
Berjalan mengendap-endap, berharap sang pemilik rumah tidak berada di sana atau sudah tertidur. Nesya sudah menduga jika Fariz pasti akan marah besar, apalagi Nesya pergi tanpa seizin suaminya. Gadis itu bernafas lega, saat sudah berada di dalam kamarnya. Tanpa dia sadari, bahwa sosok yang dihindari itu tengah duduk di tempat tidur Nesya seraya memperhatikan gerak-geriknya.
“Huh selamat... Pasti si setan garang itu nggak ada di rumah!” dengan santainya gadis itu membuka pakaiannya lalu melemparnya sembarangan, tanpa tahu jika seragam bau peluh itu mendarat di wajah Fariz.
“Nesya Latisha...” suara lembut namun menyeramkan membuat bulu kuduk Nesya berdiri.
Nesya menggigit bibir bawahnya, menoleh secara perlahan, matanya terbelalak melihat Fariz sudah berdiri di belakangnya.
Tangannya berusaha meraih apapun agar bisa menutupi tubuhnya yang hanya terbungkus tank top, namun Fariz menahannya. Nesya menelan ludah kasar, saat Fariz menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sudah puas keluyuran?” tangan kekar itu mengelus rambut Nesya, membuat gadis itu semakin takut.
“Kenapa diam?” merasa tak mendapat jawaban, Fariz mengangkat dagu Nesya yang sedari tadi hanya menunduk.
“M-maaf.” Nesya memalingkan wajahnya, dia tak sanggup melihat tatapan mengerikan yang seakan menembus paru-parunya.
“Katakan dari mana kamu?” lelaki itu menggendong Nesya kemudian melemparnya ke ranjang.
“Aku.. Aku tadi mengerjakan tugas,” Nesya memundurkan tubuhnya, perasaannya semakin gelisah saat Fariz merangkak ke tempat tidur.
__ADS_1
“Tugas apa?”
Nesya tak berani menjawab, dilihatnya Fariz sedang mencari sesuatu di ponselnya, lagi-lagi Nesya terkejut saat Fariz menunjukkan foto dirinya bersama Fabian.
“Tugas seperti ini hah?” bentak Fariz kemudian menarik kaki Nesya sehingga gadis itu terlentang.
“Kak, jangan!” Nesya berontak, saat Fariz hendak membuka paksa pakaiannya.
“Kenapa? Aku ini suamimu! Aku menyekolahkanmu karena aku tidak mau memiliki istri bodoh sepertimu! Tapi apa yang kamu lakukan hah? Kamu pasti sengaja merayu putra bungsu keluarga Darmawan agar kamu bisa memanfaatkan kekayaannya!” Fariz tampak sangat murka, dia melumaat bahkan menggigit bibir Nesya dengan kasar.
“Kak hentikan! Aku lagi datang bulan!!” teriak Nesya membuat Fariz menghentikan aksinya.
“Tidak!”
Fariz mengumpat, ia menatap Nesya yang masih ketakutan karena aksinya tadi yang terkesan brutal. Dengan terpaksa dia memakai kausnya kembali, namun dia tidak melepaskan Nesya begitu saja. Gagal mendapat kenikmatan berkedok penyiksaan, Fariz menarik tangan Nesya dan membawanya ke suatu tempat.
“Itu hukuman buatmu!” menghempaskan tubuh mungil itu ke dalam gudang, Fariz mengunci pintunya dari luar.
“Kakak! Buka pintunya!!” Nesya menjerit ketakutan, bagaimana bisa dia akan melewati malam di gudang yang gelap dan kotor itu. Bahkan tampak beberapa tikus yang berkeliaran ke sana kemari.
__ADS_1
Dengan sisa-sisa tenaganya, Nesya terus berteriak, tangannya pun tak henti-hentinya memukul pintu tak bersalah itu. Tubuhnya menggigil karena hanya memakai pakaian tipis.
Sementara Fariz, lelaki itu malah asik memainkan ponselnya tanpa memedulikan tangis pilu Nesya yang memecah kesunyian malam itu.
“Kakak... Buka pintunya!” tubuh Nesya merosot ke lantai, tangannya memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di sana. Nesya benar-benar ketakutan, hatinya seakan disayat-sayat, sebegitu bencinya Fariz terhadap dirinya.
“Kak Abi... Nesya nggak kuat,” lirihnya, matanya melihat cermin yang sudah lusuh, otaknya mulai tidak bisa berpikir jernih.
PRANG
Fariz yang belum tidur pun tersentak mendengar suara barang jatuh dari arah gudang. Lelaki itu berlari terbirit-birit, jantungnya berpacu sangat cepat, melihat Nesya sudah tak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir di tangannya.
“Gadis sialan! Kamu nggak boleh mati, aku belum puas menyiksamu!!” Fariz mengangkat tubuh Nesya, saat sudah berada di dalam mobil, Fariz baru sadar jika istrinya hanya mengenakan rok beserta tank top sehingga memperlihatkan lehernya yang dipenuhi mahakaryanya.
Like
Komen
__ADS_1