Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 34


__ADS_3

“Bagaimana?” Seorang lelaki tampan menatap bawahannya yang menunduk, sudah dipastikan bahwa tidak ada kabar baik yang akan keluar dari bibir yang masih setia mengatup itu.


“Maaf, Nona belum ditemukan,” jawab Radit ragu, dia merasa iba melihat Fariz yang kini kurus, lingkaran hitam di bawah mata menandakan bahwa Fariz selama ini tidak bisa beristirahat dengan tenang.


“Lalu bagaimana dengan anakku? Gadis itu kini mengandung darah dagingku, bagaimana jika perkembangannya buruk karena tidak mendapat nutrisi yang baik?” Sentak Fariz, sejak mengetahui bahwa Nesya mengandung, entah kenapa rasa dendamnya perlahan sirna, mungkinkah kehadiran malaikat kecil itu mampu memperbaiki hubungan yang nyaris berantakan itu?


Radit mengepalkan tangannya, ingin sekali dia berteriak bahwa tidak perlu khawatir tentang pola makan Nesya, bahkan gadis itu dirawat dengan baik oleh lelaki itu. Namun dia juga tidak tega pada Nesya, melihat gadis itu bahagia berada jauh dari jangkauan Fariz membuat hatinya dilema, di satu sisi Fariz ingin bertemu dengannya, namun di sisi lain, Nesya justru menolak keras pria yang sudah menorehkan sembilu di hatinya.


“Anak? Apa kamu sudah menikah?” suara perempuan memecah keheningan, Fariz membeku, aliran darahnya seakan terhenti, dia tahu bahwa itu adalah Clara, rupanya gadis itu sudah berdiri sembari memperhatikan mereka dengan kerutan halus di dahinya.


“Fariz! Bos!” Clara dan Radit kelabakan, melihat Fariz sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Dengan segera Radit dan Clara memapah Fariz dan membawanya ke kamar, Radit pun mengeluarkan ponselnya, menghubungi dokter pribadi yang biasa menangani keluarga Fariz.


“Apa maksud semua ini? Aku tidak mengerti,” Clara menatap Fariz kemudian beralih menatap Radit.


“Kamu yakin ingin mengetahui kebenarannya?”

__ADS_1


Clara mengangguk.


Radit menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjelaskan secara terperinci, satu pun tak ia lewatkan, dengan harapan bahwa Clara akan mundur dan membiarkan Nesya bersama dengan Fariz.


“Lalu di mana dia sekarang?”


“Dia kabur, mungkin dia tidak tahan dengan tekanan yang selama ini Fariz berikan.” Radit memalingkan wajahnya, ia masih belum bisa melupakan rasa sakit hatinya karena dikhianati oleh Clara. Apalagi saat Clara lebih memilih Fariz ketimbang dirinya yang hanya orang biasa.


Clara tertegun, tanpa sadar dia menangis, perasaan bersalah mulai menggerogotinya, membayangkan nasib malang yang menimpa Nesya.


“Aku permisi..” Clara berlari keluar dengan wajah yang berderai air mata, rasanya sangat sakit, berjuang mati-matian di negeri orang untuk menggapai impiannya, itu semua dia lakukan demi Fariz, karena janji pria itu yang akan menikahinya ketika Clara sudah sukses. Namun Fariz tidak pernah meminta Clara untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, tapi Clara yang keras kepala tetap kekeuh dengan keputusannya.


“Aku akan pergi, aku tidak mau menjadi pengganggu rumah tangga orang,” gadis itu masih terisak, jika saja dia boleh egois, Clara pasti menggunakan kesempatan ini untuk merebut Fariz dari Nesya, namun hatinya tidak tega jika memisahkan seorang anak dari ayahnya.


“Jangan!”


“Kenapa? Tidak ada gunanya lagi aku di sini,”

__ADS_1


“Karena aku mencintaimu.”


Deg


Hening, hanya empat mata yang saling bertemu, namun bibir mereka tertutup rapat, Radit pun baru tersadar dengan ucapannya.


“Emm aku masuk dulu.” Radit yang salah tingkah pun hendak melangkahkan kakinya ke dalam kamar Fariz.


Netra pria itu membulat, irama jantungnya tak beraturan, saat merasakan benda basah dan lunak menempel di bibirnya. Beberapa kali dia tampak mengerjapkan matanya tak percaya.


“Maaf.” Clara menyadari perbuatannya, pipinya merona, melihat Radit yang masih dengan keterkejutannya, dengan cepat dia berlari menuju mobilnya.


Like


Komen


 

__ADS_1


 


__ADS_2