Pernikahan Karena Dendam

Pernikahan Karena Dendam
Bab 32


__ADS_3

“Apa kakak akan pergi?” Nesya bertanya pada Radit yang sudah hendak keluar dari rumah itu.


“Iya, aku akan mengatakan pada Tuan kalau aku tidak bis menemukanmu.” Radit tersenyum kecut, dia sudah membayangkan dirinya akan menjadi samsak hidup saat sudah berhadapan dengan Fariz.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kamu tidak rela membantuku?” Nesya melotot tajam seraya berkacak pinggang, Radit pun semakin kesal, apa mungkin karena hidup berdampingan dengan Fariz membuat Nesya menyebalkan seperti ini.


“Tapi...” raut wajah Nesya mendadak sedih, dengan bibir yang ditekuk, gadis itu ragu untuk mengutarakan maksudnya.


“Apa?” lelaki tampan itu mengangkat sebelah alisnya, meski jujur dia sudah lelah menghadapi Nesya yang sedari tadi menyusahkannya.


“Bisakah kakak tinggal di sini?? Aku takut jika berada di rumah sendirian, dan kenapa kakak membuat rumah di hutan begini?” Nesya menatap sekeliling, di mana hanya ada pohon besar yang menjulang tinggi.


“Hah? Tidak bisa Nesya. Apa kata orang-orang kalau kita tinggal satu atap tanpa ada ikatan yang jelas.”


“Lalu bagaimana dengan seorang pembantu yang tinggal bersama majikannya?? Anggap saja kakak adalah pembantu Nesya,” ucap Nesya polos seraya nyengir tanpa dosa.

__ADS_1


“Terserah, tapi jawabanku masih sama.” Radit meninggalkan Nesya seorang diri dengan sebuah ancaman agar Nesya tidak kabur lagi.


-


-


-


“Apa-apaan!! Kenapa hanya mencari seorang bocah belasan tahun aja tidak becus!!” sebuah pukulan bertubi-tubi dilayangkan oleh Fariz kepada lelaki baik hati dan budiman itu, Radit hanya bisa pasrah meski dia kesal karena wajah tampan yang katanya mirip Oppa Korea itu babak belur karena ulah bosnya.


“Arrrghh!! Cari sampai dapat! Jangan kembali sebelum kau menemukannya!” titahnya seraya menendang kursi ke sembarang arah, Fariz sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada calon anaknya.


“Baik Bos, saya permisi.” Radit keluar dari rumah Fariz dengan penuh kekesalan, namun saat berada di ambang pintu, dia melihat wanita yang pernah menjadi kekasihnya berdiri di sana sambil memalingkan wajahnya.


Selepas dari rumah Fariz, Radit pergi ke apartemen miliknya, pikirannya kembali tertuju pada wanita cantik yang ditemuinya tadi, hal ini menandakan bahwa rumah tangga bosnya semakin runyam. Memasuki kamar dengan dinding berwarna gelap, Radit mulai mengobati luka di sekujur tubuhnya. Matanya menatap langit di luar sana yang terlihat mendung, kilatan cahaya serta guntur saling bersahutan menandakan sebentar lagi akan turun hujan.

__ADS_1


JDERRR


Radit tersentak sambil mengusap dadanya, beberapa saat kemudian, dia teringat dengan seseorang. Ya, gadis kecil yang dia tinggalkan sendiri di rumahnya, perasaannya mulai tak karuan, meskipun terkesan tak peduli, namun Radit tahu jika Nesya takut gelap dan suara petir yang menggelegar.


Sementara itu, Nesya sedari tadi sudah panik sambil berteriak histeris, seperti deja vu, rumah itu tampak gelap gulita, listrik tiba-tiba padam, tanpa adanya lilin ataupun senter membuat gadis itu hanya bisa meringkuk di bawah selimut sambil menangis sesenggukan.


“Nesya!!” suara bariton terdengar memecah keheningan di rumah itu, Nesya hafal suara tersebut, dia langsung membuka selimut, matanya membulat melihat sosok tegap dengan pakaian serba putih sedang mendekatinya.


“Aaaa!!!” Nesya berteriak sekencangnya membuat sosok yang ternyata adalah Radit itu terkejut, dia menoleh ke belakangnya saat tangan Nesya terus menunjuk ke arahnya. Ia memegang tengkuk lehernya, apa mungkin ada makhluk tak kasat mata di belakangnya?


“Tenanglah, ini aku!” Radit mendekap tubuh mungil yang sedang gemetar itu.


“Kak Radit?” Nesya bernafas lega, dia langsung memeluk tubuh kekar itu dengan erat, seakan takut jika nanti dia meninggalkannya. Sedangkan Radit, pria itu benar-benar seperti sedang melakukan senam jantung, dia takut jika nanti tiba-tiba seseorang masuk ke kamar itu dan melihatnya berpelukan dengan Nesya.


Like

__ADS_1


Komen


__ADS_2