
"Val, aku bisa sendiri," Razel mengambil tongkatnya dan melepaskan tangan Valerie.
"Tidak apa-apa. Biar aku bantu," Valerie bersikeras, ia menarik kursi dan membantu Razel untuk duduk.
"Val, setiap hari kau selalu menemaniku di sini. Apalah kau tidak bosan?" Tanya Razel penasaran.
"Tidak kok."
"Aku tidak mau kau menemaniku karena rasa bersalahmu. Aku sudah memaafkan kakakmu, Val. Kau tidak perlu seperti ini lagi. Jangan terus merasa kasihan padaku!" Tutur Razel. Entah mengapa saat mengatakannya hatinya merasa sakit. Tapi ia harus menyadari jika Valerie menemani dan membantunya hanya karena Valerie kasihan padanya.
"Aku tidak begitu. Aku hanya ingin menyaksikan kau sembuh total. Memang pada awalnya aku ke mari karena merasa bersalah, karena kakakku kau seperti ini. Tetapi, semua berubah. Aku ingin selalu berada di sisimu dan menyaksikan kau sembuh. Kau tahu? Kak Dave sudah menemukan donor mata untukmu. Kau akan melihat seperti sedia kala," Valerie bercerita dengan antusias.
Razel terdiam mendengar kata-kata Valerie, jika nanti ia bisa melihat lagi apakah Valerie akan pergi darinya? Apakah Valerie tidak akan menemuinya lagi? Diam-diam Razel merasa cemas, ia takut tak bisa melihat gadis ceria itu lagi. Kehadiran Valerie sangat mewarnai hari-harinya yang sepi.
Entah apa yang Razel rasakan, namun Razel tidak ingin Valerie pergi darinya suatu hari nanti. Namun ia juga tidak ingin egois, ia tidak ingin menahan Valerie jika suatu hari nanti Valerie tidak peduli lagi dengannya. Valerie berhasil! Jiwa Razel menjadi bergantung pada wanita itu. Di saat Razel kesepian, Valerie membawa kebahagiaan dan membawa secercah harapan di kehidupannya.
Tak lama terdengar pintu diketuk, Valerie segera membukakan pintu tempat Razel di rawat. Valerie begitu terkejut saat melihat Maura dan Dave mengunjungi Razel.
"Val, kau di sini?" Dave bertanya dengan ekspresi yang cukup terkejut.
"Iya kak, aku sering menemani Razel di sini."
"Val, kau tidak bercerita padaku jika kau sering menemani Razel," Maura meencebikan bibirnya.
__ADS_1
"Kau terlalu sibuk dengan kak Dave, hingga kau melupakan aku!" Sindir Valerie, Maura terkekeh. Ia segera memeluk sahabatnya itu.
"Maafkan aku, Val! Aku terlalu menikmati hari-hariku bersama Dave."
"Ya, Ya. Dunia milik kalian berdua, yang lain hanya ngontrak," seloroh Valerie dengan masih mengerucutkan bibirnya.
Dave memandang Razel yang sedang duduk di kursi, hatinya begitu merasa bersalah. Ia merasa sangat kasihan pada pemuda itu. Dave berpikir, jika dirinya tidak mabuk waktu itu, mungkin Razel tidak akan seperti ini.
"Razel?" Panggil Dave, ia kemudian duduk di sebrang kursi Razel hingga posisi mereka saling berhadapan.
"Kak Dave? Aku dengar kau sudah menikah dengan Maura. Selamat atas pernikahan kalian berdua! Semoga pernikahan kalian selalu diselimuti kebahagiaan," Razel tersenyum, ia meraba-raba meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan Dave. Membuat hati Dave makin terenyuh dan merasa bersalah.
"Terima kasih Razel. Maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini!" Dave memandang Razel dengan tatapan sedih, ia begitu menyesali perbuatannya. Andai waktu bisa diputar, ia tidak akan pergi ke bar dan minum-minum di sana.
"Tidak apa-apa, kak. Ini semua takdir. Kau tak usah menyalahkan dirimu sendiri!" Razel tampak tegar, mencoba terlihat kuat di hadapan Dave.
Razel tersenyum tipis, ia kemudian mengangguk. "Terimakasih, kak. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
Maura dan Valerie merasa terharu melihat pemandangan yang ada di depannya, mereka segera berjalan menghampiri kedua pria yang tengah berbincang itu. Maura mendudukan dirinya di samping Razel, ia menggenggam lengan sahabatnya itu.
"Razel, aku senang kau akan bisa melihat lagi," ucap Maura. Ia menatap Razel sambil tersenyum, membuat Dave merasa tak suka saat melihatnya. Dave menatap tangan Maura yang menggenggam lengan Razel, hatinya terasa mendidih. Apa benar Maura masih menyimpan perasaan pada Razel? Dave harus menanyakannya langsung.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Dave langsung masuk ke dalam kamar. Dari perjalanan pulang hingga sampai rumah, Dave tidak berkata sepatah kata pun. Tentu Maura bertanya-tanya, ada apa dengan suaminya?
"Dave, kau kenapa?" Maura sudah tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Dave melepas dasi dan melemparnya ke sembarang arah, ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memunggungi Maura. Maura menaiki tempat tidur, ia mencolek punggung Dave namun tidak ada reaksi dari suaminya.
"Dave, bicaralah! Kau seperti perempuan jika sedang marah," Maura masih tidak menyerah, ia mencoba membuat suaminya berbicara.
"Sayang, apa kau masih menyukai Razel?" Dave mendudukan dirinya, ia lalu menungkup pipi Maura dengan kedua tangannya.
"Menyukai? Kau bercanda? Dia itu sahabatku. memang aku sempat menyukainya. Namun saat aku mengenalmu, aku hanya menganggap Razel sebatas sahabatku."
Dave tampak merasa tak puas dengan jawaban Maura, ia jadi teringat dengan foto Razel dan Maura yang sedang bermain ski. "Aku melihat foto kalian berdua saat bermain ski di Pegunungan Alpen."
"Kami sangat dekat, Dave. Kami dekat karena kedua orang tua kami pun sudah lama bersahabat. Kau cemburu ya?" Maura terlihat senang, ia sangat senang jika Dave cemburu padanya. Cemburu itu kan artinya cinta ? Begitu pikir Maura.
"Iya, aku sangat cemburu. Aku tidak rela ada pria yang dekat denganmu. Aku tidak ingin membagimu dengan siapapun," Dave berterus terang.
"Kau jangan khawatir! Bukannya sekarang aku sudah sah menjadi istrimu? Apalagi yang kau takutkan? Aku ini bukan tipe perempuan yang tak setia. Kau percaya padaku?"
Dave terdiam beberapa saat, kemudian ia menganggukan kepalanya seperti terhipnotis dengan ucapan Maura. Ia menatap mata teduh istrinya, Dave yakin Maura tipe perempuan yang setia. Namun mengapa dirinya tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya?
"Aku hanya takut kehilanganmu!" Lirih Dave, ia mengangkat dagu Maura dan mencium bibirnya lembut, Maura membalas ciuman itu.
__ADS_1
"Kau milikku Maura," gumam Dave dengan posesif, ia segera mengukung Maura dengan tubuhnya. Hingga mereka kembali melewati malam yang begitu panjang.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...