
Mata Nesya membola, dilihatnya manusia menyebalkan yang selalu menyiksanya, hampir saja Nesya terpana akan pesona Fariz yang bertambah berkali-kali lipat dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
“Masuk!!” titahnya namun Nesya bergeming, dia malah duduk dan mengusap lututnya yang terluka membuat Fariz meradang.
“Apa? Mau nampar aku lagi?” Nesya mendongak, menatap lelaki yang berdiri di depannya.
“Aku bisa masuk sendiri!” ucap Nesya ketus seraya menghempaskan tangan Fariz, namun sebelum dia memasuki mobil, kaki mungilnya menendang kuda jingkrak kesayangan Fariz.
“NESYA..!!” emosi Fariz meluap, melihat bagian mobil yang ditendang Nesya menjadi lecet dan sedikit penyok.
Nesya tersenyum puas, “Aku tidak takut mati, karena aku sudah siap mental dari jauh-jauh hari,” ucapnya lagi membuat Fariz yang sudah duduk di sebelahnya menatapnya tajam.
Sudut bibirnya terangkat, “baiklah jika itu maumu, berarti aku bebas bisa menyiksa kakak kesayanganmu.”
__ADS_1
“Jangan berani menyakiti kakakku, sialan!” Nesya berang, rasanya ingin memberikan racun sianida pada manusia yang berstatus suaminya, baginya lebih baik dia menjadi janda muda, lagi pula masih banyak peluang untuk menikah lagi, pikirnya.
“Bisa saja, semua tergantung dirimu, jika kamu penurut, maka kakakmu aman,” mulai menjalankan mobilnya, suasana kembali hening.
Nesya memikirkan ucapan Fariz, terlintas wajah damai Abi yang selalu tersenyum bagaimanapun keadaannya, gadis itu tidak mau jika nanti Abi yang kena batunya akibat ulahnya. Terlalu fokus pada pemikirannya hingga Nesya tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di rumah, Ia tersentak saat Fariz menariknya keluar dari mobil.
“Lepas!” Nesya memukul tangan Fariz dan berusaha mensejajarkan langkahnya, namun Fariz tidak peduli, dia terus menarik Nesya dan berjalan dengan langkah besarnya.
Nesya mengaduh, saat kakinya malah tersandung dan berakhir jatuh di teras rumahnya. Luka yang sudah mengering di lututnya kembali berdarah karena berbenturan dengan lantai. Seperti bermain perosotan versi penyiksaan, tubuh Nesya yang masih terduduk ditarik oleh Fariz.
Sementara Fariz, antara ingin tertawa atau marah mendengar celotehan Nesya, melemparkan kotak obat ke wajah Nesya, Fariz berlalu meninggalkan gadis itu seorang diri.
Beberapa saat kemudian, Fariz kembali dan mendapati Nesya tengah memakan roti, Fariz tidak melarang, dia menyerahkan ponselnya yang sudah terhubung dengan seseorang pada Nesya, “kejutan!!”
__ADS_1
Tubuh Nesya meremang, bahkan roti yang ia telan rasanya tidak bisa melanjutkan rutenya dari kerongkongan menuju lambung. "Kakak..!!!” teriaknya, melihat Abi tengah berdiri dengan tangan serta leher yang terikat, berdiri di atas tumpukan kayu bakar, tangan gadis itu melempar ponsel merek apel gigit itu pada pemiliknya.
“Dasar kau setan! Apa yang kamu lakukan pada kakakku hah? Apa kamu mau membuat Abi panggang??” Nesya tampak berapi-api, tangannya memukul Fariz yang masih terdiam dengan seringai liciknya. Namun beberapa saat kemudian dia tergelak.
“Nyalakan apinya!” sebuah perintah yang ditujukan pada beberapa orang di seberang sana, Nesya mulai panik, dia meminta agar mereka tidak menyakiti Abi.
“Kamu punya dua pilihan, menjadi penurut atau kehilangan kakakmu.”
“Jangan Nesya, kakak tidak apa-apa!” samar-samar Abi mendengar penawaran Fariz, lelaki itu berteriak, berharap Nesya tidak menuruti kemauan Fariz.
“Baiklah aku akan menurut! Tapi jangan pernah ganggu kak Abi!” Nesya tak tega menyaksikan Abi yang berdiri di tengah kobaran api.
“Bagus! Kalian lepaskan dia!”
__ADS_1
Lanjut??