Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 8


__ADS_3

Dengan telaten, Fariz memandikan Nesya yang masih belum sadar, sesekali dia memberi pijatan lembut di tubuh Nesya. Setelah terasa cukup, Fariz kembali membopong gadis itu kemudian memakaikan pakaian pada Nesya juga dirinya sendiri.


Menidurkan Nesya di tempat tidur kemudian menyelimutinya, meskipun telah dibutakan oleh dendam, tetapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada perasaan tidak tega pada gadis itu. Laki-laki itu meninggalkan Nesya, Ia menuju ke dapur untuk membuatkan sesuatu untuk Nesya, lagi-lagi sisi iblisnya keluar, tersenyum sambil mengolah bahan-bahan hingga matang.


Fariz kembali ke kamar Nesya, dilihatnya mata gadis itu masih terpejam. Ia duduk di sebelah Nesya, menyandarkan tubuhnya di senderan ranjang. Ia membuka aplikasi berlogo hijau kemudian mencari kontak sang kakak dari gadis yang telah dia renggut kesuciannya, Fariz melakukan panggilan video menggunakan nomor ponsel yang sudah diganti sebelumnya.


“Fariz..!!” terdengar lelaki di seberang sana berteriak.


“Hei pelan-pelan saja, jangan berteriak! Lihatlah adikmu, dia tengah tertidur pulas, aku menjaganya dengan sangat baik bukan??” menyorot Nesya yang tengah tertidur, Abi tertegun, melihat wajah polos itu tertidur dengan damai.


“Kau apakan dia? Kenapa wajahnya sangat pucat? Dan bekas apa itu di lehernya?” tanya Abi dengan amarah menggebu-gebu.


“Menurutmu apa yang akan terjadi jika laki-laki dan perempuan berada di rumah yang sama? Terlebih lagi dia adalah adik dari pembunuh,”


“Keparat!! Kembalikan Nesya!” Abi berteriak, sebagai laki-laki dewasa pasti paham dengan apa yang sudah terjadi pada Nesya.

__ADS_1


“Kembalikan? Tidak semudah itu calon kakak ipar. Aku akan menikahinya besok, ayolah restui kami, aku akan merawatnya dengan baik. Apa kamu tidak kasihan dia harus tinggal bersamamu? Bahkan sekarang rumah pun tak punya!” Fariz tersenyum miring, tanpa Abi ketahui, ternyata tanah yang ia pijak dulu sudah berpindah menjadi milik Fariz.


“Bagaimana kamu tahu?” jelas saja Abi kaget, tak menyangka jika ternyata Fariz mengawasinya.


“Apa yang tidak aku ketahui? Lupakan adikmu, anggap dia sudah tiada. Biarkan aku yang menjaganya, bahkan aku memfasilitasi semua kebutuhannya,” ujarnya santai membuat Abi naik pitam.


“Nesya tidak perlu dengan barang-barang mewah!” Abi memperhatikan Nesya, memang benar jika Nesya memakai pakaian yang bermerek.


“Kak Abi!!” Nesya yang samar-samar mendengar suara kakaknya pun sontak bangun.


“Kak Fariz, itu tadi kak Abi kan??” Nesya mengguncang lengan Fariz, matanya berkaca-kaca, namun dia kembali menunduk saat manik tajam Fariz menatapnya. Kembali teringat peristiwa beberapa jam yang lalu, Nesya sontak menjauhkan dirinya dari Fariz.


“Kenapa menjauh hmm?” menarik Nesya hingga duduk di pangkuannya, Fariz bisa merasakan ketakutan Nesya.


“Apa kamu mau berbicara dengan kakakmu?” Fariz membelai pipi Nesya yang terlihat memar akibat ulahnya.

__ADS_1


Nesya mendongak kemudian mengangguk, matanya berbinar-binar membuat Fariz merasa salah tingkah.


“Ada satu syarat, kamu harus menuruti semua keinginanku, apapun itu!”


Nesya memikirkan ucapan Fariz, jika dia mengiyakan, berarti dia harus mau menuruti semua keinginan Fariz, namun jika dia menolak, itu artinya dia membuang kesempatan ini untuk melampiaskan rindu pada sang kakak meskipun secara virtual.


“Waktumu hanya lima belas menit!” menyerahkan ponselnya pada Nesya, gadis itu sangat antusias, saat ingin turun dari pangkuan Fariz, laki-laki itu malah mendekap tubuhnya erat, menghirup aroma Nesya dalam-dalam membuat sang empunya merinding.


Like & komen yaa..


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2