
Pagi hari di kediaman Fariz, lelaki itu tampak panik karena Nesya mendadak demam tinggi, apalagi Nesya terus berteriak histeris saat dirinya hendak mendekat. Sepertinya Nesya trauma dengan apa yang diperbuat Fariz kemarin malam.
“Pergi Kak! Jangan sentuh aku!” ujar Nesya dengan suara parau, tubuhnya bergetar saat Fariz sudah duduk di tepi ranjang, seperti biasa, tak ada senyuman yang tampak di wajah rupawan itu.
Fariz hanya diam, namun tangannya bergerak untuk mendudukkan Nesya meski gadis itu terus memukul dadanya.
“Makan!!” ucap Fariz datar.
“Nggak mau! Aku mau makan kalau sama kak Abi,” jawab Nesya seraya menautkan jari jemarinya.
“Lihat aku!” Fariz menangkup pipi Nesya, lelaki itu terlihat menggeratkan giginya.
“Kurang baik apalagi diriku hah? Jika saja aku tidak mengenal kalian, mungkin saja kakak sialanmu itu sudah mendekam di balik jeruji besi. Dan kamu, aku pasti tidak akan segan-segan untuk menyiksamu!!” ujar Fariz berapi-api.
“Tapi bukan kakak yang membunuh kak Amel,” tatapan Nesya menjadi sendu, manik matanya melihat Fariz yang langsung memalingkan muka saat dirinya mengucap adik kesayangan suaminya.
“Tahu apa kamu hah? Jelas-jelas saat itu kita datang bersamaan dan melihat kakakmu berada di sana. Bisa saja kan Abi berbohong!” Fariz meninggikan suaranya, ia tidak terima jika Nesya terus membela Abi.
“Tapi-"
“DIAM!!” tamparan keras mendarat di wajah Nesya membuat gadis itu tersungkur.
__ADS_1
“Kak Fariz jahat!” Nesya terisak, dia berlari ke luar kamar sambil menangis sesenggukan.
“Mau lari ke mana kamu hmm?” Fariz mengejar Nesya, terlihat gadis itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
“Aku harus pergi..” gumam Nesya seraya mengusap pipinya yang terasa kebas.
“Kamu tidak akan bisa pergi,” tangan kekar itu berhasil meraih tangan istrinya. Namun Nesya berusaha agar bisa terlepas, terjadilah aksi tarik menarik di tangga itu. Nahas, kaki Nesya tergelincir, Fariz tercengang melihat Nesya yang sudah tergeletak di lantai bawah.
“Nesya!” Fariz berlari menuruni tangga, dia tidak ingin dicap sebagai pelaku KDRT melihat kondisi Nesya yang sudah babak belur.
“Nesya, bangun... Nesya,” kepanikan Fariz semakin menjadi, saat tubuh Nesya mengejang serta keringat dingin membasahi keningnya, wajahnya pun pucat pasi.
“Apa ada keluarganya yang bernama Abi?” tampak seorang dokter setengah baya keluar dari ruangan setelah memeriksa Nesya.
“Dia kakaknya Dok, tetapi saat ini dia sedang di luar kota,” ujar Fariz yang pastinya hanya akal-akalan semata.
“Kondisinya benar-benar memprihatinkan, apa sebelumnya pasien mengalami kekerasan?”
Seketika tubuh Fariz menegang, namun sebisa mungkin dia menyembunyikannya agar terlihat tetap tenang.
“Tidak, dia memang tadi terjatuh dari tangga.”
__ADS_1
Dokter itu mengangguk, namun dia sedikit menaruh curiga pada Fariz yang terlihat gelisah.
“Apa saya boleh masuk, Dok?”
“Silahkan, tetapi sebisa mungkin untuk menjaga emosinya, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya.”
Fariz mengangguk paham, ia lantas masuk ke ruang perawatan dimana Nesya tengah berbaring dengan tatapan kosong.
“Pergi! Jangan mendekat! Tolong...!!” Nesya kembali histeris, melihat Fariz yang mendekat ke arahnya.
Secepat kilat Fariz mendekap tubuh Nesya, “diamlah atau aku akan membunuh kakakmu sekarang juga.”
Namun bukannya diam, Nesya semakin menggila, dia menangis sambil berteriak membuat Fariz gelagapan.
“Sudah-sudah, apa kamu mau menelepon kakakmu?” Fariz mencoba meredam emosinya yang sudah meledak-ledak. Jika saja ini bukan rumah sakit, ia mungkin sudah memberi pelajaran pada Nesya.
Tangis Nesya mereda, dia mulai nyaman berada di dekapan Fariz. Wajahnya mendongak kemudian mengangguk, sudah lama Nesya tak mendengar kabar tentang Abi, dan semuanya tak lain adalah karena ulah Fariz.
Like
Komen
__ADS_1