Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Maura segera menelfon pihak bengkel yang ada di sekitar kota Annecy. Dua karyawan bengkel segera datang untuk menangani kerusakan mobil Maura. Maura berjalan dengan tergesa-gesa, ia kemudian menyetop sebuah taksi.


"Dave, apakah ini ulahnya?" Gumam Maura.


Ponsel Maura berbunyi dengan sangat nyaring, tampak nama Daddy menghiasi layar ponselnya.


"Hallo Dadd!" Sapa Maura, Maura bersikap seceria mungkin.


"Kau di mana, Maura ? Apa kau baik-baik saja, Nak?" Terdengar suara Jaksa Leo dari seberang sana.


Maura mengernyitkan dahinya heran, bagaimana ayahnya tau jika ia sedang dalam masalah? Hening beberapa saat, Maura tampak mengatur nafasnya, agar ia berbicara sesantai mungkin. Maura tidak mau membuat ayahnya khawatir. "Maura baru pulang berbelanja, Dadd. Ada apa, Dadd?"


"Nak, satu jam yang lalu kantor Daddy kebakaran. Daddy sempat menelfon Detektif Martin untuk mencari tahu penyebab kebakaran. Tapi kuat dugaan kantor Daddy mengalami korsleting listrik," suara Jaksa Leo tampak melemah.


Maura begitu terkejut mendengar kabar yang di bawa oleh ayahnya, kekhawatirannya begitu besar saat ia mengingat ancaman Dave.


"Lalu bagaimana, Dad? Apa Daddy terluka? Apa ada yang sakit Dadd? Apa ada korban jiwa?" Cerocos Maura dengan suara yang sangat khawatir.


"Untungnya tidak ada korban jiwa, Nak. Daddy pun tidak apa-apa," Jaksa Leo tampak menenangkan puterinya.


"Dad, apa perlu Maura pergi ke Paris? Maura begitu mengkhatirkanmu, Dad."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Besok saja Daddy menemuimu ke kota Annecy. Kau dan Mommy mu jaga diri baik-baik ya?"


"Baiklah, Dad," Maura menutup telfonnya. Hari ini nasib kurang beruntung menimpa dirinya dan ayahnya. Apakah benar ini ulah Dave?


Maura memegang kalung liontin yang menghiasi lehernya, ia kemudian menyenderkan tubuhnya lemah di kursi sandaran penumpang, seketika rasa bersalahnya pada Dave menguap. Jika benar Dave dalang semua ini, Maura tidak akan pernah memaafkannya.


Sementara itu.


Dave tersenyum senang saat semua rencananya berjalan dengan baik, ia tampak mendengarkan suara Maura yang sedang melakukan panggilan telfon dengan ayahnya. Dave tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba, di mana Maura yang akan datang sendiri dan menyetujui rencana pernikahannya.


"Kak?" Tiba-tiba Valerie muncul dibalik pintu yang sedikit terbuka.


Valerie menyipitkan matanya saat melihat banyaknya botol Wine berserakan di ruang kamar kakaknya. Banyak botol yang sudah kosong berhamburan di lantai. Kemudian gadis berambut blonde itu mengamati mata Dave yang memerah. Apa kakaknya minum-minum lagi?


Dave memandang Valerie dingin dan tanpa ekspresi. "Ada apa?"


"Apa yang kakak rencanakan pada Maura?" Tanya Valerie dengan penuh selidik, ia menatap kakaknya dengan tatapan tidak suka.


"Kakak hanya bermain-main saja dengannya," jawab Dave dengan enteng.


Valerie tertegun, kemudian ia memberanikan diri untuk menatap kakaknya. "Kak, kau berbeda sekali dengan kak Dave yang aku kenal, aku hampir tidak mengenali dirimu. Saat ini kau seperti monster."

__ADS_1


"Kakak begini karenamu!! Andai saja kau tidak mengenalkan kakak pada temanmu. Mungkin hati kakak tidak akan sesakit ini!!" Teriak Dave dengan berang.


Valerie memundurkan langkahnya, ia menggelengkan kepalanya pelan. Karena pertama kali dalam hidupnya, Dave membentaknya "Kakak benar-benar berubah. Aku membencimu, kak!!"


Dave segera menahan dan mengambil lengan Valerie, ia menahan gadis itu dengan tatapan tidak bersahabat.


"Apa kau tahu perasaan kakak, Val? Bayangkan saat kau diposisi kakak!! Saat kau mencintai seseorang dengan begitu dalam, saat kau mati-matian berusaha untuk membahagiakannya. Ternyata orang yang kau cintai itu mengkhianatimu, dan perlakuannya selama ini hanya sebuah kepura-puraan. Apa kau masih akan memaafkannya?" Dave melepaskan tangan adiknya dan memegang bahu Valerie kuat, ia menatap manik mata adik kesayangannya itu.


Valerie tak bergeming, ia diam seribu bahasa, karena bagaimana pun ia memang membenarkan bahwa tindakan Maura salah.


"Andai saja temanmu itu berterus terang kepada kakak, pasti kakak akan mengakui perbuatan kakak dan bertanggung jawab," katanya lagi, bau alkohol menyeruak dari mulut Dave.


"Kak kau mabuk, istirahatlah!" Valerie menggandeng lengan kakaknya.


"Kemarin kakak menyusulnya ke Annecy, saat melihat wajahnya kakak ingin sekali dia meminta maaf. Mungkin kakak akan mengampuninya!! Tapi dia meninggalkan kakak di Danau Annecy. Jadi siapa yang salah menurutmu?" Lanjut Dave lagi dengan nada yang tinggi.


Valerie segera menghambur memeluk kakaknya, terdengar suara isakan yang tertahan. Selama hidup bersama kakaknya, Valerie tidak pernah melihat Dave seberantakan ini. Ia pun tidak pernah melihat kakaknya meneteskan air mata apalagi untuk urusan cinta, tetapi kali ini Valerie mendengar sendiri isakan Dave yang tertahan walaupun ia menyembunyikannya di hadapan Valerie.


"Maafkan Valerie, kak! Maafkan temanku! Tapi Val mohon jangan kakak sakiti Maura! Valerie menyanyanginya," Valerie terisak dipelukan kakaknya


"Maafkan kakak Valerie, tapi kakak harus membalaskan atas apa yang temanmu lakukan."

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2