi, begitu pikirnya. Maura memijit tengkuk Dave. Setelah itu Maura segera membuang isi wadah tadi ke westafel, ia kemudian membersihkan semuanya hingga kamar Dave bersih dan rapi kembali.
Aampai dinihari Maura tidak bisa tidur, ia terus memantau kondisi Dave sambil mengompres suaminya itu. Ia menempelkan lagi termometer di ketiak Dave, suhunya turun menjadi 37 derajat. Maura merasa lega.
Menjelang pagi kantuk mulai menyerangnya, ia sudah tidak bisa menahan kantuknya. Maura merebahkan tubuhnya di samping Dave, ia menarik sedikit selimut yang membalut tubuh Dave dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang sama.
Matanya terasa berat, tak lama ia pun sudah pergi ke alam mimpi.
Dave membuka matanya, ia begitu bingung saat kain kompres setengah basah menutupi keningnya. Ia mengingat ketika pagi kemarin Dave sudah merasakan tidak enak di badannya. Lalu saat pulang kepalanya begitu pusing dan matanya terasa panas.
Perutnya terasa berat seperti tertindih sesuatu, penglihatannya berputar-putar, ia kemudian melihat sebuah tangan memeluk perutnya. Dave terkejut saat Maura tertidur di sampingnya.
"Apa semalam Maura yang merawatku?" Batin Dave, ia melihat istrinya yang sedang tertidur dengan pulas.
Dave membalikan tubuhnya menghadap Maura hingga posisi mereka berhadapan. Dave memandang lekat-lekat gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu. Perlakuan buruknya pada Maura teringat dengan jelas. Ia merasa aneh karena Maura mau merawatnya, sedangkan Dave selalu menyakitinya. Dave memeluk istrinya dengan erat, seolah pelukan itu tempat ternyaman nya. Ia begitu nyaman, hingga ia tertidur kembali.
"Dave, bangunlah!" Seru Maura, ia baru saja selesai membuatkan sarapan untuk suaminya.
Dave membuka matanya dengan lemas, Maura segera membantu Dave untuk menyandarkan tubuhnya pada bantal yang sudah ia tumpuk agar bisa memudahkannya untuk makan.
Maura menyuapi suaminya dalam keheningan, Dave tidak berbicara sepatah kata pun. Maura memakluminya, ia sudah terbiasa dengan itu semua. Maura segera mengambil segelas air di atas nakas, kemudian membantu Dave untuk minum. Syukurlah Dave terlihat membaik pagi ini.
"Cepatlah sembuh Dave! Aku tidak punya teman ribut," ujar Maura saat ia selesai menyuapi Dave.
Maura tersenyum ke arah Dave, ia kemudian mengelus pipi suaminya itu dan berlalu meninggalkan kamar Dave. Dave melihat punggung Maura yang meninggalkan kamarnya, ia mengentuh dadanya rasanya jantungnya berdegup lebih cepat.
__ADS_1
"Apa perasaan ini masih ada?" Tanya Dave pada dirinya sendiri.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...