Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Hujan dan Petir


__ADS_3

Hujan deras di pagi hari membuat Maura terbangun, ia membuka tirai jendela tampak kaca berembun. Maura mengelap-ngelap kaca itu dengan tangannya, terlihat sekali hujan dan angin bertiup lumayan deras dan kencang.


Maura melihat dirinya di cermin, matanya tampak sangat sembab karena terlalu lama menangis semalam. Maura berjalan ke arah kasur dan merebahkan dirinya lagi. Rasanya Maura sangat malas untuk melakukan aktivitas di hari ini.


Terdengar suara seseorang membuka pintu, Maura langsung memejamkan matanya berpura-pura masih tidur.


"Hey, wanita! Bangunlah, ini sudah pagi!" Terdengar suara Dave yang yang berteriak.


Dave menyingkap selimut yang membalut tubuh Maura, ia menarik-narik lengan gadis itu. Maura menepisnya, ia kemudian segera bangun dan berjalan melewati Dave begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun, ia malas sekali jika harus berdebat sepagi ini dengan Dave.


"Ikuti aku!" Dave berjalan mendahului langkah Maura, kemudian tangannya menarik gadis itu ke dalam kamarnya.


"Rapihkan semua kamarku! Kamarku berantakan karena sisa semalam tidur bersama Becca," Dave tampak memancing Maura.


Maura tidak menunjukan ekspresi apapun, dengan cepat ia mengambil sapu dan lap pel. Maura terlebih dahulu merapikan tempat tidur Dave yang berantakan, Dave mendudukan dirinya di kursi kerja yang ada di kamar itu. Ia memperhatikan Maura yang sedang sibuk menyapu dan mengepel lantai. Dave kemudian memperhatikan mata Maura yang sembab, entah mengapa hatinya merasa bersalah dengan apa yang sudah ia perbuat pada malam tadi pada Maura, membuat Maura menangis semalaman dan berteriak-teriak meminta dibukakan pintu.


"Biarkan saja, Dave! Penderitaannya tidak sebanding dengan pengkhianatannya kepadamu," Dave menguatkan hatinya agar tidak melunak kepada Maura.


"Nah sekarang kau lipat semua bajuku, dan sejajarkan semua warnanya!" Dave mengambil baju yang belum dilipat dan melemparkannya kepada Maura. Sebenarnya Maura tidak bisa melipat baju, sejak dari kecil ia begitu dimanjakan oleh orang tuanya. Maura tidak boleh untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah karena sudah ada 3 asisten rumah tangga di rumahnya.


Maura langsung membawa pakaian-pakaian itu dan menaruhnya di atas kasur milik Dave. Maura duduk dan mulai belajar melipat baju-baju itu tanpa mempedulikan kehadiran Dave. Maura tampak bersenandung kecil, ia menyanyikan lagu Paris In the Rain milik penyanyi Lauv. Suara Maura terdengar merdu di telinga Dave, Dave merasa merinding dengan sikap Maura pagi ini, ia begitu tidak nyaman di acuhkan oleh istrinya sendiri.


Terdengar bunyi bel yang dibunyikan dari luar, Maura beranjak meninggalkan pekerjaannya yang sedang melipat baju. Maura membuka pintu, ia melihat Rebecca tersenyum ke arahnya dengan memakai sweater hijau mint, Becca tampak sangat anggun dan manis. Berbeda sekali dengan dirinya yang belum mandi dan hanya memakai piyama tangan dan celana panjang.


"Honey, aku membawakan sarapan untukmu!" Sapa Becca saat melihat Dave keluar dari kamarnya. Saat Becca melangkahkan kakinya, Maura mencengkram lengan Becca.


"Jika kalian ingin bermesraan, tolong jangan lakukan disini! Menjauhkan dari pandanganku!" Maura menatap Becca dengan dingin.


"Maura!! Dia kekasihku, hargai Rebecca!" Bela Dave dengan menggandeng tangan Becca.


"Dia kekasihmu dan aku istrimu. Apa kau tidak bisa menghargai aku? Setidaknya hargai aku sebagai manusia," Maura berkata dengan suara bergetar, sudah cukup! Ia tidak boleh menangis lagi apalagi di hadapan Dave dan Rebecca.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nona!" Becca tampak tidak enak.


"Sudah biarkan saja dia, ayo kita duduk!" Dave menarik tangan Becca dan membimbingnya menuju sofa. Setelah itu ia menghampiri Maura.


"Capucino di dapur habis. Tolong kau belikan ke supermarket!" Titah Dave dengan wajah tak ramah.


"Aku tidak mau. Diluar hujan, aku takut petir!" Tolak Maura.


Dave menghembuskan nafasnya kasar, ia begitu tidak suka dengan sikap Maura yang selalu membangkangnya. "Aku sudah memberimu kartu untuk berbelanja tempo hari, pergilah dan belilah semua kebutuhan dapur!"


"Pasti dia menyuruhku karena ingin berdua saja dengan gadis tak tahu malu itu."


"Baiklah, kalau begitu aku pinjam kunci mobilmu," Maura mengalah


"Kau naik taksi, aku tidak mau berbagi mobil denganmu!!"


Tanpa menjawab atau menyela perkataan Dave, Maura segera menggulung rambut panjangnya, ia segera membawa sweater dan payung. Ia menutup pintu dengan sangat kencang hingga membuat Becca terlonjak kaget.


Maura berjalan memasuki lift untuk menuju lantai 1, tampak semua mata memandangnya karena di udara sedingin ini Maura tampak memakai piyama dan sweater tipis. Gadis itu tidak mempedulikan itu, ia segera berjalan cepat untuk mencegat taksi.


Maura melihat sebuah gedung di sebrang taman, ia berlari menuju gedung itu untuk berteduh setidaknya sampai petir mereda. Ia berlari sekencang mungkin, hingga ia tidak menyadari ada mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Pengemudi mobil itu tampak terkejut melihat seseorang menyebrang dengan tiba-tiba, ia segera menginjak rem dengan sangat cepat.


Maura tampak kaget ketika suara rem mobil berdecit, tubuhnya bergetar karena ketakutan yang sangat hebat. Ia segera melepaskan payungnya, ia berjongkok mencoba mengendalikan dirinya yang sedang dilanda serangan panik.


"Nona, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang pria yang ikut berjongkok dan memegang tangan Maura.


Maura menangis sejadi-jadinya, air mata yang ia tahan sedari tadi tumpah begitu saja tanpa bisa ia kendalikan.


"Nona? Kau baik-baik saja kan?" Pria itu tampak panik melihat Maura yang menangis histeris.


Maura menggiggil kedinginan, ia segera menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mari saya antarkan anda pulang!"


"Aku tidak mau pulang," Maura berkata sambil menggigil kedinginan.


"Ayo masuklah ke mobil saya, Nona! Anda bisa mati kedinginan, tenang saja saya orang baik!" Pria itu meyakinkan Maura, ia membimbing Maura untuk masuk ke dalam mobilnya.


***


Petir di luar tampak menyambar-nyambar, Dave melihat ke jendela, hujan turun dengan sangat deras. Ia begitu mengkhawatirkan Maura, apalagi ia tahu Maura sangat takut dengan petir.


"Dave, duduklah! Nona Maura tidak akan apa-apa," Becca menenangkan. Ia seakan tahu apa yang dipikirkan pria itu.


Becca segera membukakan sarapan yang ia bawa, tampak isinya Omelet dengan lelehan keju yang sempurna. Dave jadi teringat dengan Omelet buatan Maura yang ia banting.


"Kau saja makan duluan, aku tidak lapar!!" Ketus Dave tanpa melihat wajah gadis yang ada di hadapannya.


"Ayo makanlah, kau bisa sakit!" Bujuk Becca tanpa menyerah.


"Jangan paksa aku, aku tidak suka dipaksa!!"


Denfan cepat, Dave mengambil mantel dan syal miliknya, lalu Dave menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.


"Kau mau kemana, Dave? Diluar hujan, duduklah nanti kau bisa sakit!" Becca tampak mencegah Dave pergi.


"Bukan urusanmu!"


Saat sudah diparkiran apartemen, ia segera melajukan mobilnya mencari-cari Maura. Ia begitu khawatir dengan gadis itu, pikirannya memerintahkan dirinya untuk kembali ke apartemen. Namun tidak dengan hatinya, ia harus menemukan Maura. Dave hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada hal yang terjadi pada gadis yang sudah menjadi isterinya itu.


Saat melewati Taman Pont Alexandre lll, ia melihat Maura sedang berjongkok dengan pakaian basah kuyup. Terlihat seorang lelaki muda yang membimbingnya masuk ke dalam mobil. Dave tidak bisa memastikan siapa laki-laki itu, ia tidak begitu melihat dengan jelas wajah pria itu karena kondisi hujan yang sangat lebat.


Dave tampak murka melihat pemandangan di hadapannya, ia mencengkram setir dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Kau memang istri tidak tahu diuntung, Maura!"


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2