Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Hujan


__ADS_3

Menjelang malam, Dave kembali ke rumah mertuanya, ia melajukan mobilnya dengan hati-hati karena Paris sedang diguyur hujan yang sangat lebat.


Dave segera memparkirkan mobilnya, dan mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari pemilik rumah. Baju Dave sedikit basah karena kehujanan. Dave mengetuk pintu kembali, kali ini ketukannya lumayan keras. Namun lagi-lagi tidak ada yang membuka pintu.


Dave kembali ke dalam mobilnya untuk berteduh, hujan terlihat sangat deras dan terdengar suara petir yang menggelegar. Dave tidak mempedulikan tubuhnya yang kedinginan, ia sangat khawatir Maura akan panik karena banyaknya suara petir.


Sementara itu....


Maura melihat Dave dari jendela, ia akan menemui suaminya namun Leo menahannya.


"Dadd, lepaskan! aku akan menemui suamiku," Ujar Maura dengan nada yang kesal.


"Apa kau mencintai Dave?" Tanya Leo dengan penuh selidik, berharap Maura berkata jujur padanya.


Maura menganggukan kepalanya dengan yakin, ia menatap manik mata Leo. "Aku mencintainya, Dadd. Dan untuk video itu, itu adalah pertengkaran kami saat awal kami menikah. Saat ini rumah tangga kami sangat harmonis, tolong Daddy jangan mengacaukannya!"


Maura berjalan lagi, bermaksud akan menemui Dave di luar. Namun lagi-lagi Leo menahan putrinya. "Biarkan, Dave! Daddy ingin melihat kesungguhannya dalam memperjuangkanmu. Kali ini turuti Daddy!"


Maura menghembuskan nafasnya dengan gusar, namun ucapan Leo membuatnya terpengaruh. Ia ingin melihat kesungguhan Dave dalam memperjuangkannya. Maura membuka tirai kamarnya, ia masih melihat mobil Maybach terparkir di halaman rumahnya. Ingin rasanya Maura berlari dan berhambur memeluk Dave.


"Dave, aku merindukanmu," gumam Maura sendu.


Sudah tiga jam berlalu, Maura berguling kesana-kemari. Ia tidak bisa tertidur, matanya tidak bisa diajak bekerja sama. Ia benar-benar mencemaskan Dave yang ada di luar sana. Leo pun sama gusarnya dengan Maura, ia tidak dapat tidur. Leo masih meminum teh hijau di cangkirnya, mencoba untuk bersikap tenang. ia melirik jam dinding, jam menunjukan pukul satu malam. Leo membuka tirai jendela, ia melihat mobil Dave masih terparkir di sana. Leo melihat Dave yang sedang tertidur di dalam mobilnya.


"Apa kau sudah yakin Dave bersungguh-sungguh pada putri kita?" Tanya Sophie tiba-tiba dari belakang, membuat Leo terperanjat karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Sayang, kau belum tidur?" Tanya Leo, Sophie tidak bergeming. Ia menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Suruhlah Dave masuk ke dalam! Atau kau yang ikut tidur di luar!!" Ancam Sophie dengan tegas dan tak terbantah.

__ADS_1


"Sayang, aku ini suamimu. Kau sama saja seperti putrimu. Sama-sama tidak sopan kepada suami!!" Omel Leo dengan decakan lidah yang kesal.


Sophie menyedekapkan tangannya di atas perut, ia menatap Leo dengan penuh ancaman. "Ayo ku hitung sampai tiga! Jika kau tidak mau, kau harus menemani Dave di luar!"


"Baiklah. Baiklah. Aku akan menemui menantu kesayanganmu itu! Kau puas?" Leo berjalan ke arah halaman rumah, sementara senyum kemenangan terukir di bibir tipis Sophie.


Leo memakai payung menuju halaman karena hujan masih sangat deras. Leo mengetuk-ngetuk kaca mobil, ia melihat Dave bangun dan membuka kaca jendela mobil.


"Ayo masuklah, Dave!" Titah Leo dengan tatapan penuh selidik, ia melihat dengan seksama menantunya. Kemarahannya mencair seketika ketika melihat wajah menantunya itu. Sekarang hatinya benar-benar yakin bahwa Dave mencintai Maura.


"Daddy sudah memaafkan ku?" Dave berkata dengan ceria.


Leo berdehem, mencoba mempertahankan harga dirinya. Ia tidak menjawab, ia langsung memasuki rumah diikuti Dave dibelakangnya.


"Dadd, terima kasih Daddy sudah percaya padaku!" Ucap Dave dengan tulus.


"Aku berjanji akan selalu membahagiakan putrimu, Dadd."


"Baiklah, Daddy pegang janjimu. Segeralah naik ke atas! Maura merindukanmu."


Tanpa menunggu jawaban dari Leo, Dave segera berlari menaiki tangga meninggalkan Leo yang sedang mengomel karena Dave tidak berpamitan padanya. Ia kemudian membuka pintu kamar Maura, terlihat Maura yang sedang berbaring dengan posisi menyamping.


"Sayang?" Dave memeluk Maura dari belakang, hembusan nafasnya membuat bulu kuduk Maura meremang.


Maura memutar tubuhnya, ia langsung memeluk suaminya itu. "Dave, aku merindukanmu. Apa yang dilakukan Daddy padamu?"


"Daddy tidak melakukan apa-apa."


"Terima kasih, Dave. Kau berhasil meyakinkan Daddy," Maura tersenyum dengan bangga, merasa ia diperjuangkan oleh suaminya.

__ADS_1


"Aku yang berterima kasih karena kau masih mau menerimaku. Walaupun aku pernah berlaku tidak baik padamu," jemari Dave membelai pipi Maura dengan lembut, membuat hati wanita itu berdesir.


"Aku pun pernah memasukanku ke dalam penjara," kenang Maura dengan terkekeh. Dave tersenyum lebar, ia sangat menikmati pemandangan yang ada di depan matanya. Melihat Maura tertawa saja hatinya merasa sangat berbunga-bunga.


Dave mematikan lampu kamar Maura, ia kemudian menyelimuti istrinya. Tangannya mendekap Maura dengan erat, seolah takut Maura akan di ambil paksa lagi oleh mertuanya.


"Ayo kita tidur! Ini sudah malam," bisik Dave di telinga Maura, Maura mengangguk ia segera merebahkan kepalanya di dada Dave. Tak beberapa lama, mereka sudah memasuki alam mimpi dengan damai.


****


Pagi harinya publik Paris dikejutkan dengan anjloknya saham Alexander Group. Hal ini dikarenakan Abellard Company menarik semua investasi sahamnya dan memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan itu. Akibatnya Alexander Group menjadi perusahaan yang pincang.


" Mengapa ini bisa terjadi?" Teriak Jermy, ayah Roberto Alexander. Roberto hanya menundukkan pandangannya, ia yakin Dave sudah mengetahui bahwa dialah yang mengirimkan Video itu pada Jaksa Leo.


"Katakan! Apa kau ada masalah dengan Dave Abellard?" Tanya Jermy berapi-api. Ia begitu heran mengapa Abellard Company sampai memutuskan kontrak kerja samanya dan bersedia membayar biaya penalti sebagai konsekuensi pemutusan kerja sama secara sepihak.


Jermy tak mudah untuk memenangkan hati Albert Abellard kala itu, berbagai cara ia lakukan agar Albert mau bekerja sama dengannya. Namun dengan sejekap mata, Roberto menghancurkan semuanya.


"Aku mempunyai masalah pribadi dengannya. Sudahlah Dadd, aku yakin perusahaan kita bisa berkembang tanpa bantuan dari Abellard Company," jawab Roberto dengan dingin. Ia merasa tersinggung dengan ucapan ayahnya, ia ingin membuktikan bahwa perusahannya akan lebih maju walaupun tanpa bayang-bayang Abellard Company.


"Itu mustahil. Perusahaan kita akan pincang tanpa adanya Abellard Company. Daddy tak mau tahu apa masalahmu dengan putra Albert. Segeralah datang padanya dan meminta maaf!"


Roberto yang menundukkan kepalanya, seketika langsung mengangkat wajahnya. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Aku tidak mau," jawabnya dingin, Roberto segera mengambil jas yang tergeletak di kursinya, Ia kemudian pergi tanpa permisi pada Jermy.


"Dasar anak tidak berguna!!" Jermy tampak kehabisan kata-kata. Kini ia memutar otak, bagaimana caranya perusahaannya bisa bekerja sama lagi dengan Abellard Company.


Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Istri Kesayangan Nino. 🤗


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2