Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Penyesalan Dave


__ADS_3

Dave segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat yang ada di kawasan Disneyland Paris. Sesekali ia melihat Maura yang berada di sisinya. Maura tampak meremas roknya sendiri. Dave benar-benar tidak tega melihatnya.


Dave melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, tangannya terlihat gemetar karena ia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Maura. Saat sudah sampai di rumah sakit, Dave menggendong Maura dan berlari ke arah IGD. semua perawat berlari membawa brankar dan membantu membaringkan Maura.


Para perawat tadi membawa Maura ke dalam ruang IGD, terlihat ada dokter pria paruh baya yang akan menangani Maura.


"Maaf, tuan anda dilarang masuk! Dokter sedang melakukan pemeriksaan," salah seorang pria mengingatkan Dave dengan sopan.


"Baiklah," sahut Dave mengalah, ia tak ingin memperumit dokter yang akan memeriksa Maura.


Dave mengambil ponselnya di saku celananya, ia lalu menelpon Valerie, Albert, Elline, Sophie, Leo, dan Sekretaris Keenan.


"Semoga tidak terjadi apa-apa pada Maura dan kehamilannya," harap Dave dengan lirih, matanya terasa memanas. Ia benar-benar takut sesuatu yang buruk menimpa istrinya.


Tak lama, Sophie dan Leo muncul menghampiri Dave yang sedang berjalan mondar mandir dengan gelisah. Disusul dengan keluarga Dave yang baru saja datang dengan tergopoh-gopoh.


"Dave, apa yang terjadi dengan Maura?" Tanya Sophie dengan panik.


"Saat kami pergi ke Disneyland, perut Maura kram. Dia tengah hamil, Mom!" Jelas Dave dengan mata yang memanas.


Semua orang yang ada di sana begitu tersentak saat mendengar Maura hamil.


"Mengapa kau tidak memberitahu kami Maura hamil? Sekarang bagaimana keadaannya, Dave? Maura baik-baik saja kan?" Cerocos Elline dengan ekspresi yang tak kalah panik.

__ADS_1


Saat semua menginterogasi Dave, seorang dokter keluar dari ruangan IGD. "Apa suami pasien ada?"


Dave mendekati dokter paru baya itu, ia langsung menunjuk dirinya sendiri "saya suaminya, Dok."


"Istri anda akan kami pindahkan ke poli Obygin. Sepertinya ada masalah dengan janinnya," papar dokter itu, yang membuat semua yang mendengar begitu terkejut dan khawatir.


"Pindahkan segera! Berikan fasilitas yang terbaik untuk istri saya!!" Mata Dave tampak berkaca-kaca, ia mengutuki dirinya sendiri karena telah mengizinkan Maura pergi ke Disneyland.


"Mom, semua gara-gara Dave. Jika Dave tidak menuruti keinginan Maura untuk jalan-jalan, semuanya tidak akan seperti ini," sesal Dave dengan suara parau.


Albert dan Leo mengelus bahu Dave seperti menenangkan, karena bagaimana pun mereka meyakini ini takdir dari yang maha kuasa, bukan karena ulah Dave. Valerie, Elline, dan Sophie hanya bisa menangis mendengar kabar itu. Mereka begitu terpukul saat mendengar kondisi Maura.


Dave langsung berjalan menuju ruang Obygin, sementara keluarga dan mertuanya menunggu di ruang tunggu, mereka juga tengah melengkapi data-data Maura untuk keperluan administrasi.


Dave menganggukan kepalanya, ia segera memasuki ruangan Obygin. Terlihat Maura yang sedang berbaring, air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang merona.


"Dave, anak kita!!" Isak Maura penuh penyesalan.


"Sayang, tenanglah! Kau akan baik-baik saja," hibur Dave, jemarinya menghapus air mata Maura. Dave membelai rambut istrinya dengan sayang, tak lupa ia mendaratkan ciuman di puncak kepala Maura.


Seorang Dokter Obygin yang bernama Dokter Cathy segera memeriksa kondisi Maura, ia memeriksa celana Maura yang sedikit lembab karena keluarnya flek. kemudian seorang perawat mengoleskan gel pada perut Maura. Dokter Cathy segera melakukan USG.


Wajah dokter Cathy terlihat serius sekali, membuat Maura dan Dave makin cemas.

__ADS_1


"Anda mengeluarkan flek, Nona. Anda harus bedrest dan rawat inap di sini. Kami akan memberikan obat penguat kandungan untuk anda," Dokter Cathy menjelaskan.


"Bayiku baik-baik saja kan, Dok?" Suara Maura tampak bergetar, ia sangat takut terjadi apa-apa dengan bayinya.


"Pendarahannya hanya berupa flek, Nyonya. Tidak ada pendarahan yang hebat. Bayi anda akan baik-baik saja," Dokter Cathy tersenyum seperti menenangkan, namun ia memberikan kode kepada Dave agar mereka berbicara berdua saja.


Setelah selesai konsultasi dengan dokter Cathy, tiga orang perawat tadi segera memindahkan Maura ke sebuah brankar. Kemudian mereka mendorong brankar tadi menuju kamar suite room yang ada di lantai empat. Dave tidak ikut, ia akan berbicara empat mata dengan Dokter Cathy.


"Jadi ada apa, Dok? Ada apa dengan istri saya?" Tanya Dave, ia merasa tidak sabar untuk mendengar informasi yang sebenarnya.


"Tekanan darah istri anda sangat lemah, tuan! Istri anda juga malnutrisi. Tubuhnya sangat kekurangan sayur dan buah. Janin istri anda sangatlah lemah. Tapi kita harus berusaha, Untuk saat ini saya hanya akan meresepkan vitamin dan penguat kandungan," papar Dokter Cathy dengan raut wajah yang sedih.


"Tapi Maura dan janinnya akan baik-baik saja kan, Dok? Memang istri saya akhir-akhir ini tidak mau makan sama sekali."


"Justru itulah sebabnya, melihat USG tadi saya menemukan tidak ada perkembangan janin. Saya takut janin itu tidak bisa bertahan," Dokter Cathy memberitahukan kabar buruk tentang janin Maura.


Dave tampak kaget dengan apa yang disampaikan Dokter Cathy. "Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk istri saya, Dok!!" Dave tampak kalap dengan informasi yang didengarnya.


"Tenanglah, tuan! Kami akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Nyonya Maura dan janinnya."


Dokter Cathy mengakhiri pembicaraannya dengan Dave, Dave segera berlari menuju lift. Ia tak sabar untuk menemui istrinya. Pintu lift terbuka, Dave memasuki ruangan rawat inap Maura. Kemudian ia langsung memeluk Maura dengan penuh penyesalan.


"Maafkan aku, Maura! Aku belum menjadi suami yang baik untukmu."

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2