
"Aku ingin menagih hakku," jawabnya dengan tatapan penuh arti.
Maura merasa takut, ia memegang handuk yang membalut tubuhnya dengan erat. Maura melepaskan pelukan Dave dari tubuhnya dengan kasar. Maura segera bergegas meninggalkan kamarnya dengan membawa baju yang dibawanya dari lemari.
"Kau mau ke mana? Ayo layani suamimu! Jangan jadi istri yang tidak patuh!" Pinta Dave dengan aura mengerikan, Ia mencengkram tangan Maura. Sebenarnya Dave hanya ingin menakut-nakuti Maura saja. Namun saat melihat Maura yang memberontak seperti ini, ia begitu tertantang untuk menaklukan gadis itu.
"Aku tidak mau, lepaskan aku!" Teriak Maura seraya menghempaskan lengan Dave dengan kasar.
"Mengapa kau selalu membangkang padaku? Padahal aku hanya minta hak ku sebagai seorang suami," Dave berteriak memekik telinga siapa saja yang mendengarnya.
Maura memberanikan diri menatap manik mata Dave, ia melihat mata itu berbeda dengan Dave dulu yang selalu memanjakannya dan perhatian padanya. Tidak ada lagi belas kasih dalam manik mata biru pucat itu.
"Hak? Kau membicarakan Hak? Bahkan kau saja tidak pernah memperlakukan aku dengan baik!"
Dave mulai terpancing emosinya, ia terjebak dengan permainannya sendiri. Wajahnya tampak memerah, terlihat sekali ia menahan amarah yang bergejolak di dadanya. "Tidak pernah memperlakukanmu dengan baik? Apa kau lupa dahulu aku selalu memperlakukanmu dengan baik, tapi kau mengkhianati kepercayaanku!!" hardik Dave dengan berapi-api.
"Aku sudah meminta maaf kepadamu. Mengapa kau selalu saja mengungkitnya?" Tanya Maura dengan suara yang parau.
"Aku akan selalu mengungkitnya sampai mati, bahkan alasan aku menikahimu karena pengkhianatanmu sendiri. Kau yang memulai permainan ini terlebih dahulu," bentak Dave sambil mencengkram kedua tangan Maura.
Maura berusaha untuk tidak menangis, meskipun kakinya merasa gemetar. Ia begitu takut Dave berbuat macam-macam padanya "cukup Dave, akhiri semua ini!!"
"Akhiri? Bahkan kita belum memulai, sayang!" Dave berbisik dengan seringai jahatnya. Ia segera menarik Maura dan menggendongnya menuju tempat tidur.
Dave menghempaskan tubuh Maura dan menindihnya dengan penuh nafsu. Maura tampak meronta dengan tatapan takut dan memelas.
"Lepaskan berengs*k!!" Teriak Maura, ia menjambak rambut Dave dengan sekuat tenaganya. Ia tak boleh kalah begitu saja.
Dave segera menggenggam lengan Maura agar gadis itu tidak berontak, Dave menarik handuk yang menutupi tubuh gadis itu, sehingga Dave dengan jelas melihat tubuh polosnya.
__ADS_1
"Tubuhmu indah sekali, mengapa tak kau jajakan tubuhmu di club malam? Aku yakin banyak yang tertarik padamu! Apalagi kau pandai sekali mengambil hati seorang pria," Ejek Dave dengan tatapan merendahkan.
Air mata menitik dengan deras dari Mata Maura, ia begitu sakit saat Dave menghinanya.
"Dave, lepaskan! Kau bunuh saja aku biar kau puas!!" Maura berteriak dengan terisak.
Dave mendekatkan wajahnya pada wajah Maura, ia menggosok-gosokan hidungnya pada hidung gadis itu. "Tidak secepat itu, aku ingin melihatmu menderita terlebih dahulu."
Dave mengapit tubuh mungil Maura, Maura memberontak sekuat yang ia bisa. Maura menggigit bahu Dave, namun tak dihiraukan oleh pria itu, baginya gigitan Maura itu hanya seperti gigitan seekor semut.
Beberapa saat Maura tidak lagi memberontak, ia tampak kehilangan tenaganya. Maura menangis tersedu-sedu dengan tubuh gemetar.
"Aku mohon lepaskan aku, Dave!" Pinta Maura dengan lirih, ia menangis dengan sesenggukan. Dave melihat mata Maura, lagi-lagi hatinya merasa bersalah. Perlahan sesuatu yang bergejolak di dadanya hilang tak berbekas. Dave segera melepaskan tubuh Maura dan menutupnya dengan selimut. Namun ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Maura.
"Baiklah. Jika kau tak bisa melayaniku, aku akan memanggil Rebecca untuk menggantikanmu," Dave mengambil ponselnya dan menelfon mantan kekasihnya itu. Dave sengaja menyalakan loud speaker sehingga terdengar suara Rebecca yang tampak senang dan segera on the way menuju apartemen Dave.
Maura masih menangis sesenggukan, ada bagian hatinya yang merasa hancur berkeping-keping. Dave segera meninggalkan kamar Maura, dengan cepat Maura segera memakai pakaiannya dengan lengkap.
"Mohon maaf, Nona! Mau apa kau kemari?" Tanya Maura dengan ekspresi dingin.
"Honey, masuklah!" Dave tampak keluar dari kamarnya, ia segera menggandeng Becca dan melewati Maura begitu saja.
Orang ketiga? Sepertinya ini level penyiksaan yang paling mutakhir yang Dave berikan padanya. Hatinya merasa sangat terluka, apalagi saat mereka mengacuhkan Maura begitu saja. Rasanya Maura ingin berlari sejauh-jauhnya meninggalkan apartemen terkutuk ini.
"Mohon maaf, Nona! Apa kau tidak malu dengan terang-terangan kau mendatangi pria yang berstatus sebagai suami orang?" Maura menghampiri Becca dan Dave yang sedang berbincang hangat di sofa.
"Aku kesini karena dipanggil oleh suami anda, Nona!" Becca memberanikan diri menyingkirkan harga dirinya. Bagaimana pun Becca tahu bahwa pernikahan Dave hanya keterpaksaan, maka dari itu ia akan berjuang untuk mengambil Dave kembali ke pelukannya.
Dave menarik sudut bibirnya ke atas, entah mengapa ia begitu senang saat Maura menegur Rebecca.
__ADS_1
"Ini sudah malam, Nona. Silahkan anda pulang! Anda benar-benar mengganggu kami yang akan beristirahat," ucap Maura dengan pedas. Bagaimanapun ia tidak boleh membiarkan ada orang ketiga masuk ke dalam rumah tangganya. Dave boleh saja menyiksanya tanpa ampun, tapi untuk urusan orang ketiga Maura tidak akan membiarkan itu semua terjadi.
"Mengapa kau cerewet sekali? Aku mengundang Becca atau siapapun datang ke apartemen ini adalah hakku. Ini apartemenku dan Becca adalah kekasihku. Jadi bebas saja dia mau mengunjungi apartemen ini kapan pun dia mau," seloroh Dave dengan tajam. Becca merasa senang saat Dave membelanya.
"Honey, kau sudah siap? Aku ingin sekali dilayani olehmu," tutur Dave dengan melihat ekspresi wajah Maura.
"Hentikan Dave itu menjijikan!!" Pekik Maura.
"Kau cerewet sekali!!" Dave menarik Maura ke dalam kamar gadis itu, kemudian ia segera mengunci pintu dari luar.
"Dave buka! Dasar kau berengs*k, Dave! Aku sungguh membencimu!!!" Teriak Maura seperti orang kesetanan.
Rebecca hanya tersenyum tipis, ia segera menyeruput capucino yang dihidangkan Dave.
"Kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu?" Becca tampak memancing Dave.
"Tidak. Ayo kau pulanglah! Aku sudah lelah, aku ingin tidur," timpal Dave dingin tanpa ekspresi.
"Kau memanggilku kesini hanya untuk ini saja?" Becca tampak kehilangan kata-katanya. Ia begitu tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang ada di hadapannya.
"Aku sudah membayarmu untuk hubungan pura-pura kita, aku bebas memanggilmu kapan saja ke mari."
Raut wajah Becca tampak muram, Dave begitu berbeda saat ia mengenalnya dulu. Becca hanya melihat Dave sudah jauh berubah, ia benar-benar tidak mengenali pria itu.
"Baiklah kau jaga kesehatan ya! Besok pagi aku akan membawa sarapan untukmu," Becca mengelus rambut Dave, kemudian ia berpamitan dan meninggalkan apartemen.
"Dave aku bersumpah aku akan menyelamatkanmu dari rumah tangga yang mengerikan ini."
Sementara itu Maura tampak menyenderkan tubuhnya di pintu, tubuhnya merosot hingga ia terduduk di lantai. Maura menangis dengan tersedu-sedu. Di dalam pikirannya, ia begitu takut Dave menghabiskan waktu malam ini dengan Rebecca, ia begitu tidak rela saat membayangkan Dave dan Becca bermesraan.
__ADS_1
"Dave aku sungguh sangat membencimu."
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...